Review
Di dalam dunia komik yang bergerak cepat dan selalu memiliki tim kreatif yang berubah-ubah konsistensi adalah hal yang jarang bisa didapat. Itulah sebabnya duet penulis – artis yang bisa bertahan dalam waktu lama selalu mendapatkan perhatian lebih dariku. Salah satu contohnya dulu adalah Brian Michael Bendis – Mark Bagley yang membuat Ultimate Spider-man dan Mark Millar – Steve McNiven yang membuat The Ultimates. Nah sepertinya tandem Joss Whedon – John Cassaday bakalan masuk dalam list ini dalam run mereka yang luar biasa di Astonishing X-Men.
Astonishing X-Men: Torn melanjutkan lagi kisah dari Dangerous. Setelah selesai mengurus musuh yang tak disangka-sangka dalam bentuk Danger Room yang memperoleh ‘kehidupan’ AI maka X-Men harus berhadapan kembali dengan musuh lama yang sering menganggu mereka: Hellfire Club. Kalian yang menonton film X-Men: First Class mungkin familiar dengan grup yang didirikan oleh Sebastian Shaw ini. Dan seperti filmnya juga sejarah dari Emma Frost adalah anggota dari Hellfire Club yang berposisi sebagai White Queen. Ini adalah alasan kenapa Frost sering disalahpahami dan tak seratus persen dipercayai oleh teammatenya.
Dan di sini Whedon menaikkan pertaruhan itu. Sepanjang kisah Torn ini kita dibuat bertanya-tanya mengenai loyalitas dari Emma. Apakah ia memang benar-benar sudah bertobat dari karirnya sebagai villain ataukah ia selama ini hanya masuk menyusup ke dalam grup X-Men, menanti agar grup ini mempercayainya, hanya untuk menikam dan menghancurkan mereka dari dalam? Setiap halaman akan membalik asumsi kita dari A ke B layaknya pendulum yang terus berayun. Satu lagi bukti bagaimana Whedon tahu benar mempermainkan perasaan pembaca melalui kata-kata dan dialognya.
Bicara soal mindfuck dalam komik ini kalian bisa mengekspektasikan banyak aspek ini tergali. Ini membuat Torn lebih sulit diikuti ketimbang dua story arc sebelumnya. Bila Gifted dan Danger bisa diikuti dengan pengetahuan minim mengenai anggota X-Men maka Torn meminta pembaca untuk setidaknya tahu cukup mendalam mengenai sejarah para X-Men supaya kisah-kisah emosional yang ada terasa lebih menohok. Ambil contoh hubungan cinta segitiga yang tidak lazim antara Emma Frost, Cyclops, dan Jean Grey (jelas tidak lazim karena yang satu sudah jadi mayat) hubungan ini akan digali cukup dalam di story arc kali ini sehingga kalau kalian tidak tahu sejarahnya maka mungkin gregetnya takkan terlalu terasa.
Whedon juga menunjukkan selera humornya di komik ini. Berkali-kali saya membaca komik ini dan terbahak-bahak dengan interaksi antara Hisako dan Wolverine maupun Colossus dan Kitty. Bagaimana Whedon sanggup menyeimbangkan konflik karakter dan elemen-elemen cerita aksi yang lebih seru merupakan alasan kenapa Torn – walau lebih sulit diikuti ketimbang dua story arc sebelumnya – tetap kisah X-Men yang sangat user-friendly bagi pembaca X-Men baru. Toh dengan beberapa hint-hint yang sudah disebar oleh Joss Whedon sepanjang kisah-kisah sebelumnya kalian mungkin sudah bisa meraba-raba sejarah para anggota X-Men ini.
Sekali lagi John Cassaday membuktikan dirinya adalah orang yang tepat untuk menggambar komik ini. Sulit membayangkan ekspresi-ekspresi facial setiap karakter tanpanya, terlebih untuk story arc yang sangat memainkan emosi dan ekspresi setiap karakternya. Lihat bagaimana Cassaday bisa mengangkat sisi buas dari The Beast dan sisi jinak dari Wolverine. Dan bicara lagi soal Wolverine, sisi jinaknya akan membuat kamu ngakak. Seriously it’s so fucking funny. Saya senang bahwa baik Whedon dan Cassaday sepertinya bersenang-senang sambil menggarap proyek ini.
So my verdict is… terlepas dari sedikit kekurangannya hampir tidak mungkin meletakkan Torn sekali membacanya. Apalagi dengan ending cliffhanger yang sudah disiapkan oleh Whedon di penghujung kisahnya. Mengingat story arc berikutnya merupakan story arc terakhir duet ini tentunya kita bisa mengharapkan sebuah penutup yang luar biasa bukan?
Score: 8.5














