Kalau ada satu hal dalam bidang entertainment di mana Indonesia diberkati, itu pasti datang dalam bentuk grup lawaknya. Grup lawak Indonesia seakan tidak ada habis-habisnya. Mati satu dan tumbuh seribu. Di jaman nenek moyang – eh ayah ibuku tenar eranya Warkop. Setelah Warkop mulai pudar pamornya berganti muncul Bagito, Patrio, Srimulat dan Project Pop. Project Pop ini termasuk grup lawak unik yang hingga kini masih tetap saja eksis. Biasa terkenal melalui lagu-lagunya, kini Project Pop mencoba peruntungan mereka dalam dunia film melalui Laskar Pemimpi, film yang judulnya memparodikan Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, tapi isinya lebih dekat ke trilogi Merah Putih.
Film ini mengambil setting pada tahun 1948 dan 1949 saat Agresi Militer kedua Belanda terjadi. Belanda yang masuk kembali ke Indonesia setelah Perang Dunia II usai membonceng nama KNIL dan merebut kota Jogjakarta. Beberapa penduduk yang melarikan diri kemudian bergabung dalam pasukan gerilya Indonesia yang berada dekat desa Panjen. Saat beberapa wanita dalam grup tersebut disandera oleh KNIL para pasukan ‘pecundang’ ini kemudian meneguhkan hati dan menerobos kawasan musuh demi menyelamatkan para tawanan. Di sisi lain, tentara Indonesia juga bersatu padu menyiapkan “Serangan Oemoem 1 Maret 1949” di bawah pimpinan Letkol Soeharto.
Penulis merangkap sutradara Monty Tiwa kelihatannya tidak seratus persen mendominasi penulisan skrip di sini. Saya memang tidak pernah mengikuti grup Project Pop (atau entertainment Indonesia pada umumnya) tapi rasanya saya masih bisa melihat satu dua joke khas dari awak-awak di Project Pop yang ditampilkan di sini. Mungkin Monty Tiwa memberikan kebebasan mereka berekspresi, sesuatu yang saya syukuri karena anggota-anggota Project Pop memang punya selera humor yang bagus. Humor yang mereka tawarkan penonton bervariasi mulai dari gerakan-gerakan slapstick dan tingkah yang aneh, permainan kata-kata, sampai humor sindiran yang penuh ironi. Semua anggota Project Pop yang ambil bagian di sini diberi kesempatan untuk bersinar walaupun apresiasi lebih harus saya berikan kepada Oon yang memerankan tokoh Once. Di luar anggota Project Pop saya juga acung jempol kepada Dwi Sasono yang tampil sebagai scene stealer penghadir tawa.
Mengingat ini sebuah film dalam genre komedi musikal maka selain parodi disajikan pula tembang-tembang anyar Project Pop. Lagu yang mereka bawakan khas Project Pop, lagu-lagu ngepop dengan lirik-lirik lucu (yang sayangnya kurang bisa terdengar gara-gara sound system bioskop yang kurang memadai). Mereka yang mengerti bahasa Jawa pasti bisa menangkap lebih dalam lagi arti dari lagu-lagunya. Favoritku? Ndableg alias keras kepala.
So my verdict is… sebenarnya Laskar Pemimpi bukannya tanpa kelemahan. Beberapa humornya tidak bisa saya tangkap dan entah kenapa saya merasa bahwa film ini bisa lebih efektif dan menohok bila diberi penekanan lebih pada porsi dramanya (which are the part that actually impressed me the most). Tapi setidaknya melalui film ini Project Pop dan Monty Tiwa memberiku kesempatan untuk mencari arti patriotisme di balik sebuah tawa.
Score: B-
Movie Details
Director: Monty Tiwa
Cast: Dwi Sasono, Shanty, Project Pop
Running Time: 95 Minutes









