Ada dua detektif (atau penegak keadilan) yang sangat saya cintai di Nintendo DS saya. Yang satu adalah sang Ace Attorney: Phoenix Wright dan yang kedua adalah si Professor Puzzle: Professor Layton. Professor Layton berbeda dengan karakter-karakter detektif anime yang kita kenal selama ini seperti Conan atau Kindaichi sebab ia tidak berasal dari Jepang. Ia adalah seorang gentlemen sejati dari Inggris! Setelah trilogi pertama Layton meraih kesuksesan luar biasa (telah terjual dan dimainkan sampai 7.2 juta orang), trilogi keduanya pun dimulai oleh developer Level-5. Bedanya trilogi kedua dan pertamanya adalah, trilogi kedua ini justru bersifat sebagai prekuel dari trilogi pertamanya (anggap saja seperti Star Wars Episode 1 – 3 yang justru dirilis belakangan).
Game pertama yang mengawali trilogi kedua tersebut adalah Professor Layton and the Spectral’s Flute. Nah, Professor Layton and the Eternal Diva ini mengambil setting setelah Spectral’s Flute tetapi sebelum trilogi pertamanya; sebutlah sebagai interquel yang berdiri sendiri. Sebelum membaca lebih lanjut, perlu pembaca ketahui bahwa di Amerika sendiri baru dua game Professor Layton yang dirilis (yang ketiga akan dirilis akhir tahun ini) sehingga film Eternal Diva yang bersangkutan (sedikit) dengan Spectral’s Flute bisa jadi bersifat spoiler buat gamer yang sensitif. Be warned.
Professor Layton dan murid nomer satunya Luke mendapatkan sebuah surat dari kenalan lama Layton: Jenis Quatlane untuk menyelidiki misteri mengenai kehidupan abadi. Saat Layton dan Luke menghadiri konser opera dari Jenis, konser tersebut berakhir dengan sebuah sayembara tantangan. Bahwa siapapun yang berhasil memecahkan puzzle dalam survival battle akan mendapatkan penghargaan kehidupan abadi itu. Apakah memang benar ada yang namanya kehidupan abadi? Bisakah Layton dan Luke memecahkan misteri ini?
Seperti yang saya katakan di atas, semenjak film ini bersetting sesudah game keempat (yang berarti dua game setelah yang kebanyakan gamer mainkan) maka ada beberapa karakter baru dalam game ini yang tidak kalian kenali. Satu karakter yang cukup berperan penting di sini dan gamer belum kenali adalah Remi Altava, asisten pertama Layton sebelum Luke. Seorang gadis yang cerdas dan tangguh, Remi adalah tandem yang cocok bagi Layton.
Salah satu tantangan terbesar dalam film adaptasi dari game adalah kemampuannya mentranslasikan sisi interaktif menjadi sisi pasif yang tetap bisa dinikmati penonton. Dalam segi itu saya rasa Level-5 telah berhasil. Tentu saja film ini tidak bisa berisi ratusan puzzle seperti yang ada di gamenya, tetapi beberapa puzzle yang ada berhasil diintegrasikan dalam cerita. Saya tadinya khawatir Level-5 bakalan mengambil cara ala Detektif Conan mengajukan puzzle di mana Dokter Agasa mendadak melantur dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan garing. Beruntung saja kekhawatiran saya itu tidak beralasan.
Lantas Level-5 tidak hanya mempertahankan tradisi Layton dalam sisi cerita saja melainkan juga dari sisi artistiknya. Studio film yang diserahkan menggarap film ini adalah studio film yang sama yang membuat cutscene dalam gamenya. Saya bersyukur untuk itu karena aspek visual dunia Professor Layton yang adalah perbatasan antara fantasi dan realitas merupakan daya tarik utamanya. Beberapa CG pun dimasukkan tetapi membaur dengan indah bersama goresan tangan animasi 2Dnya. Terakhir adalah musik-musik dalam film ini juga pastinya familiar di telinga para gamer.
So my verdict is… walaupun ada beberapa karakter baru yang belum kalian kenal dan plot twist yang sedikit dipaksakan pada akhirnya, Professor Layton and the Eternal Diva masih bisa menohok baik logika maupun perasaan penontonnya. Sebuah film yang harus ditonton setiap penggemar game cendekiawan satu ini.
Score: B+
Movie Details
Director: Masakazu Hashimoto
Cast: Maki Horikita, Yo Oizumi, Nana Mizuki
Running Time: 99 Minutes










