“And as the years go by, our friendship will never die”
- Randy Newman, You’ve Got A Friend In Me
Toy Story yang pertama dan kedua akan selalu masuk dalam jajaran animasi favorit saya sepanjang masa. Keduanya memberi penonton sebuah kisah tentang persahabatan, kesetiaan, dan impian masa kanak-kanak yang sempurna. Tapi sebagaimana kehidupan, masa kanak-kanak pun tak bisa berlangsung selamanya. Sebelas tahun setelah Toy Story 2, Woody, Buzz, dan kawan-kawannya kembali lagi. Hanya ada dua franchise animasi selain Toy Story yang menginjak angka 3 di layar lebar; Ice Age dan Shrek (si ogre hijau malah sudah menginjak angka 4) tetapi kedua franchise itu terus menurun dari segi kualitas. Lantas bagaimana dengan Toy Story? Perlukah saya sebenarnya mereviewnya? Ini Pixar bung! Studio film yang tidak pernah bikin film jelek (Cars is mediocre, but not bad).
Ada bagian cerita dalam Toy Story 3 yang bisa dibilang merupakan pengulangan tidak langsung dari Toy Story 2. Ingat kisah di mana Jessie terbuang saat Emily menjadi dewasa? Kali ini Andy juga telah tumbuh dewasa dan akan berangkat ke universitas. Bahkan sudah lama sekali sejak dia bermain kembali dengan Woody dan kawan-kawan. Para mainan itu bisa mengerti: Andy bukan lagi anak-anak, dan mereka menerima nasib untuk disimpan dalam gudang. Karena, toh, nasib itu masih lebih baik ketimbang mereka terpencar-pencar karena disumbangkan sana-sini sebagaimana beberapa kolega mereka. Akan tetapi karena sebuah kesalahpahaman, ibu Andy justru mengirimkan box mainan (minus Woody) ke tempat penitipan anak Sunnydale.
Woody mengejar para teman-temannya dan meminta mereka kembali. Sial baginya, para mainan lain salah paham dan keburu sakit hati dengan perlakuan Andy sekaligus merasa sudah saatnya mereka dimainkan oleh anak lain, apalagi karena Sunnydale tampaknya begitu menyenangkan. Kebahagiaan itu, sayangnya, hanya kesemuan semata. Sebenarnya Sunnydale dikuasai oleh geng mainan jahat yang dipimpin oleh Lotso si beruang ‘tukang peluk’ beraroma stroberi. Bisakah para mainan Andy meloloskan diri dari tempat itu? Akan tetapi dengan Andy sudah melupakan para mainan, masih bisakah mereka menemukan rumah?
Saya ingat masih berumur 10 tahun ketika Toy Story pertama dirilis. Sudah 15 tahun berlalu sehingga karakter Woody, Buzz, Mr dan Mrs Potato, Rex, dan lain-lain sudah tumbuh layaknya bagian keluarga di hatiku ketika Toy Story 3 dirilis. Dan Pixar sungguh mengambil momentum dari rasa nostalgia itu. Seperti yang saya bilang tadi, ada sedikit aroma pengulangan Toy Story 2 di kisah ini, tetapi efek emosi yang dihasilkan sangat berbeda. Melihat Woody dan Buzz perlahan tapi pasti dilupakan oleh Andy membuat hatiku sakit walau sudah tahu bahwa Jessie diperlakukan sama oleh Emily di flashback Toy Story 2.
Pixar sepertinya juga tahu benar bahwa tidak semua penonton film ini adalah anak-anak (saya rasa malahan banyak yang remaja atau dewasa mengajak anak-anak mereka menonton karena anak-anak jaman sekarang belum lahir saat Toy Story pertama dirilis) dan itu direpresentasikan dalam ceritanya yang dark. Walaupun ada banyak humor lucu, beberapa cerdas beberapa lagi slapstick, yang bikin saya tertawa terbahak-bahak sepanjang film (franchise ini telah diberkati dengan segudang karakter yang memorable) tapi banyak sekali adegan yang ‘gelap’. (MINOR SPOILER) Satu adegan mendekati klimaks film terutama hampir-hampir bersentuhan dengan kematian; sesuatu yang belakangan ini seakan jadi hal tabu dalam dunia animasi selain disebut sambil lalu. Salut untuk Pixar yang sekali lagi tidak takut mendobrak tradisi.
So my verdict is… bagaimana dalamnya kamu mengapresiasi film Toy Story 3 tergantung dari sudah belumkah kamu menonton kedua prekuelnya? Tanpa menonton kedua film pertamanya, film ini masih merupakan sebuah film animasi berkualitas tinggi baik dari segi visual (Pixar tidak mengeksploitasi aspek 3D) dan ceritanya, akan tetapi bila kamu sudah menonton kedua prekuelnya dan membiarkan karakter-karakter dalam franchise ini tumbuh di hatimu, Toy Story 3 bakalan menjadi penutup yang menguras emosi untuk trilogi sempurna para mainan favorit kita. Saya rangkum begini: Begitu emosionalnya sepuluh menit terakhir, saya sampai harus mati-matian menahan air mataku tidak tumpah. Tapi duduk di kananku adalah seorang bapak-bapak berusia 30an tahun berlinangan air mata sementara duduk di samping kiriku seorang gadis kecil tidak sampai 10 tahun juga tengah menangis. So I say “Screw it” dan ikut sesunggukan tanpa malu lagi.
Note: Ada cameo mainan Totoro dari Studio Ghibli. Bisakah kalian menemukannya? Dan kalau penasaran lagu You’ve Got A Friend In Me dalam bahasa Spanyol harus nonton film ini.
Score: 9.8
Movie Details
Director: Lee Unkrich
Cast: Tom Hanks, Tim Allen, Joan Cusack, Ned Beatty, Michael Keaton
Running Time: 103 Minutes




















“Cameo mainan Totoro”
UDAH LIAT, UDAH LIAT, UDAH LIAT! Ada di promo Youtube juga! – http://www.youtube.com/watch?v=IXqfS5l27ug XDD
SEMBILAN KOMA DELAPAAANN! Opening di Rotten Tomato 100%! I am sooooo gonna watch it! XD XD XD
Ayo nonton Nin. =)
Sudah nontoooooooonnnn!!!!
Hanjrid, 10 menit terakhir bo, 10 menit terakhiiiirrrrrrrrr! Parah itu. Dari skala 1 sampe 10, gw kasih lima belas dah! *lebay*
Ending terbaik sepanjang masa. The best trilogy ever.
Oh, dan pastinya, “TOTOROOOO!!!! ADA TOTOROOOO!” XD
Iya Nin. Itu final momentsnya… Bikin perasaan terasa campur adukk… =)
10 menit terakhir yg sangat emosional.. walaupun gw belum pernah nonton yg pertama dan yg kedua-pun tetep emosi gw ikut mencair dalam film ini..
tapi bagi yg udah menonton yg pertama dan yg kedua ini merupakan film penuh dengan kenangan masa kanak2 hingga sampai dewasa kini… really good movie..!
kira2 kalau dibandingkan dengan “how to train your dragon” bagusan yg mana ya??…
@whatever…: Wah, mencair. Hehehe. =)
Saya menontonnya dari masih kecil… (lebih kecil dari kamu bahkan whatever saat pertama kali ketemu, atau seumuran mungkin?).
Jadi emosiku pas nonton ya benar-benar campur aduk-duk-duk…
Kubilang sama bagusnya. =) Mungkin buat yang non-nostalgia memenangkan HTTYD, yang nostalgia memenangkan Toy Story 3.
bener tuh…
pas adegan andy nya lagi mikir mau nyerahin Woody apa nggak.. sedih banget,kan itu juga artinya Woody dkk mungkin ga bakal ketemu sama Andy lagi.. untung aja ide cerita ini yang dipilih. daripada ide cerita : Buzz rusak,dibawa ke Taiwan buat di perbaikin,mainan lain ga tau Buzz mau di betulin jadi mereka semua nyusul Buzz. emang lebih bagus ide cerita yang ini !!! >_<
ku pikir tadinya Woody emang mo ninggalin temen2nya dengan ikut Andy,tapi kalo dia ikut Andy,kan jadinya sendirian.
tapi dia itu kan mainan,dia pasti kepengen di mainin,kan dia ngerasa seneng juga pas Bonnie nya mainin dia,dan kalo dia milih ikut Andy,berarti temen2nya bakalan selama2nya tinggal di loteng. mungkin itu salah satu alesan dia milih bareng Bonnie daripada ikut Andy.
Iya. Perasaan gw pas adegan itu benar-benar campur aduk. Kandidat adegan terbaik tahun 2010 ini. =D