Ace Attorney: Trials and Tribulations diluncurkan di Amerika pada Oktober 2007, hanya berselang delapan bulan dari seri keduanya. Ini menjadi bukti bahwa serial Ace Attorney (dan game bergenre text-based adventure) telah menembus pasaran Amerika dengan suksesnya. Saat itu di Jepang, seri keempat Gyakuten Saiban yang menampilkan pengacara baru (more on that in the next review) sudah dirilis sehingga Capcom ingin secepatnya membawa gamer lain di luar negeri up-to-date dengan serial ini. Karena mengejar waktu itulah sekali lagi, seperti Justice for All yang dirilis sebelumnya, Trials and Tribulations tidak memiliki kasus tambahan baru di dalamnya.
Kasus pertama Trials and Tribulations dibuka secara mengejutkan karena berada dalam nuansa flashback. Toh bukan flashbacklah unsur yang paling mengejutkan, tetapi peranmu sebagai Mia Fey sang mentor Phoenix Wright yang terbunuh di awal game pertama dulu. Tidak cukup kaget? Bagaimana bila saya bilang tersangka pembunuhan yang harus kamu bela kali ini adalah Phoenix sendiri! Kasus pertama tersebut kemudian menjadi awal benang merah yang menghubungkan cerita besar game ini. Di sini masa lalu Phoenix dan alasan utamanya menjadi seorang pengacara terungkap.
Dalam Justice for All, kekurangan utama yang saya rasakan adalah tidak adanya gambar besar yang mempersatukan game itu. Keempat kasusnya merupakan sempalan-sempalan terpisah. Itu jugalah alasan kenapa walaupun kasus keempat dalam Justice for All sebenarnya terbaik bila berdiri sendiri, dia masih saya nilai kalah kelas dengan kasus keempat game pertamanya yang merupakan penutup dari rangkaian kasus sebelumnya. Trials and Tribulations berhasil menebus dosa ini dengan menyatukan beberapa plot cerita dari game pertama dan game kedua di sini. Selain masa lalu Phoenix, gamer juga diajak untuk melihat akhir dari kekisruhan dalam keluarga Fey (kasus kedua game kedua). Selamat untuk tim penulis cerita yang berhasil menggabungkan dua jalan cerita tersebut secara meyakinkan.
Prosecutor yang harus dihadapi oleh Phoenix kali ini adalah Godot, yang merupakan step-up dari Franziska von Karma. Walaupun design karakternya nampak ‘aneh’, pembawaannya yang tenang dan usianya yang jelas-jelas lebih tua dari Phoenix menjadikannya lawan yang sepadan bagi sang pengacara. Godot juga memiliki masa lalu misterius yang akan disingkap oleh gamer seiring majunya cerita. Berperan sebagai Mia Fey dan seorang karakter lain (cari tahu sendiri siapa dengan memainkan game ini) juga adalah bonus yang menyenangkan buat gamer. Mengingat ini juga merupakan penutup dari saga panjang keseluruhan trilogi Phoenix, hampir semua karakter-karakter penting dari kedua game sebelumnya turut hadir di sini (yep, including Miles Edgeworth dan Franziska von Karma!).
Dengan begitu banyaknya fokus atensi pada ceritanya, terpaksa sistem gameplay dalam game ini dikorbankan. Gyakuten Saiban 3 sendiri tidak menawarkan tambahan seperti Psyche Lock dalam game keduanya (sayangnya sistem Psyche Lock yang menyebalkan itu masih saja ada). Kalau kamu sudah memainkan dua game sebelumnya, kamu pasti sudah familiar dengan bagaimana cara memainkan game ini. Investigasi dan wawancarai para saksimu, paksa mereka membocorkan rahasia yang mereka ketahui dan temukan barang bukti yang bisa membantu membebaskan klienmu dari tuntutan bersalah. Setelah semua siap, beradu argumentasilah di meja pengadilan. Formula ini mungkin tidak seorisinil game pertamanya lagi, tapi tidak pernah terasa basi walau sudah ada di dua game sebelumnya. Untuk musiknya, serial ketiganya mendapatkan komposer baru Noriyuki Iwadare. Komposer yang karyanya sebelum ini saya kenal lewat seri Grandia mendapatkan apresiasi saya karena berhasil menciptakan score-score baru (Godot’s Theme is among the best prosecutor theme) dan meremix score-score lama sehingga terdengar fresh lagi.
So my verdict is… apabila Justice for All membuatmu menyangka bahwa Phoenix Wright hanya keberuntungan satu game saja, pikir ulang lagi. Trials and Tribulations adalah penutup trilogi yang mampu menyaingi kebesaran game pertamanya.
Final Verdict
Gameplay: 8.5
Seperti selalu, Ace Attorney dipenuhi dengan dialog-dialog yang pintar dan penuh humor serta karakter penuh warna. Trials and Tribulations juga memiliki cerita keseluruhan terbaik di antara ketiga game ini. Kalau kamu suka dengan gameplay dua game sebelumnya, tidak ada alasan kamu tidak suka dengan gameplaynya di sini. Capcom memutuskan untuk berpegang pada formula yang sudah memberi mereka sukses, dan keputusan itu tepat.
Graphic / Sound: 8.5
Karena diport dari game GBA, kualitas grafis Trials and Tribulations tidak berubah banyak dari kedua prekuelnya. Musiknya adalah lain hal karena masuknya Noriyuki Iwadare membawa angin perubahan untuk kualitas yang sempat menurun di game kedua.
Play Time: 9.0
Dalam versi orisinilnya, game ketiganya inilah yang sebenarnya terpanjang karena berisi lima kasus (dua kasus pendek dan tiga kasus biasa). Tambahan satu kasus pendek sebelum kasus terakhirnya menambah waktu permainannya lebih panjang dua jam dibandingkan Gyakuten Saiban pertama (tanpa tambahan bonus kasus kelima) dan kedua.
Overall: 8.8
Game Details
Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Genre: Adventure
















