Ah, film keempat Detektif Conan kali ini sedikit berbeda dengan ketiga film sebelumnya. Dua film pertamanya berfokus kepada kasus pembunuhan sementara film ketiga menyorot duel antara Conan dan Kid. Dalam film keempat ini, fokusnya dialihkan untuk kembali kepada salah satu tokoh utama manganya: Ran Mouri. Saya juga suka dengan suasana film ini yang tidak melulu berusaha memecahkan sebuah kasus pembunuhan, tetapi lebih seperti permainan kucing tikus dalam menebak siapakah sang penembak misterius. Bingung? Baca lebih lanjut reviewku di bawah.
Kepolisian Jepang tengah digemparkan dengan pembunuhan terhadap para anggota kepolisiannya. Salah satu pembunuhan sebenarnya terjadi di depan Conan dan kawan-kawannya, yang sayangnya gagal dihentikan oleh Conan. Inti cerita film ini dimulai ketika sang pembunuh mengincar polisi Miwako. Saat penembakan terjadi, Miwako melindungi Ran dan tertembak. Saat itulah Ran tanpa sengaja melihat wajah sang penembak dalam kegelapan. Lantas melihat tubuh Miwako yang bersimbah darah dan menimpanya membuat Ran histeris. Dalam kehisterisannya itu, otaknya tanpa sengaja memblokir seluruh memorinya; Ran menjadi amnesia dan lupa akan segalanya. Akan siapa dirinya, akan orang tuanya, bahkan akan Conan dan Shinichi. Lebih celakanya lagi, sang pembunuh sepertinya tahu bahwa Ran telah melihat wajahnya dan kini mengincar untuk menghabisi Ran.
Hati saya sedikit mendua akan film ini. Di satu sisi, saya menyukai perubahan tema dan pacing dalam film ini. Seakan mendowngradekan unsur ledakan yang sudah minim di film ketiganya, film keempatnya ini bahkan tidak memiliki unsur ledakan-ledakan sama sekali. Cerita juga tidak melulu berkisar pada bagaimana Conan memecahkan kasus, sebab sutradara Kanetsugu Kodama juga memasukkan unsur drama di dalamnya. Melihat bagaimana orang-orang di sekeliling Ran memberinya perhatian, mulai dari kedua orang tua, Sonoko sahabatnya, hingga para grup detektif kecil memberi kedalaman (walau sedikit) bagi karakter-karakter tersebut. Di sisi lain, Conan mencurigai bahwa sang pembunuh bisa saja berasal dari kubu kepolisian, memberi penonton gambaran lain akan kepolisian Jepang yang ternyata juga tidak seratus persen bersih dan bisa diandalkan.
Sayangnya walaupun dua pertiga film ini sudah tergarap dengan baik, konklusinya entah kenapa dibuat terlalu dangkal. Seusai Conan menyingkap misteri mengenai siapa sang pelaku, mereka kemudian – percaya tidak percaya - berkejar-kejaran di dalam salah satu taman bermain paling ramai di Jepang sambil tembak-tembakan. Oke, ada yang mungkin mau beralasan sang pelaku memakai pistol peredam bunyi, tetapi masa sih seorang yang berlari sana-sini sepanjang taman bermain sambil mengacung dan menodongkan pistol tidak menarik kecurigaan orang? Dan ke mana sekuritas taman bermain tersebut? Kalau polisi datangnya telat mungkin karena macet (saya tahu alasan itu saja sebenarnya sudah terasa mengada-ada tapi saya sudah berusaha tidak terlalu kritis), tapi masa tidak ada sekuritas yang berusaha menolong Conan dan Ran yang dikejar-kejar? Terlalu tidak masuk akalnya adegan ini, ditambah dengan adegan penutupnya yang dipaksakan supaya selaras dengan adegan pembukanya adalah kelemahan terbesar film ini.
So my verdict is… saya sebenarnya sangat menyukai konsep dan cara pembawaan cerita film ini yang cukup berbeda dengan film sebelumnya. Saya senang dengan lokasinya wahana bermain Tropical Land yang seakan kembali pada akar awal serial Conan dimulai, juga bagaimana kepolisian Jepang sedikit disentil imagenya dalam film ini. Memang sepantasnya disayangkan bahwa pembukaan dan tengah yang bagus ini akhirnya dirusak sendiri dengan konklusi yang tergolong bodoh dan tergesa-gesa. Film ini jatuhnya pas-pasan; dibilang jelek tidak, dibilang bagus juga tidak.
Note: Apabila saya tidak keliru dulu dalam film pertamanya Conan menjelaskan bahwa skateboardnya bertenaga surya sehingga tidak bisa digunakan pada waktu malam. Apakah skateboard ini sudah diupgrade Agasa sehingga bisa dipakai di malam hari dalam film ini?
Score: 6.2
Movie Details
Director: Kanetsugu Kodama
Cast: Minami Takayama, Kappei Yamaguchi, Wakana Yamazaki
Running Time: 95 Minutes









February 7th, 2010 at 10:30 pm
Skateboard conan memang bertenaga surya, tapi dia juga bisa menyimpan energi itu untuk digunakan di malam hari, begitu, hanya dalam batas beberapa jam saja.
February 8th, 2010 at 4:19 pm
Wah, masih semangat conan movie marathon neh.. Jangan lupa ntar dilanjut ke Live Actionnya.. hehe..
February 9th, 2010 at 3:14 pm
@WewW: Tetap semangat kok bro. Bergantian sama Ghibli Movie Marathon yang mulai kujalankan lagi juga.
@nezuko: Thank you ya buat penjelasannya. Soalnya di film pertama ada cuplikan di mana matahari terbenam dan skateboard Conan langsung kehabisan daya. Mungkin sekarang dia punya skateboard sudah diupgrade oleh Prof Agasa kali ya?