Marathon film Detective Conan berlanjut! Setelah film pertamanya cukup memuaskanku, saya masuk ke film keduanya dengan ekspektasi tinggi. Pernah dalam review saya di The Raven Chaser saya menyebutkan ada banyak hal yang mustahil di dalamnyasehingga membuat saya antipati dengannya. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, film pertamanya kan juga memiliki banyak adegan aksi yang tidak masuk akal? Lantas kenapa saya bisa jauh lebih menyukainya? Mungkin alasannya adalah make believe. Hampir semua film aksi (lepas dari animasi atau sungguhan) itu eksekusinya mustahil diaplikasikan ke dunia nyata, tapi seberhasil apakah film bisa menjual kemustahilan itu? Film pertamanya saya nilai berhasil, film terakhirnya saya nilai gagal. Bagaimana dengan yang ini?
Plot utama dalam film ini berpusat pada diri ayah Ran: sang detektif tolol Kogoro Mouri. Sebelum menjadi pemabuk dan detektif tidak kompeten yang kita kenal sekarang ini, dulu Kogoro adalah salah satu polisi terbaik di bawah pimpinan Inspektur Megure. Tidak hanya dikenal sebagai orang yang tangkas dalam pertarungan tangan, Kogoro juga penembak terbaik yang dimiliki oleh angkatan kepolisian saat itu. Di masa jayanya, Kogoro pernah memenjarakan seorang penjahat bernama Murakami Jyou. Setelah Murakami bebas dari penjara, orang-orang di sekeliling Mouri diserang oleh sosok misterius: mulai dari Inspektur Megure, Profesor Agasa, sampai istrinya Eri. Bagaimana cara Murakami sebenarnya menyerang korban-korbannya itu? Apakah karena motivasinya membalas dendam kepada Kogoro? Atau mungkinkah sesungguhnya ada orang lain yang merencanakan semua agenda ini?
Perlu saya beritahukan sebelumnya bahwa review saya berikut ini akan mengandung sedikit spoiler.
Lagi-lagi film ini gagal meyakinkan saya, gagal dalam proses make believe. The Fourteenth Target sebenarnya memiliki potensi menjadi film yang menarik karena kasus misterinya cukup berbeda. Setiap korban yang diserang atau dibunuh dalam film ini memiliki angka di dalam huruf kanjinya mulai dari angka 13 sampai ke angka 1. Lebih unik lagi beberapa korban ada yang hanya diserang tetapi beberapa dibunuh secara terang-terangan. Saya terus bertanya-tanya sepanjang film mengenai kenapa kira-kira ini dilakukan si pembunuh. Ketika faktanya terungkap, bukan main kecewanya saya. Sang penjahat dalam film ini memiliki motif pembunuhan yang sangat - sangat absurd. Dari beberapa pembunuhan yang dilakukannya, paling-paling hanya satu yang agak masuk akal. Kalau dilabeli sebagai psikopat yang punya tendensi membunuhpun (seperti Dexter atau Hannibal), film ini tidak berhasil meyakinkanku.
Ledakan yang terjadi di akhir film makin menambah nilai mustahil film ini. Mana ada seorang penjahat (ingat, satu orang dan bukan komplotan plus tidak memiliki pengetahuan memadai mengenai bahan peledak) memiliki pengetahuan memasang begitu banyak bahan peledak dan mengukur secara tepat berapa dan di mana harus meletakkan bahan peledak tersebut supaya bisa merobohkan sebuah gedung raksasa. Bukannya keren saya malah berasa seakan-akan ledakan yang terjadi di akhir film itu seperti dipaksakan masuk supaya filmnya terasa memiliki nilai wah (mungkin sutradaranya bilang: “Hey ini film! Harus ada yang diledakkan!”) dan menegangkan walau sebenarnya yang dijual hanyalah sekedar cheap thrill semata.
Satu-satunya poin yang saya anggap bisa menyelamatkan film ini adalah bagaimana ia menyorot sosok Kogoro secara berbeda. Biasanya kita selalu diperlihatkan sosok Kogoro yang tolol dan tak bisa diandalkan kalau tidak dibius Conan sehingga melihat bagaimana di sini dia menjadi sosok yang lebih bisa diandalkan dan bertanggung jawab mendapat acungan jempol dariku. Saya bahkan sempat sebal dengan Conan yang dua kali mencuri spotlight dari Kogoro dengan membiusnya dan menembak sang penjahat. Saya pasti akan lebih menghargai film ini bila Kogoro diberi kesempatan menyelesaikan misterinya dan membekuk sang penjahat dengan tangannya sendiri.
So my verdict is… The Fourteenth Target adalah sebuah film yang silahkan saja dilompati. Bahkan penggemar berat Detektif Conan saya rasa juga akan menilai misteri dan aksi yang ditawarkan film ini terlalu mengada-ada. Konsep boleh orisinil, tetapi eksekusinya berantakan.
Score: 3.5
Movie Details
Director: Kanetsugu Kodama
Cast: Minami Takayama, Kappei Yamaguchi, Wakana Yamazaki, Akira Kamiya
Running Time: 95 Minutes








