Saya rasa komik karangan dari Mark Millar dan John Romita Jr. bisa membuat banyak komik-komik lain sangat iri. Bagaimana tidak iri coba? Komik setenar Spider-man dan Superman saja harus menunggu sampai puluhan tahun sebelum kisah mereka diadaptasi ke layar lebar, tapi Kick-Ass? Hanya dalam enam edisi dan tidak sampai setahun saja serial indie ini mendapatkan perhatian luar biasa besar dan saat edisi ketujuhnya diluncurkan sudah ada lampu hijau untuk menggarap film layar lebarnya. Bersamaan dengan berakhirnya story arc pertama di edisi kedelapannya, film Kick-Ass sendiri sudah siap kita nikmati di layar lebar pada April 2010. Hanya ada satu kata untuk menggambarkan pencapaian ini: fantastis.
Lantas sebenarnya apa sih yang membuat Kick-Ass begitu ngetop? Demikian ringkasan cerita untuk story arc pertamanya! Dave Lizewski adalah anak normal. Dia bukan anak terpintar di kelas, tapi dia juga bukan yang paling goblok. Dia bukan anak paling populer, tapi juga bukan yang paling suka diejek dan dijadikan olok-olok. Sederhananya, Dave adalah anak yang normal… hampir. Satu-satunya yang berbeda dari Dave adalah daya fantasi dan ngefansnya dengan komik. Dengan setting di dunia nyata dan komik serta film superhero bertebaran di mana-mana, Dave kemudian bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. “Kenapa tidak ada orang yang mau menjadi superhero?”. Berbekal pertanyaan itu, Dave pun mulai menggarap kostum superhero dan nama superhero buatnya sendiri: Kick-Ass.
Tentu saja Dave bukanlah Peter Parker yang memiliki kekuatan laba-laba atau para anggota X-Men yang memiliki mutasi genetic. Ia bahkan tidak memiliki kemampuan bela diri memadai ala Batman atau Nick Fury. Dengan kata lain, bukannya Dave kick ass, ass dia malahan dikick oleh para kriminal yang ada! Toh kegagalan demi kegagalan tidak menyurutkan Dave. Semakin dalam Dave menyelami kehidupan superheronya, ia mulai sadar bahwa ia tidak sendiri dalam urusan gila ini. Ia mulai bertemu dengan dua superhero sungguhan (tapi gila) ayah anak Big Daddy dan Hit Girl. Ia kemudian juga bertemu dengan superhero jadi-jadian lain Red Mist. Bagaimanakah sepak terjang Kick-Ass selanjutnya?
Saya benar-benar menikmati perjalanan Kick-Ass, setidaknya untuk tiga perempat perjalanannya. Melihat bagaimana Dave berusaha menyeimbangkan hidup sehari-harinya yang membosankan dengan kehidupan seorang superhero yang menjadi populer di internet (lucu juga, karena komik ini juga menarik perhatian banyak orang pertama melalui internet) terasa menyenangkan, unik, dan fresh. Walaupun kemampuan Mark Millar menulis dialog-dialog anak SMU masih di bawah Brian Michael Bendis (karena dialog Mark entah bagaimana terlalu banyak mengacu kea rah nuansa emo), setidaknya Mark menutupinya melalui sisi lain kehidupan Dave sebagai Kick-Ass. Di sini Mark yang sudah dari sananya jago menjual kekerasan lewat The Ultimates atau Wanted menunjukkan tajinya. Omongan-omongan Hit Girl dan para gangster yang dihadapi oleh Kick-Ass menunjukkan bagaimana piawainya Millar ketika sudah berada di dunia yang dikuasai olehnya itu. Maksudku begini; kalau saya bilang komik ini mengikutkan seorang anak kecil yang juga seorang pembunuh sadis ditambah suka menghisap kokain supaya fly dalam menghadapi lawan, kalian mungkin mengira saya gila, saya juga merasa bahwa itu gila – sebelum saya melihat bagaimana Millar mengeksekusi konsep itu dengan begitu meyakinkannya hingga saya merasa itu cool dan keren. Kudos buat Millar.
John Romita Jr. juga berperan penting sebagai pencipta artwork komik ini. Saya sebenarnya kurang suka dengan goresan-goresan kasarnya ketika menggambar, tetapi khusus untuk Kick-Ass yang penuh darah dan kekerasan, John Romita Jr. bukan pilihan yang jelek. Apel memang tidak jatuh jauh dari pohonnya, John Romita Sr. sang ayah adalah seorang illustrator terbaik Marvel di jaman 1970an dulu. Ingat gambar Mary Jane klasik? Itu hasil karyanya. Toh, saya beranggapan karya terbaik sang anak tetap di saat ia berkolaborasi dengan Greg Pak dalam serial Hulk. Di sana keberingasan Hulk tergambar sempurna oleh John Romita Jr. Di sini, sang artis (seperti halnya Millar) kurang kompeten dalam menggambar kehidupan kesehari-harian Dave (muka Dave dan kawan-kawannya jadi terlihat aneh).
Terlepas dari kontroversi kekerasan di dalamnya, publik menyukai Kick-Ass. Aplaus dan tepuk tangan panjang terdengar seusai trailer Kick-Ass (saat itu belum memiliki distributor) diputar di Comic-Con 2009. Studio Lionsgate bergerak cepat dan mengambil hak peredaran film ini. Nah sekarang tinggal menantikan filmnya saja. Like it or not, this is a comic that’s gonna kick your ass!
Score: 7.6
Graphic Novel Details
Writer: Mark Millar
Penciller: John Romita Jr.
Publisher: Icon
Volume: 01 - 08









February 13th, 2010 at 9:13 pm
komiknya totally keren, nga sabar baca edisi selanjutnya
dan tentu saja nga sabar liat filmnya