Detective Conan Movie 13: The Raven Chaser

Posted on 07 January 2010 by Si Tukang Review

Detective Conan Movie 13: Raven Chaser Poster

Detective Conan Movie 13: Raven Chaser Poster

Saya masih ingat lelucon yang saya tertawakan bersama dengan teman-temanku dulu. Ketika pertama kali Detektif Conan diterbitkan di Indonesia, saya masih SMP dan merasa kalau Shinichi Kudo yang kelas 2 SMU itu begitu dewasa. Lantas tahun demi tahun demi tahun berlalu. Sesampainya saya di masa kuliah, Detektif Conan sudah terasa aneh karena tidak tamat-tamat. Kini saya sudah lulus kuliah hampir tiga tahun dan serial ini belum juga menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Sudah 15 tahun lamanya Edogawa Conan mengejar-ngejar para kawanan berjubah hitam tersebut. Apa Ran tidak keburu memutus dia karena bosan menanti Shinichi kembali ya (ayo deh, jujur saja, di jaman sekarang mana ada pacar yang mau long distance lama-lama. Boro-boro bertahun-tahun, beberapa hari engga ketemu saja sudah diancam putus?)

Toh, keluhanku juga rasanya tidak ada gunanya karena selama rating dari manganya tetap tinggi, tentunya Aoyama Gosho bakalan terus melanjutkan kisah Conan. Memang kepopuleran dari serial ini di negeri Jepang masih tergolong tinggi sehingga setiap tahun dibuat film layar lebarnya. Khusus untuk film terbarunya yang dijuduli Raven Chaser mendapat perhatian khusus dariku karena berfokus dengan kawanan berjubah hitam. Sebelum Raven Chaser, terakhir merupakan film kelima Detektif Conan yang berjudul Countdown to Heaven-lah yang masih memiliki kaitan dengan kawanan berjubah hitam (walaupun dalam film itu mereka lebih condong mengambil peran di balik layar).

Dalam awal film ini, kesatuan polisi dari berbagai daerah berkumpul menjadi satu untuk menyelesaikan kasus pembunuhan beruntun yang pelik. Sudah ada lima orang terbunuh dan di samping mayat mereka selalu ada kotak mahjong dengan deretan angka tertentu. Para polisi dari berbagai daerah itu semua berkumpul dan berusaha untuk mencari tahu mengenai siapa pelaku pembunuhan, dan apa motif di belakang terjadinya pembunuhan itu. Rupanya polisi bukan satu-satunya pihak yang mencari tahu apa yang terjadi. Vermouth, salah seorang anggota jubah kawanan hitam menyusup dalam kubu kepolisian sebelum kepergok oleh Conan.

Vermouth kemudian memberitahukan pada Conan bahwa dari antara korban yang terbunuh ada seorang anggota kawanan berjubah hitam. Gawatnya (atau untungnya – tergantung dari sudut pandang siapa), korban juga membawa kartu Memory Card khusus yang berisi data seluruh anggota organisasi. Apabila polisi sampai menyelesaikan kasus itu terlebih dahulu dan menemukan Memory Card yang dibawa pelaku, bisa jadi gawat bagi para kawanan berjubah hitam. Setelah Vermouth ketahuan, dia memberitahukan pada Conan bahwa sebenarnya masih ada seorang lagi anggota kawanan berjubah hitam yang menyusup dalam kubu kepolisian. Kode namanya adalah Irish. Bisakah Conan menemukannya?

Tadinya saya berharap kalau film ini bisa lebih dari sekedar film yang berdiri sendiri dan terintegrasi dalam cerita. Sayangnya tidak. Walaupun sebenarnya ada banyak perkembangan signifikan yang bisa dijadikan acuan dalam manganya, Aoyama Gosho seakan mengambil jalan enteng dan tak menggubris apa-apa yang terjadi di filmnya. Beberapa contohnya seperti (SPOILER): ada orang atau kelompok yang memiliki kemampuan untuk menginfiltrasi kubu kepolisian, tidakkah seharusnya ada penyelidikan lebih lanjut polisi mengenai hal itu? Atau di akhir film ketika menara di mana Conan berada diberondong senapan mesin oleh kawanan berjubah hitam, tidakkah polisi seharusnya bisa melacak keberadaan organisasi kawanan tersebut dari ratusan peluru yang dimuntahkan di sana?

Apa yang saya sebutkan di atas hanya sedikit dari segudang lubang logika yang dalam film ini saya rasa  terlalu menganga untuk tidak digubris begitu saja. Mungkin ada di antara kalian yang mau mengatakan “ini film jadi tidak semuanya harus masuk akal” dan saya setuju. Masalahnya jadi berbeda kalau ini sebuah film bergenre detektif yang seharusnya mengedepankan logika tetapi jatuhnya lebih tidak masuk akal ketimbang film Rambo. Saran saya buat Aoyama Gosho: lain kali sebaiknya berfokus saja pada misteri pembunuhan karena mau menggabungkan adegan misteri dan aksi yang bombastis kok hasilnya malah tanggung berantakan seperti ini?

Untuk menikmati Raven Chaser, kalian perlu tahu sedikit banyak mengenai sejarah latar belakang organisasi misterius yang mengecilkan tubuh Shinichi (omong-omong ada yang tahu itu organisasi misterius sebenarnya melakukan apa saja?). Lain darinya, tonton saja tanpa banyak ekspektasi. Bagaimanapun juga, bila menginginkan film detektif sejati maka lebih baik melewatkan ini dan langsung nonton Sherlock Holmes saja.

Score: 3.4

Movie Details
Director: Aoyama Gosho
Cast: Minami Takayama, Kappei Yamaguchi, Megumi Hayashibara
Running Time: 111 Minutes

22 Comments For This Post

  1. Ando-kun Says:

    Ya, film Det Conan the movie kali ini jg mengecewakan. Walaupun jk dibandingkn dgn 2 the movie sebelumnya, yg ini masih agak mendingan. Kalau hanya ingin mengemukakan ke”masuk akal”an saja, saya rasa anda terlalu keras memeberi penilaian. Harap ingat, ini adalah untuk konsumsi semua umur dgn penitik beratan usia penonton remaja yang umumnya lbh suka film ringan. Kalau terlalu berat, mungkin saja penonton akan kabur gak niat nonton film berat. Sherlock Holmes-nya Guy Ritchei juga menurutku tidak menampilkan gaya detektif sejati seperti kata anda ditulisan akhir (kalau ingin mengacu pada selera film detektif konsumsi dewasa). Cobalah nonton Murder on the Orient Express yg Albert Finney jadi Hercule Poirot untuk mendapatkan rasa film detektif sejati.

    Tapi saya sendiri terus aja ckp kecewa dg film ini. Maklumlah, setelah menonton det conan the movie terbaik (Phantom of Baker Street-PoBS) film lainnya agak berat untuk mngejar kualitas PoBS. Apalagi penulis cerita PoBS bukanlah penulis regular Conan the movie melainkan penulis novel misteri terkenal (yg sudah tewas bunuh diri akibat depresi). Mungkin mereka butuh penulis novel misteri hebat utk menulis ulang cerita conan utk konsumsi the movie.

    O iya, Aoyama sama sekali tak terlibat penuh dlm film ini, dia tidak menulis ceritanya, apalagi jadi sutradara seperti yg anda tulis diatas (Aoyama tak pernah jadi sutradara hingga sekarang). Credit beliau hanya creator tokoh saja, penulis ceritanya Kochi Kazunari yg memang sudah langganan bikin cerita conan khusus the movie.

    NB.
    Saya agak penasaran dgn cara penlaian anda yg kelihatannya per 0.1. Boleh tanya kenapa? contohnya film ini dapat 3.4. Kenapa tidak 3.3, 3.5 atau 3.6?

  2. Si Tukang Review Says:

    Sebenarnya dalam film ini masih ada dua lubang logika yang lupa saya sebutkan. Yang pertama adalah ketika ditembaknya ban mobil polisi Takagi. Masa sih keduanya tidak bisa membedakan bedanya ban yang meletus biasa maupun ban yang ditembak (pada mulanya)? Setelah itupun, kenapa mereka tidak menyelidiki lebih lanjut orang yang dengan sengaja menembak mobil polisi? Dan masa ada sniper di tengah jalan, ramai pula, tanpa terdeteksi orang?

    Yang kedua adalah bagaimana cara seorang biasa melumpuhkan anggota organisasi berjubah hitam? Kalau karena anggota berjubah hitam itu anggota rendahan yang tidak jago berantem, masa dia dipasrahi kartu Memory Card yang isinya seluruh anggota kawanan berjubah hitam?

    Mungkin sih saya terlalu nit-picking dan seperti yang dikatakan oleh Ando-kun, ini adalah film yang lebih ditujukan untuk anak-anak, but I still disagree kalau buat anak-anak = dumb.

    Untuk ralat mengenai info-info penulis cerita dan peran Aoyama Goshi di dalamnya, terima kasih ya. Saya akan cari info lebih dalam lagi lain kali sebelum memasukkannya dalam review.

    More about the scoring system ama pendapatku mengenai film Conan yang lain nanti. (maklum lagi kerja nih ^^;)

  3. Ando-kun Says:

    Kalau mau mikir agak rumit sedikit (khas orang dewasa), coba liat info dari kata beetle. Kata det. Sato, si pak komisaris dari era the beatles, makanya ngasih pesan lewat kumbang (beetles). Emangnya penggemar the beatles yg tau the beatles hanya orang2 yang hidup dijamannya? Aku aja yg lahir setelah the beatles bubar boleh dibilang fans mereka.

    kalau hanya buat membodoh2i anak2 sih, anda tak usah ngasih contoh film the movie. cukup dilihat saja serialnya baik manga maupun seri animasi yg kentara banget kurang masuk akal.

    soal kata anda “but I still disagree kalau buat anak-anak = dumb.”
    Yah, anda bisa ngasih contoh banyak manga dan anime yg membodohi anak2 koq. Mulai saja dr yg ngetop kayak naruto, one piece, bleach, sampai doraemon. Apa anak2 bakalan percaya kalau doraemon keluar dr laci?
    masalahnya bukan dibodohi sih tp lebih ke konsumsi hiburan. Toh film seperti Surrogate yang membodoh2i orang dewasa aja anda kasih nilai 6.2, masak yg konsumsi anak2 setengahnya ;P

  4. Si Tukang Review Says:

    Hal Ando-kun. Sori nih baru pulang kerja jadi replynya agak terlambat.

    Maksudku itu konteks dunianya Ando. Misalnya kalau One Piece, Naruto, Bleach, atau Doraemon kan memang dunianya bukan di setting dunia sebenarnya. Mungkin Doraemon di dunia sebenarnya, tetapi Doraemonnya sendiri datang dari abad 22 di mana mungkin ada unsur ‘fantasi’ termasuk Doraemon nongol dari laci itu. ^^; Of course kalau aku mau nitpicking aku bisa juga bilang “Kok Doraemon balik ke masa lalu engga menghancurkan space-time continuum?” ^^; Ha ha ha. Tapi engga lah, aku menerima semua itu.

    Kalau Conan kan settingnya lebih ke dunia realistis. Sehingga melihat sebuah menara diberondongi helikopter sementara polisi gagal mengidentifikasi siapa yang menembaki rasanya terlalu tidak masuk di akal saja (far-fetched istilah Inggrisnya).

    Soal film yang disarankan Ando, kalau boleh tahu cari filmnya Hercule Poirot di mana ya? Saya tinggal di Solo dan di luar film mainstream, sulitnya bukan main mencari film. Bahkan serial-serial TV saja kebanyakan hanya ada yang Korea / Taiwan tanpa ada yang barat.

    Kemudian soal Surrogates, saya juga tidak tutup mata akan kelemahannya - seperti bagaimana dia tidak faithful pada versi graphic novelnya. Atau bagaimana garing endingnya. Tapi ide dan konsepnya saya nilai cukup menarik - kurang matang saja eksekusinya. Itulah alasan kenapa dia masih bisa dapat nilai 6 di mataku.

  5. Si Tukang Review Says:

    Sebaliknya Raven Chaser menjanjikan fokus utama ada pada komplotan jubah hitam, tetapi (menurutku) gagal mempresentasikan hal itu dengan sempurna. Malahan (again - menurutku) ceritanya agak tidak fokus ke dua aspek pembunuhan dan komplotan jubah hitam. Pada saat sedang menggali aspek pembunuhan saya malahan terus memikirkan apa keterlibatan para jubah hitam… yang ternyata agak kurang sesuai harapan. ^^; Apa mungkin ekspektasiku yang kelewat tinggi? Entah juga deh.

    Yang saya puji adalah para karakter dalam film ini. Saya senang sekali Miwa dan Takagi mulai sadar ada orang lain selain mereka yang menyelidiki kasus itu, dan berharap (walau harapannya tipis) bahwa ini akan membawa polisi berkonfrontasi langsung dengan kawanan jubah hitam. Sudah saatnya Conan mendapat bala bantuan setelah hampir selama ini berjuang praktis sendirian. Itulah juga kenapa saya memberi nilai cukup tinggi untuk film ini. Karena saya masih sangat senang dengan karakter-karakter yang diciptakan Aoyama Gosho. Most of them are memorable dan they kinda grow in me (after all, udah lebih 10 tahun gw kenal mereka). Alasan lain kenapa nilainya masih 3 ke atas dan bukannya ke bawah adalah karena gw suka kualitas animasinya yang di atas ketajaman rata-rata serial TV Conan biasanya.

  6. Ando-kun Says:

    Film Poirot? Mendingan cari ke jakarta dan ubek2 bajakan di glodok. Kadang2 film2 jadul masih ada yg jual kayak dulu aku pernah dapet film jadulnya James stewart dan William Holden. Siapa tau masih ada yg jual barang2 langka kayak gitu.

    Ngomong2 hal yg gak mungkin di serial conan. Menurut anda, mungkin gak tubuh manusia bisa mengecil secara jaringan sel dan sistem organ tubuh berkembang sesuaiumur (itu jg butuh waktu bertahun tahun :)
    Dari awal Conan emang udah dibikin gak masuk akal, jadinya gak usah heran kalau banyak kejadian sesudahnya lebih gak masuk akal lagi.

  7. Ando-kun Says:

    yg saya tanyakan soal penilaian bukan hanya film ini. Agak bingung juga antara beda 3.4 ata 3.5 :P
    Soal serial Conan sendiri, saya udah mulai bosen lama2 kayak serial si unyil. Mendingan langsung aja diloncat bikin cerita baru kayak cerita OVA nya ttg Conan tumbuh wajar jd anak SMA gak balik2 setelah 10 tahun. Kayaknya lbh menarik dr segi plot cerita :)

  8. nezuko Says:

    Hmmm, kalo soal plot hole, di movie ini tu buanyak banget. ga usah di movie ini, movie2 sebelumnya juga udah banyak banget.
    1. Seperti yang disebutkan, mengapa Sato dan Takagi mengira semula hanya ban meletus biasa? Pertama, saat itu sato dan takagi sedang dalam kondisi menangani kasus, dan tidak mungkin memperhatikan hal-hal seperti itu, kedua, anggota Black Org memilih tempat sepi, yang rame kan lalu lintas di bawahnya. dan perlu diingat, kondisi masyarakat Jepang berbeda dng Indonesia. Disana ditempat ramaipun, terjadi kriminalitas, banyak orang yang tidak perduli (contoh saja stalker di dalam kereta listrik,dsb). mana ada orang yang peduli: siapa itu 2 orang bawa sniper diatas jembatan layang? gw kalo ga kenal juga ga peduliin. ketiga: Tidak benar bahwa takagi dan sato tidak curiga, buktinya Sato orang pertama yang curiga dan menyadari kepergian mobil di jembatan layang itu.

    2. Soal anggota Black Org yang mati dalam kasus, perlu diingat bahwa Black Organitation tidak semua anggotanya berpangkat tinggi. Gin,Vodka,Sherry,vermouth mungkin adalah orang2 pangkat tinggi dan memiliki peranan penting, namun ada juga orang2 kelas bawah yang hanya diberi tugas lalu setelah selesai, killed. (Hal yang sama juga sudah sering terjadi: kakaknya Sherry dibunuh, irish yang dianggap sudah tidak mungkin lolos dr Polisi dibantai begitu aja). Nah, anggota yang mati dalam kasus pembunuhan berantai itu MUNGKIN adalah anggota kelas bawah, namun berhubung dia membawa Chip berisi daftar NOC makanya sampai para petingi sekelas Vemouth dan Irish ikut turun tangan.

    3. plot hole yang paling jelas: Dipinggir hutan saat haibara bersembunyi, Vermouth setelah menelpon Gin mengabari kalau kedok irish sudah terbongkar, mengapa Vermouth tidak sadar disitu ada mobil Agasa? Meskipun Vermouth tidak tahu itu mobil agasa, tetap saja sebagai slh satu anggota organisasi kelas tinggi, harusnya dia curiga dng keberadaan mobil di pinggir hutan dan kalo digeledah, bisa saja dia menemukan Sherry.

    Pada dasarnya sih, saya setuju dng Ando-kun, janganlah terlalu memusingkan plot hole2 seperti ini, jadinya sebuah movie yang seharusnya fun dinikmati jadi terlihat movie asal bikin. Tidak ada sebuah movie yang perfect 100% baik dari segi cerita maupun plot skenario.

    Saya pribadi kalo disuruh milih mana movie conan paling bagus, saya pilih movie pertama. Karena disitu terlihat hubungan batin antara Shinichi dan Ran yang sebenernya. Ga nyangka aja Ran bakal tidak memotong kabel merah sedangkan si pemasang bom mengira Ran akan memilih warna itu. movie paling jelek menurutku justru Phantom of baker Street, movie yang setting ceritanya cuman di dunia maya sebuah game, dan ceritanya sendiri terlalu dibuat-buat. Sebenernya selama ini menantikan movie dimana jodie ikut serta berperan didalamnya. Jadi, FBI vs Black organitation.

    Soal apa saja yang dikerjakan oleh black org. banyak, menginfiltrasi politik, mengembangkan teknologi-teknologi science, kedokteran, dll. bukannya Ai sudah pernah bilang tentang hal ini yach di dalam movie?

    hmmm, yang dimaksud ama Ando-kun itu OVA 9. lucu sih critanya, dan memang gw ngakak abis dr awal ampe akhir cerita. Merasa kasian dng ran, sekaligus lucu melihat reaksi Conan waktu liat Ayumi, genta dan mitsuhiko tumbuh jd anak SMU.

  9. Ando-kun Says:

    @nezuko
    wah, sepertinya anda ini penggemar berat hubungan Ran-Shinichi nih.
    OK, mengenai mengapa Phantom of Baker Street layak mendapatkan kategori film Conan terbaik dari saya, anda bisa baca ulasan saya di blog resensi saya. Saya menilai suatu film bukan berdasarkan masuk akal atau tidak, tapi secara keseluruhan, terutama sekali muatan cerita. Lagipula film bergenre science fiction segitu banyaknya tak pernah mempermasalahkan masuk akal atau tidak asalkan masih ada dlm konteks cerita. Game virtual sprt dlm PoBS bukan hal yg aneh dlm film SF akhir2 ini (pernah nonton film TRON yg bentar lagi bakal keluar sequelnya?).

    silahkan baca resensiku tentang Conan The Phantom of Baker Street

    Mengenai film Conan pertama yg menurut anda gak nyangka, saya sendiri sudah nyangka koq Ran akan memotong kabel yang tepat (tidak lucu jika film yg diluncurkan disaat serial Conan sedang booming justru mematikan salah satu tokoh utama), dan itu sangat gampang ditebak, juga sama sekali tak membuat saya tegang apalagi deg-degan. :mrgreen:
    Soal hubungan bathin Ran-Shinichi, saya sendiri sudah agak bosan membahasnya, apalagi sudah bejalan belasan tahun untuk tetap membahas hal yang sama. Kadang aku merasa mendingan Ran kawin dgn Dr Araide spy ada konflik yg lebih menarik.

  10. Si Tukang Review Says:

    @nezuko: Saat pertama kali dia menyadari ada yang pergi. Tetapi seharusnya bila polisi biasa melihat ban mobil mereka meletus, biasanya bisa langsung sadar kalau ditembak, apalagi karena tidak ada jarum atau paku di jalan raya. Sato sedikit lebih pintar, sementara Takagi… well, I’m still kinda confused how he became a cop. ^^; haha.

    Iya itu nezuko, maksudku kalau dia memang anggota kelas bawah, ga mungkin dong dia sampai membawa informasi yang begitu penting di tangannya sampai bikin semua anggota kelas atas kalang kabut.

    Kalau yang itu, mungkin Vermouth memang tidak peduli? Karena toh dia sudah tahu kalau Sherry identitasnya Haibara Ai dan mungkin juga bisa menebak siapa Conan sebenarnya. Vermouth itu keberadaannya sedikit seperti pion yang tak terduga ke mana akan dilangkahkan. Kurasa dia masih punya agenda tersendiri…

    Iya, sudah pernah dibilangin, tetapi sebagai penonton atau pembaca, saya tidak pernah tahu sampai ke mana akar Black Organization kuat mencengkeram. Jadi penasaran btw sama OVA 9, kelihatannya menarik.

    As for the other Conan movies, aku baru lihat 5, 6, 7, dan film ini (13). Dari semuanya yang paling kusuka yang 5, 6, kemudian 7 dan 13 mungkin hampir berimbang. Aku ga terlalu ingat yang 7, selain ada Heiji berantem kendo di atap gedung. Duh. Corny banget buatku.

    @Ando-kun: Update status di FBku habis nonton Conan…

    Habis nonton film Detektif Conan terbaru. Yang paling ga masuk akal adalah kenapa ya Ran setia banget ama Shinichi pacaran jarak jauh? Cewe dunia nyata mah boro-boro ditinggal tahunan, ditinggal beberapa hari aja udah jerat-jerit minta diperhatikan. =P

    So yes, I agree kalau Ran seharusnya pacaran saja sama orang lain. At least itu mungkin memotivasi Conan lebih cepat balik jadi Shinichi.

  11. Si Tukang Review Says:

    Ando, apakah kamu Yusah Rizal?

  12. Ando-kun Says:

    ^
    pertanyaan pribadi nih :P
    hidup didunia maya sebisa mungkin agak tertutup, termasuk nama juga pake nickname kayak situ :) . maklumlah….

  13. Si Tukang Review Says:

    ^^;;; Ah ah, maaf, bukan itu maksud pertanyaanku. ^^;; Tadinya aku soalnya melihat blog Ando-kun itu di yusahrizal.wordpress.com

    Tapi tadinya aku pikir namanya itu Toumei-Ningen karena itu nama blognya gitu ^^;

    Tapi lihat di sana ada komentarnya atas nama yusahrizal.

    Tapi di sini komentarnya atas nama Ando-kun.

    Jadi aku berpikir dan menebak bahwa mungkin Toumei-Ningen, Yusah Rizal, dan Ando-kun itu satu orang. ^^;;

    Maaf maaf kalau seperti menanyakan pertanyaan pribadi. He he, sama sekali tidak ada maksud seperti itu kok bro. ^^:

  14. Ando-kun Says:

    Hehehe…. oke deh. gini penjelasannya:
    nama blog Toumei Ningen
    nickname blogger (wordpress) Ando-kun
    nickname blogger (blogspot) yusahrizal

    karena blogspot punyaku udah ditutup dan pindah semuanya ke wordpress (ada 2 blog di wordpress), nama yusahrizal juga pensiun sbg nama blogger (kecuali tentu saja komentar yg dimuat di blogspot kadang masih pakai)

  15. Si Tukang Review Says:

    Ahh begitu ya penjelasannya.

    Hehehe. Terima kasih sekali kalau begitu untuk penjelasannya Ando-kun. Sori malahan jadi off-topic begini. ^^;

  16. nezuko Says:

    Well, takagi kan emang dr dulu dah bodoh, karakter dia memang dibikin karakter polisi rada bloon gitu, beda ama miwako.

    Soal karakter Ran yang seharusnya jadian ama Araide, gw ga setuju banget, well, Conan pada dasarnya dibuat memang sebagai manga genre semua umur, dan bukan kelas drama romantis berat, kalo ditambahi Ran pacaran dng Araide trus Conan berusaha balik ke Shinichi dan merebut Ran? WTH, jadi drama romantis picisan mrnt gw. Gw malah lebih menunggu2 kapan Ran tau kalau sebenernya Conan itu adalah Shinichi tapi Kogoro tetap tidak tahu, dan akhirnya ada adegan2 dimana Ran mesra2an ama Conan di rumah, trus kogoro menangkap basah, LOL, pasti seru tuh, mencak2 kogoronya, trus conan dilempar keluar jendela. LOL.

  17. Ando-kun Says:

    @nezuko
    saya lbh suka jika Ran kawin dgn Araide dan hubungan Shinichi-Ran diselesaikan, lalu Conan lbh fokus ke kasus dan drama cinta segiempat Conan-Ai-Ayumi-Mitsuhiko (OVA 9 lebih baik dilanjutkan hingga ketiganya dewasa) jauh lbh menarik dan fresh dibandingkan tarik ulur cinta segitiga Shinichi-Ran-Araide yg cenderung bakalan kayak sinetron. Unsur drama Conan benar2 udah membosankan, aku masih ngikutin cm kalau ada kasus menarik. Kalau ada episode yg membahas hubungan Shinichi-Ran, udah aku skip.
    Kecuali fans Conan yg maniak hubungan Ran-Shinichi (biasanya cewek sih), aku rasa fans yang lain udah gak terlalu perduli lagi dengan cerita Ran-Shinichi.

    Ngomong2, karakter Kogoro sekarang kayaknya semakin konyol dan cenderung idiot. Kalau dulu Kogoro lebih manusiawi dalam artian detektif yg lumayan kompeten tapi pemalas (malas kerja, males mikir, pokoknya super males), sekarang parah banget tuh.

  18. Si Tukang Review Says:

    @nezuko: Kalau dasarnya untuk semua umur mana boleh Conan dan Ran macam-macam? Lagipula kok aku malah ilfil ya mikirin Conan dan Ran macam-macam? That’s pedophilia. ^^;

  19. arum Says:

    wow seneng deh nemu situs ini.
    seneng juga karena detektif conan movie masuk review-nya karena saya adalah pecinta berat conan (khususnya kudou shinichi) sejak SD ampe sekarang (udah mau lulus kuliah).
    saya ga pernah ketinggalan nonton movie conan dan saya udah nonton the raven chaser sejak sekitar sebulan yang lalu. hmm entah kenapa saya juga ngerasa klo semakin ke sini movie conan semakin mengecewakan.
    movie conan yang terakhir saya nilai BAGUS BANGET itu movie ke 8 yang judulnya magician in the silver sky. setelah itu movie conan sangat mengecewakan menurut saya, apalagi movie ke 11 (jolly roger in the deep azure) dan 12 (full score of fear) yang ga ada tegang-tegangnya sama sekali.
    the raven chaser masih agak lumayan lah karena di bagian akhir cukup menegangkan menurut saya, meskipun masih kalah dibandingkan movie ke 5 (countdown to heaven), 6 (the phantom of baker street) dan 8.

  20. Si Tukang Review Says:

    Hai arum, salam kenal juga!

    Saya dulu juga pecinta Conan kok, walaupun belakangan ini udah males nungguin terbitan ceritanya yang agak kelamaan di Indonesia. Lagipula udah terlalu panjang jadi agak malas membacanya kalau bukan berkaitan dengan kelompok jubah hitam…

    Apalagi karena kebanyakan karakternya juga stagnan gitu-gitu saja.

  21. zLc Says:

    pertanyaan bung ando ttg penilain anda dalam sebuah film belum anda jawab lho bro…

  22. Si Tukang Review Says:

    Ah ya? Benarkah?

    He he he. Kalau penilaianku sendiri bisa dibilang gabungan antara sisi obyektif dan subyektif. Saya memperhatikan film dari sudut teknisnya seperti bagaimana cara pengambilan gambarnya… apakah ada sudut pandang yang unik dan baru? Bagaimana akting para karakternya? Bagaimana penulisan dialog dan skenarionya? Apakah jalan ceritanya banyak plot hole engga? Masuk akal tidak? Bagaimana dengan musiknya? Bisakah membantu menghanyutkan penonton dalam jalan cerita - membantu membangun ketegangan?

    Itu dari sisi obyektifnya. Tapi kalau dari sisi subyektif pada akhirnya kembali pada diri masing-masing penonton juga. Di sini gw menilai sebuah film secara keseluruhan dan impactnya ke gw. Kadang ada film yang bisa gw nilai tinggi karena gw lebih mengerti bidangnya (biasanya cerita tentang ortu dan anak akan dapat apresiasi lebih tinggi dari gw, sebagai gantinya kalau film isinya bunuh-bunuhan ga jelas ala gore movie biasa langsung dapat cap jelek). Yah, ini memang harus kembali ke diri tiap penonton sih. ^^;

    Soal rating sistem sendiri, gw lagi berpikir mau mengubah polanya jadi flixster aja, jadi pakai sistem bintang satu sampai lima dibandingkan sistem poin. Tapi soal implementasinya kapan, belum tahu nih. Kemungkinan setelah selesai marathon movie Ghibli dan Conan. ^^

    Thank you buat diingetin bro.

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here