Archive | January, 2010

Tags: , , , , ,

Nine (2009)

Posted on 31 January 2010 by Si Tukang Review

Nine Poster

Nine Poster

Musical. Ah, ini adalah salah satu genre yang sangat kubenci untuk kureview sebab pengetahuanku mengenainya sangat terbatas. Beberapa film musical yang terkenal mulai yang klasik seperti A Sound of Music, yang lumayan lama seperti Evita sampai yang lebih modern seperti Chicago (juga disutradarai oleh Rob Marshall) semuanya belum pernah kutonton. Praktis hanya satu film musical yang pernah kutonton dan itu adalah Moulin Rouge! (saya juga sudah menonton Mamma Mia! tapi tidak tahu apakah itu boleh digolongkan musical atau tidak), film yang membuatku hingga kini tergila-gila dengan artis Nicole Kidman. Saya penasaran, apakah Nine (yang juga dibintangi oleh Nicole Kidman di dalamnya) memiliki daya magis yang sama seperti Moulin Rouge!.

Film Nine sebenarnya merupakan adaptasi dari adaptasi. Asal awal film ini adalah film semi-biografi dari kehidupan Frederico Fellini yang berjudul 8 1/2. Walaupun film tersebut meraih penghargaan Oscar untuk film berbahasa asing terbaik, publik mulai mengenalnya setelah ia diadaptasi ke format musical di tahun 1982. Sadar bahwa film ini sangat terkenal membuat sutradara Rob Marshall memasukkan nama-nama tenar dalam film ini. Melihat deretan aktor dan artis di dalamnya, bayangan saya akan film bermutu langsung terbentuk. Siapa tidak ngiler melihat Daniel Day-Lewis, Penelope Cruz, Marion Cottilard, Judi Dench, Nicole Kidman, sampai Kate Hudson dan Fergie-nya Black Eyed Peas semua tumpang tindih main di film ini?

Mungkin kalian bingung kenapa deretan nama di atas semuanya wanita dan hanya satu pria. Itu dikarenakan cerita dalam Nine adalah mengenai seorang sutradara berbakat Guido Contini yang tengah mengalami masalah dalam kehidupannya. Pada masa mudanya dulu, Guido selalu dikenal sebagai penelur film-film yang menggebrak dan mengubah dunia perfilman. Sayang sekali dua film terakhirnya gagal total (baca: flop). Dua kegagalan itu membuat Guido menjadi trauma dalam menyutradarai film terbarunya yang ia juduli Italia. Publik juga menanti dengan penuh antisipasi mengenai seperti apakah karya Guido kali ini. Apakah ia bisa kembali pada puncak performanya? Ataukah ia akan makin tenggelam dalam kegagalan?

Guido sendiri mengalami masalah krisis dalam kehidupannya. Waktunya entah bagaimana seakan terbagi pada tujuh wanita sehingga membuatnya tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan menulis skenarionya. Ada sang istri Luisa yang berebut perhatian dengan wanita simpanannya Carla. Ada penata model make-upnya Lilli. Wartawati Vogue yang terus mengejar berita mengenai dirinya. Seorang pelacur dari bayangan masa kecilnya. Ibunya yang sudah meninggal; dan terakhir sampai bintang utama dalam film Italia yang ia sutradarai. Makin pusinglah kepala Guido. Bisakah ia menyortir semua masalah ini dan menghasilkan film berkelas?

Saya ngantuk nonton film ini. Ah, mungkin musical memang bukan film yang bisa saya nikmati. Dalam review The Princess and the Frog saya mengeluhkan bagaimana jalan cerita film animasi Disney tersebut terganggu karena setiap lima menit diselingi dengan acara menyanyi. Itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Nine. Praktis formula dalam film Nine seperti ini: Memperkenalkan gadis A — Gadis A bernyanyi-nyanyi — Memperkenalkan gadis B — Gadis B bernyanyi-nyanyi — Memperkenalkan gadis C — dan demikian seterusnya sampai semuanya selesai diperkenalkan. Dan setelah itu tambahkan sekitar sepuluh menit untuk penutupannya dan kamu akan mendapatkan Nine. Saya tahu ini adalah film musical dan pasti ada banyak nyanyian dan tarian di dalamnya; tapi perlukah sampai mengikuti formula sebaku dan semembosankan ini?

Yang lebih mengecewakan adalah timpangnya peran ketujuh wanita ini dalam kehidupan Guido. Dua yang paling menarik perhatianku hanyalah karakter Luisa dan Carla yang dua-duanya mencintai Guido dengan cara mereka sendiri. Seandainya film ini menggali mereka berdua mungkin film Nine akan lebih menarik, tapi karena harus membagi waktu dengan lima wanita lain, film ini seakan-akan kurang fokus. Beberapa gadis seperti Saraghina sang pelacur dan Stephanie sang wartawati praktis hanya muncul sekilas lalu – bernyanyi dan kemudian lenyap tanpa pernah disebut lagi. Cerita dalam film ini tidak akan berubah walau keberadaan mereka dihilangkan di dalamnya.

Juga cerita dan dunia dalam Nine tidak pernah terasa menarik untuk diimpikan. Saya malah bete melihat Guido sebagai seorang pria karakternya seakan-akan memohon dunia untuk mengasihani dia. Sulit bersimpati dengan karakter utama yang semua tingkahnya seenak perutnya sendiri. Saya bandingkan dengan Moulin Rouge! yang memperlihatkan bagaimana Ewan McGregor berusaha keras merebut hati Nicole Kidman hingga sang gadis es itu akhirnya luluh pada sang pemuda lugu. Duh, betapa jauhnya! Moulin Rouge! membuat saya bersemangat dan ingin mengunjungi tempat yang begitu hidup tersebut. Nine membuat saya depresi dan sebal dengannya.

Satu-satunya ‘penyelamat’ dalam Nine hanyalah design kostumnya yang memang bervariasi. Itu… dan tarian eksotis dari Penelope Cruz. Selesai menonton film ini, yang terbersit di benakku hanyalah “Kok engga ada fatwa dari MUI yang mengharamkan film ini ya? Dan kok bisa-bisa lolos gunting sensor Indonesia?

Note: Ini adalah film ketiga di tahun 2009 yang memakai angka sembilan setelah District 9 dan 9.

Score: 4.5 (Catatan: Bonus 1 point untuk Penelope Cruz)

Movie Details
Director: Rob Marshall
Cast: Daniel Day-Lewis, Marion Cottilard, Fergie, Penelope Cruz, Nicole Kidman
Running Time: 118 Minutes

Comments (3)

Tags: , , , , ,

Kick-Ass

Posted on 30 January 2010 by Si Tukang Review

Kick-Ass #2 Cover

Kick-Ass #2 Cover

Saya rasa komik karangan dari Mark Millar dan John Romita Jr. bisa membuat banyak komik-komik lain sangat iri. Bagaimana tidak iri coba? Komik setenar Spider-man dan Superman saja harus menunggu sampai puluhan tahun sebelum kisah mereka diadaptasi ke layar lebar, tapi Kick-Ass? Hanya dalam enam edisi dan tidak sampai setahun saja serial indie ini mendapatkan perhatian luar biasa besar dan saat edisi ketujuhnya diluncurkan sudah ada lampu hijau untuk menggarap film layar lebarnya. Bersamaan dengan berakhirnya story arc pertama di edisi kedelapannya, film Kick-Ass sendiri sudah siap kita nikmati di layar lebar pada April 2010. Hanya ada satu kata untuk menggambarkan pencapaian ini: fantastis.

Lantas sebenarnya apa sih yang membuat Kick-Ass begitu ngetop? Demikian ringkasan cerita untuk story arc pertamanya! Dave Lizewski adalah anak normal. Dia bukan anak terpintar di kelas, tapi dia juga bukan yang paling goblok. Dia bukan anak paling populer, tapi juga bukan yang paling suka diejek dan dijadikan olok-olok. Sederhananya, Dave adalah anak yang normal… hampir. Satu-satunya yang berbeda dari Dave adalah daya fantasi dan ngefansnya dengan komik. Dengan setting di dunia nyata dan komik serta film superhero bertebaran di mana-mana, Dave kemudian bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. “Kenapa tidak ada orang yang mau menjadi superhero?”. Berbekal pertanyaan itu, Dave pun mulai menggarap kostum superhero dan nama superhero buatnya sendiri: Kick-Ass.

Tentu saja Dave bukanlah Peter Parker yang memiliki kekuatan laba-laba atau para anggota X-Men yang memiliki mutasi genetic. Ia bahkan tidak memiliki kemampuan bela diri memadai ala Batman atau Nick Fury. Dengan kata lain, bukannya Dave kick ass, ass dia malahan dikick oleh para kriminal yang ada! Toh kegagalan demi kegagalan tidak menyurutkan Dave. Semakin dalam Dave menyelami kehidupan superheronya, ia mulai sadar bahwa ia tidak sendiri dalam urusan gila ini. Ia mulai bertemu dengan dua superhero sungguhan (tapi gila) ayah anak Big Daddy dan Hit Girl. Ia kemudian juga bertemu dengan superhero jadi-jadian lain Red Mist. Bagaimanakah sepak terjang Kick-Ass selanjutnya?

Saya benar-benar menikmati perjalanan Kick-Ass, setidaknya untuk tiga perempat perjalanannya. Melihat bagaimana Dave berusaha menyeimbangkan hidup sehari-harinya yang membosankan dengan kehidupan seorang superhero yang menjadi populer di internet (lucu juga, karena komik ini juga menarik perhatian banyak orang pertama melalui internet) terasa menyenangkan, unik, dan fresh. Walaupun kemampuan Mark Millar menulis dialog-dialog anak SMU masih di bawah Brian Michael Bendis (karena dialog Mark entah bagaimana terlalu banyak mengacu kea rah nuansa emo), setidaknya Mark menutupinya melalui sisi lain kehidupan Dave sebagai Kick-Ass. Di sini Mark yang sudah dari sananya jago menjual kekerasan lewat The Ultimates atau Wanted menunjukkan tajinya. Omongan-omongan Hit Girl dan para gangster yang dihadapi oleh Kick-Ass menunjukkan bagaimana piawainya Millar ketika sudah berada di dunia yang dikuasai olehnya itu. Maksudku begini; kalau saya bilang komik ini mengikutkan seorang anak kecil yang juga seorang pembunuh sadis ditambah suka menghisap kokain supaya fly dalam menghadapi lawan, kalian mungkin mengira saya gila, saya juga merasa bahwa itu gila – sebelum saya melihat bagaimana Millar mengeksekusi konsep itu dengan begitu meyakinkannya hingga saya merasa itu cool dan keren. Kudos buat Millar.

John Romita Jr. juga berperan penting sebagai pencipta artwork komik ini. Saya sebenarnya kurang suka dengan goresan-goresan kasarnya ketika menggambar, tetapi khusus untuk Kick-Ass yang penuh darah dan kekerasan, John Romita Jr. bukan pilihan yang jelek. Apel memang tidak jatuh jauh dari pohonnya, John Romita Sr. sang ayah adalah seorang illustrator terbaik Marvel di jaman 1970an dulu. Ingat gambar Mary Jane klasik? Itu hasil karyanya. Toh, saya beranggapan karya terbaik sang anak tetap di saat ia berkolaborasi dengan Greg Pak dalam serial Hulk. Di sana keberingasan Hulk tergambar sempurna oleh John Romita Jr. Di sini, sang artis (seperti halnya Millar) kurang kompeten dalam menggambar kehidupan kesehari-harian Dave (muka Dave dan kawan-kawannya jadi terlihat aneh).

Terlepas dari kontroversi kekerasan di dalamnya, publik menyukai Kick-Ass. Aplaus dan tepuk tangan panjang terdengar seusai trailer Kick-Ass (saat itu belum memiliki distributor) diputar di Comic-Con 2009. Studio Lionsgate bergerak cepat dan mengambil hak peredaran film ini. Nah sekarang tinggal menantikan filmnya saja. Like it or not, this is a comic that’s gonna kick your ass!

Score: 7.6

Graphic Novel Details
Writer: Mark Millar
Penciller: John Romita Jr.
Publisher: Icon
Volume: 01 – 08

Comments (6)

Tags: , , , , , , ,

Captain America: Reborn

Posted on 29 January 2010 by Si Tukang Review

Captain America: Reborn #1 Cover

Captain America: Reborn #1 Cover

Bagi orang yang mengetahui tokoh komik Marvel hanya melalui film-filmnya, saya rasa Captain America mungkin hanya sekedar karakter sekunder – bahkan tertier yang tidak terkenal. Bayangkan, di saat Marvel sibuk memasukkan karakter-karakter superhero paling terkenal mereka seperti X-Men dan Spider-man ke layar lebar, Captain America terpinggirkan. Bahkan ketika superhero sekunder seperti Hulk, Fantastic Four, sampai Daredevil sudah masuk ke layar lebarpun Captain America masih saja dilupakan. Tidak mengherankan kalau tidak banyak orang yang mengetahui siapa itu Captain America. Empat tahun lalu ketika saya pertama kali mengenal komik Amerika saja saya menyangka Captain America itu seorang superhero dengan kostum ‘aneh’.

Setelah saya membaca lebih lanjut, bagaimanapun juga, saya baru menyadari betapa pentingnya sosok seorang Captain America dalam dunia Marvel. Sebagaimana halnya Superman di DC, Captain America adalah aspirasi bagi semua superhero dunia Marvel. Tidak kurang mulai dari Spider-man sampai The Punisher menjadi sosok yang segan dan menghormati sang pahlawan dengan julukan Sentinel of Liberty ini. Oleh karena itu, bukan hal yang mengherankan bahwa saat Captain America tewas di akhir kisah Civil War pada tahun 2005 Amerika menjadi gempar. Stasiun TV, Internet, sampai surat kabar semua ramai memberitakan kematian ikon Amerika itu. Tercatat dalam sejarah bahwa hanya kematian Superman belasan tahun yang lampaulah yang memiliki hype sebesar itu. Hal itu kian impresif mengingat pada jaman ini kebanyakan orang sudah tahu bahwa superhero tidak pernah mati secara ‘permanen’.

Setelah kematian Steve Rogers, penulis serial Captain America Ed Brubaker langsung memajukan cerita dengan memperkenalkan kepada dunia sang Captain America yang baru. Tameng legendaris Captain America ini kemudian diwariskan kepada Bucky, sidekick dari Captain America. Sekedar catatan saja, langkah Marvel ini sukses besar sehingga DC berusaha menirunya dengan ‘membunuh’ Bruce Wayne si Batman dan mewariskan mantel Batman pada Dick Grayson si Robin. Setelah tiga tahun Captain America absen dalam kancah dunia Marvel, Ed Brubaker menyatakan bahwa kini ia siap mengembalikan sang jagoan pada dunia Marvel. Dan cerita itu dipersiapkan dalam kronologi enam bagian yang dinamai Captain America: Reborn.

Sebelum membaca Captain America: Reborn, ada baiknya kalau pembaca komik tahu lebih dulu mengenai kisah dalam serial Captain America sebelumnya mulai dari The Death of the Dream, The Burden of Dreams, sampai The Man Who Bought America. Kenapa? Karena walaupun Captain America: Reborn diposisikan sebagai mini-seri, ada banyak sekali referensi pada kejadian-kejadian yang terjadi pada waktu saat dan setelah kematiannya. Pembaca yang langsung melompat membaca mini-seri ini dipastikan kebingungan akan keterlibatan karakter Red Skull, Sin, atau Sharon di dalamnya, terutama karena Ed Brubaker tidak mau membuang-buang waktu menjelaskan ulang mengenai apa saja koneksi mereka dalam kisah kebangkitan kembali Captain America.

Marvel juga menurunkan salah satu tim terbaik mereka untuk proyek ini. Selain memasrahi penulisan ceritanya kepada Ed Brubaker (yang adalah serial Captain America terbaik), artwork dalam komik ini ditangani oleh Bryan Hitch, tandem dari Mark Millar dalam serial The Ultimates dan Fantastic Four. Mendengar duet ini, saya hampir saja ngiler dan menjerit kegirangan. Saya tidak bisa membayangkan betapa dahsyat kolaborasi keduanya! Sayang setelah membaca enam edisi, saya memutuskan bahwa kerjasama mereka sebaiknya berakhir sampai di sini saja. Entah kenapa keduanya tidak tampil dalam performa terbaik mereka di komik ini. Cerita yang ditulis oleh Ed Brubaker mengenai ‘kenyataan’ di balik kematian dan kebangkitan kembali Steve Rogers seperti terlalu mengada-ada, kontras dengan penulisan Brubaker yang selama ini berpijak pada dunia spionasme dan realita. Hal ini diperburuk dengan gaya gambar Bryan Hitch yang kualitasnya turun drastis dibandingkan karya-karya sebelumnya. Silahkan bandingkan artwork dalam mini-seri ini dengan The Ultimates atau Fantastic Four. Bryan Hitch selama ini selalu membuktikan diri bahwa dia adalah artis yang mampu menggambar berbagai macam set dan kisah epik sehingga saya berharap kegagalan ini hanya menjadi batu kerikil kecil yang tak menghalangi dia bangkit lagi ke depannya.

Toh terlepas dari kelemahan dua orang tim kreatifnya, apa yang membuat Captain America: Reborn kehilangan semua impact dalam dunia Marvel adalah molornya jadwal terbit. Sejak kapan ada sebuah kisah epilog muncul terlebih dahulu sebelum kisah utamanya sendiri berakhir? Hal ini baru pertama kali saya jumpai di sini. Masa sih edisi kelima dari Reborn baru saja muncul kemudian epilog one-shot yang berjudul Who Will Wield the Shield muncul lebih dulu sebelum klimaks komik ini? Ini langsung membunuh semua misteri yang tersisa di komik keenamnya. Walaupun kita tahu bahwa Steve Rogers pasti kembali, ternyata misteri siapa yang bakalan menjadi Captain America malahan dijawab dalam Who Will Wield the Shield, bukannya edisi keenam dalam mini-seri Reborn.

Yah, terlepas dari semua kekurangan yang saya sebutkan tadi, Captain America: Reborn adalah sebuah ambisi bombastis seorang Ed Brubaker (walau sayangnya gagal) untuk mengembalikan Steve ke tengah dunia Marvel. Dan mengingat dunia Marvel kini dalam kekelaman setelah dikuasai oleh Norman Osborn (si Green Goblin!) dan Dark Avengers, tak ada saat yang lebih tepat bagi Cap untuk kembali beraksi.

Score: 6.6

Graphic Novel Details
Writer: Ed Brubaker
Penciller: Bryan Hitch
Publisher: Marvel Comics
Volume: 01 – 06 (Epilog one-shot Who Will Wield the Shield)

Comments (2)

Tags: , , ,

Mean Girls

Posted on 28 January 2010 by Si Tukang Review

Mean Girls Poster

Mean Girls Poster

(Review Ditulis Di Tahun 2006)

Bila anda berpikir Mean Girls adalah sebuah drama komedi percintaan di sekolah ala remaja biasanya, maka anda harus menebak ulang. Karena Mean Girls bukan sekedar drama kehidupan biasa, diberi dengan twist pada plotnya dan sedikit kesan gelap dalam warna filmnya, film ini terasa bagaikan The Girl Next Door dengan sentuhan feminisme yang lebih real.

Alkisah seorang gadis yang berasal dari Afrika, Cady Heron tak pernah menginjakkan kakinya di sekolah manapun. Maklum, orang tuanya adalah seorang zoologist, dan sering berkeliling dunia. 12 tahun terakhirnya ia habiskan di Afrika, lebih banyak berinteraksi dengan para monyet dan para binatang lainnya ketimbang kosmetik dan hal lain yang dilalui anak gadis seumurnya. Merasa bahwa hidup di tengah binatang buas dapat ia lalui, Cady Heron tak pernah menyangka kalau ia harus menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan masa high schoolnya.

Cady terlibat dalam berbagai hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di high schoolnya yang baru, sebuah gang wanita bernama The Plastic berdiri, pemimpinnya adalah Regina – seorang gadis yang mendewakan mode bersama kedua pengikutnya. Cady tanpa sengaja menjadi anggota kelompok yang keempat. Hanya saja begitu tahu bahwa ia dijadikan anggota hanya untuk dipermainkan dan dicemooh secara diam-diam, Cady memutuskan untuk membalas dendam. Kali ini akan ia tunjukkan kepada Regina, bahwa ia bukan sekedar seorang gadis yang datang dari Afrika semata.

Penampilan Lindsay Lohan cukup mengesankan dalam film ini. Hampir seperti Freaky Friday yang melibatkannya dalam dual role, ia fasih memerankan sosok Cady Heron yang semula begitu innocent menjadi sosok yang bingung di tengah perubahan lingkungan di sekitarnya, haruskah berubah atau tetap polos sebagaimana adanya. Tetap saja, Lohan tak tampil semenawan dia dalam Freaky Friday – film terbaik yang pernah ia perani. Lawan mainnya di sini Rachel McAdams memang tak diberi kesempatan untuk berakting sepadan dengan Lohan. Tetap saja, penampilannya sebagai sang culas menarik perhatianku. Karakter-karakter lain dalam film ini juga mampu disorot dengan baik. Porsi mereka berimbang, sehingga penonton takkan kebingungan melihat mereka sambil bertanya “Huh, siapa ya cowok A ini ?” atau “Loh, memangnya cewek B ini keluar dari mana ?”. Cukup fantastik, mengingat jumlah karakter yang disorot dalam film ini secara bergantian cukup banyak. Beruntung mereka semua hampir tampil unik dengan kharisma mereka masing-masing.

Pujian utama harus diberikan pada plot ceritanya. Belum pernah sebelumnya saya melihat film yang menampilkan berbagai sisi dalam kehidupan masa high school sebegitu realnya. Siapa yang dalam SMU mereka – atau bahkan kuliah mereka sekalipun – tak memiliki “si ratu angkatan” ? Atau siapa di antara mereka yang tak punya “gang freak” atau “gang gak tahu malu” ? Semuanya itu secara menarik diangkat dan disentil dalam film ini. Jalan ceritanya yang begitu unik juga dibawakan dari sisi pandangan cewek dalam masa high school mereka. Berbagai persoalan mereka mengenai berat badan, fashion mode, sampai pelajaran, dan masalah cowok dibawakan dengan sudut pandang cewek. Jangan buru-buru mencap film ini sebagai film cewek semata. Memang tidak salah bila kaum hawa akan lebih mudah mengerti problema yang muncul dalam film ini, tetapi terlepas dari itu semua film ini tetap mampu dinikmati semua kalangan.

Terlepas dari ketidakmaksimalan Lohan dalam berakting serta kurang ‘menggigit’nya soundtrack pada film ini, Mean Girls menawarkan jalan cerita yang baru untuk para remaja. Banyak pelajaran yang dibagikan tanpa terasa klise. Benar-benar menyegarkan. Cukup menggelitik juga bahwa seusai film ini, kita diingatkan bahwa dalam dasar akal budi kita, manusia tetap memiliki naluri insting binatang buas.

Score: 6.5

Movie Details
Director: Mark S. Waters
Cast: Lindsay Lohan, Rachel Mc Adams
Running Time: 97 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , , ,

SPL (Sha Po Lang)

Posted on 28 January 2010 by Si Tukang Review

SPL Poster

SPL Poster

Bagiku ada tiga jenis dunia kriminal bawah tanah yang paling menarik perhatian dan tidak ada habis-habisnya untuk diperbincangkan. Mafia dari Italia, Yakuza dari Jepang, dan Triad dari Hong Kong. Khusus untuk Triad, sudah banyak sekali film-film Hong Kong yang memotret kehidupan mereka dalam film-film baik sebagai jagoan maupun sebagai lawan. Popularitas Triad ini sempat mencapai puncak masa jaya mereka melalui film Young and Dangerous yang menelurkan banyak sekali sekuel dan spin-off. Duel polisi dan triad juga pernah tergambar (walaupun secara tidak langsung) melalui Infernal Affairs. Apabila kini film duel antara triad dan kepolisian disutradarai oleh Wilson Yip dan dibintangi oleh nama tenar dunia kungfu seperti Donnie Yen dan Sammo Hung, bisa ditebak kalau kita bakalan disajikan tontonan kelas tinggi bukan?

Sudah bertahun-tahun lamanya Detektif Chan berusaha membekuk seorang boss triad yang seakan tak tersentuh hukum, Wong Po. Semua usaha Chan tidak ada yang berhasil. Bahkan ketika ada seorang saksi yang siap maju ke pengadilan, ia pun dihabisi oleh anak buah Wong Po. Lebih ironis lagi bagi Detektif Chan, ia terkena serangan tumor di otaknya. Bukannya menyurutkan langkahnya, ini membuat Chan semakin geram dan memantapkan hati menangkap Wong Po. Chan beruntung bahwa ia mendapatkan dukungan penuh dari ketiga anak buahnya dan seorang polisi lain bernama Ma Kwun yang seharusnya menggantikan Chan setelah ia pensiun.

Menjelang saat pensiunnya, Chan hampir menyerah untuk menangkap Wong Po. Berkah dari langit seakan turun, ia mendapatkan sebuah barang bukti yang bisa memberatkan sang triad di pengadilan. Bukti berupa rekaman video tersebut sebenarnya kurang kuat sebagai bukti konklusif, tetapi Chan memutuskan untuk mengedit video supaya Wong Po seakan-akan terlihat bersalah. Sadar bahwa Chan hendak menjebaknya, Wong Po juga tidak tinggal diam dan mengirimkan anak buahnya menghabisi anak buah Chan dan Ma Kwun.

Oleh sutradara Wilson Yip, film ini sebenarnya merupakan homage bagi film-film triad pada era 80 dan 90an dulu. Lihat saja adegan-adegan pertarungan yang serabutan dan dilebih-lebihkan (tetapi memiliki nilai nostalgianya sendiri). Dua adegan yang saya amati dikoreografi dengan gaya lebih modern oleh Donnie Yen adalah duel antara dirinya dengan Jack, sang pembunuh kejam bawahan Wong Po, dan duel Donnie Yen melawan Sammo Hung pada klimaks film. Kedua adegan tersebut adalah titik terkuat dalam film ini karena tidak sekedar baku hantam tetapi juga kulminasi dari kebencian dua kubu.

Berbeda dengan film Ong Bak atau Raging Phoenix yang kualitas jalan ceritanya setipis kertas, SPL memiliki jalan cerita yang cukup dalam. Setiap karakter dalam film ini realistis dan tidak ada yang tergambar putih bersih maupun hitam jahat. Wilson Yip juga sangat pintar dalam menunjukkan ironi dalam film ini. Perhatikan bahwa Wong Po sebagai boss besar triad justru bisa meluangkan waktunya dan meletakkan keluarganya sebagai prioritas nomer satu. Bandingkan dengan para penegak hukum yang berusaha menangkapnya tetapi justru menomer-duakan anggota keluarga mereka. Atau bagaimana para penegak hukum itu berlaku persis seperti seorang preman ketika mengobrak-abrik rumah seorang saksi. Ini membuat penonton terkadang bertanya; bila polisi tak memiliki lencananya, apakah sebenarnya mereka sama dengan kriminal yang hendak ditangkapnya?

Sayang bahwa di tengah kerealistisan dan kesuraman yang hendak dibawa oleh Yip dalam film ini, terletak juga banyak inkonsistensi dalam logika ceritanya. Saya akan mengambil dua contoh yang langsung membuat saya geleng-geleng kepala (SPOILER ALERT); yang pertama adalah penangkapan Wong Po. Wong Po memberontak menghadapi para penangkapnya dan perlu tiga orang lakon duel melawan dia untuk menghentikan sepak terjangnya dan membawanya ke kantor polisi. Apakah adegannya keren? Lumayan. Tetapi bagaimana dengan imbasnya ke cerita? Walaupun di tahun 1994 triad di Hong Kong jauh lebih kuat dibanding sekarang (di mana keberadaan triad sudah mulai ditekan oleh pemerintahan China) tetap saja seorang boss triad yang terang-terangan melawan dan menghajar polisi bisa dipenjara. Yang kedua adalah duel terakhir Donnie Yen dan Sammo Hung. Mengingat Wong Po memiliki segudang pengikut, mustahil kalau mereka berduel lama sekali tanpa satupun pengikut Wong Po muncul membantu. Bukankah di tengah film disebutkan bahwa daerah itu dikuasai sepenuhnya oleh Wong Po? Bukankah di tengah film ada adegan di mana ratusan orang berani menantang satuan kepolisian? Ke mana mereka mendadak di akhir film? Yah, setidaknya duel keduanya begitu berkesan saya masih sanggup mengampuni kesalahan – yang sepertinya disengaja – ini.

Apabila kalian penggemar film-film Hong Kong, SPL adalah sebuah tontonan yang tak boleh dilewatkan. Ini adalah sebuah film yang sukses menggabungkan aksi dan cerita dalam satu paket yang menarik.

Note: Ada dua versi ending untuk film ini sepertinya halnya Infernal Affairs. Sad Ending yang saya tonton rasanya merupakan ending yang lebih memuaskan karena lebih menohok dan mengaduk-aduk emosi penonton dengan sejuta perasaan yang dirasakan tiap karakternya.

Score: 7.8

Movie Details
Director: Wilson Yip
Cast: Donnie Yen, Sammo Hung, Simon Yam, Wu Jing
Running Time: 93 Minutes

Comments (9)

Tags: , , ,

Ocean Waves (I Can Hear The Sea)

Posted on 27 January 2010 by Si Tukang Review

Ocean Waves Poster

Ocean Waves Poster

Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah

Lagu yang pernah dinyanyikan mendiang Chrisye ini rasanya pas untuk merangkum kisah Ocean Waves. Sebenarnya saya sempat ragu untuk memasukkan film ini di dalam bagian Studio Ghibli Marathon-ku dikarenakan Ocean Waves tak pernah dirilis di layar lebar tetapi hanya sebagai film langsung tayang di TV. Hayao Miyazaki dan Isao Takahata pun hanya bertindak di belakang layar sehingga menambah keraguan saya akan film ini. Maklum deh, dua film Studio Ghibli yang tidak ditangani mereka: The Cat Returns dan Whisper of the Heart gagal memenangkan hati saya. Hati saya semakin ketar-ketir ketika mencari info mengenai film ini dan menemukan bahwa ia digarap oleh sekumpulan orang-orang muda berusia 20 hingga 30 tahunan. Apa hasilnya bisa memuaskan?

Ketika sekolah di sebuah kota kecil Jepang Kochi kedatangan seorang siswi pindahan dari Tokyo, semua orang menjadi ikut memperhatikannya; apalagi karena gadis bernama Rikako Muto ini memang sangat menawan hati. Taku Morisaki, tokoh utama dalam cerita ini, sudah melulu dicurhati oleh temannya Yutaka Matsuno yang jatuh hati pada Rikako. Demi menghormati perasaan sahabatnya itu, Taku sebisa mungkin berusaha untuk tidak terlalu banyak mendekati Rikako. Sial bagi Taku, Rikako justru mendadak saja mencarinya tanpa sebab saat liburan sekolah di Hawaii karena ingin meminjam uang dari Taku.

Melihat Rikako kehilangan uangnya, Taku tidak tega dan meminjamkan 60.000 Yen padanya. Sial buat Taku yang baik hati, tanpa tahu terima kasih, Risako malah tidak mengembalikan uang itu. Taku yang tidak enak hati karena menganggap Risako lupa juga tidak berani menagih. Betapa berang dirinya ketika beberapa minggu kemudian ia dilapori bahwa Risako hendak pergi ke Tokyo dengan tiket pesawat terbang yang dibeli dengan uang pinjaman dari Taku! Apa yang kemudian terjadi? Apakah Rikako akan memilih antara Taku dan Yutaka? Bagaimanakah kehadiran Rikako kemudian akan mempengaruhi persahabatan keduanya?

Seperti halnya beberapa animasi Ghibli yang diadaptasi dari media novel, Ocean Waves ini diangkat dari novel berjudul Umi ga Kikoeru karangan Saeko Himuro. Walaupun namanya tidak dikenal di luar negaranya, Saeko Himuro adalah salah seorang penulis populer di Jepang yang karyanya tidak hanya diangkat jadi anime tetapi juga drama radio, manga, sampai film. Ocean Waves memang sebuah film yang bisa memotret kehidupan sekolah dengan sangat brilian. Beberapa kali saya tersenyum dengan penuh rasa nostalgia melihat adegan-adegan dalam film ini, terkenang akan cinta monyet yang pernah saya alami juga kejadian-kejadian yang saya alami dulu semasa SMU / kuliah (sekaligus mengingat kenapa yang namanya air mata itu menjadi senjata paling ampuh wanita meluluhkan hati seorang pria).

Beberapa tahun yang lalu pernah ada sebuah serial manga romantis yang cukup ngetop di Indonesia berjudul Salad Days. Bila kamu senang dengan serial manga tersebut (atau Boys Be), Ocean Waves adalah satu film Studio Ghibli yang tidak boleh kamu lewatkan. Ia tidak menawarkan nilai fantasi seperti filmnya Miyazaki atau pesan sosial mendalam seperti filmnya Takahata, tetapi Ocean Waves adalah sebuah perjalanan penuh rasa nostalgia pada saat di mana dunia terasa masih begitu ribet dengan sekolah dan cinta dan masa depan yang belum jelas; sekaligus saat di mana seorang pria rela mengorbankan dunia untuk memenangkan hati seorang wanita.

Note: Sebelum diimpor ke Amerika, Studio Ghibli tidak mentranslasikan judulnya sehingga film ini juga dikenal dengan terjemahan harafiah bahasa Jepangnya: I Can Hear The Sea (jujur saja, saya tidak tahu apa sangkut paut judul dengan isi filmnya). Saeko Himuro juga mengarang sebuah novel lanjutannya dengan judul Umi ga Kikoeru II: Because There Is Love yang sekaligus menjadi karya novel terakhirnya sebelum meninggal karena kanker paru-paru tahun 2008 lalu.

Score: 8.2

Movie Details
Director: Tomomi Mochizuki
Cast: Nobuo Tobita, Toshihiko Seki, Yoko Sakamoto
Running Time: 72 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Detective Conan Movie 1: The Time Bombed Skyscraper

Posted on 25 January 2010 by Si Tukang Review

Detective Conan Movie 1: The Time Bombed Skyscraper Poster

Detective Conan Movie 1: The Time Bombed Skyscraper Poster

Sejak awal kemunculannya pada tahun 1994 dulu, Detektif Conan sudah menjadi salah satu serial detektif yang ngetop di Jepang. Sudah merupakan kebiasaan bila sebuah anime tenar di Jepang, akan dirilis sebuah film layar lebar. Detektif Conan mendapatkan film pertamanya pada tahun 1997. Film layar lebar berjudul Tokei-jikake no matenrou ini kemudian diterjemahkan menjadi The Time Bombed Skyscraper. Bagaimanakah aksi pertama Conan di layar lebar?

Sudah beberapa saat lamanya Shinichi Kudo menghilang dari kehidupan Ran. Walaupun sebenarnya ia menciut karena diracuni oleh para komplotan jubah hitam, Shinichi Kudo alias Conan Edogawa berniat merahasiakan identitas aslinya dari Ran supaya sang pacar tidak ikut ditarget oleh komplotan jubah hitam. Suatu hari, Shinichi mendapatkan undangan pesta seorang aristek terkenal Teiji Moriya. Karena tidak bisa datang, Shinichi kemudian meminta Ran mengajak Conan dan Kogoro untuk datang menggantikannya. Ran menyetujui dengan syarat bahwa Shinichi harus pergi berkencan di hari ultah Shinichi. Belum sempat Conan tahu menjawab apa, Ran keburu memutuskan hubungan telepon.

Sakit kepala Conan teralihkan ketika hari di mana ia seharusnya bertemu dengan Ran berubah menjadi hari ancaman bagi seluruh kota Tokyo. Seorang misterius menelepon Shinichi dan mengancam akan meledakkan bom apabila Shinichi tidak muncul. Apa yang bermula dari teror bom-bom kecil mendadak meningkat secara signifikan setelah sang pelaku mengatakan akan meledakkan kereta-kereta di Tokyo. Para polisi, Kogoro, dan Conan semua dibuat panik oleh tingkah si pelaku. Siapa sebenarnya pelaku yang mengancam pengeboman itu? Apakah Ran pada akhirnya bisa bertemu dengan Shinichi?

Sebagai film pertama, kelihatannya The Time Bombed Skyscrapers lebih menonjolkan unsur aksi ketimbang misteri. Hampir sepanjang film kita melihat Conan tunggang-langgang ke sana-sini untuk menghentikan ancaman bom. Sekilas saya malahan teringat dengan Die Hard 3: Die Hard With A Vengeance di mana Bruce Willis dan Samuel L. Jackson dipaksa bermain permainan Simon Says. Misterinya cenderung mudah dipecahkan dan agak terlalu mengada-ada. Saya dengan mudah bisa menebak siapa pelakunya menjelang pertengahan film, walaupun agak kebingungan dengan motif si pelaku (dan ketika dijelaskan pun kok terasa absurd ya?). Film pertama Conan ini juga terasa cukup baik menyorot semua karakter dalam serialnya. Perlu diingat bahwa ini masih merupakan tahun-tahun awal Conan sehingga karakter pendukungnya belum tumpah ruah seperti sekarang. Toh bagi saya ini merupakan berkat karena karakter pendukung Conan jadi benar-benar memiliki peran dalam cerita, bukan sekedar pelengkap asal nongol saja.

Ada satu kelemahan dari film ini yang saya nilai agak menganggu, yaitu betapa seringnya Conan mencibir dan menyipitkan mata sambil berkomentar dalam hati mendengar orang lain berbicara. Saya tahu kalau ini memang gaya khasnya, tetapi kalau dia mengulang-ulangnya setiap beberapa menit sekali (bahkan ketika keadaan tengah serius), hal ini mulai terasa menyebalkan. Juga beberapa karakter terlihat terlalu gampang melupakan sesuatu. (SPOILER ALERT) Ran terlalu mudah memaafkan Shinichi yang tidak nongol di ending film misalnya, atau Kogoro yang tadinya panik dengan keadaan Ran tetapi kembali berubah jadi sosok bodoh biasanya begitu diwawancarai wartawan. Padahal momen-momen yang saya sebutkan di atas merupakan saat yang pas untuk menggali lebih dalam karakter-karakter tersebut. Sayangnya daripada melakukan itu, sang sutradara memutuskan bermain aman.

Toh dengan plot yang terus bergerak cepat tanpa memberi kesempatan penonton terlalu mempertanyakan logika, ditambah rentetan aksi yang cukup seru, saya jauh lebih enjoy menonton film pertama Conan dibandingkan film terakhirnya (The Raven Chaser).

Note: Kalau diperhatikan, animasi dalam film pertama ini kualitasnya kalah jauh baik dari segi ketajaman animasi maupun design karakter dibanding film-film selanjutnya.

Score: 8.5

Movie Details
Director: Kanetsugu Kodama
Cast: Minami Takayaman, Kappei Yamaguchi, Wakana Yamazaki
Running Time: 97 Minutes

Comments (6)

Tags: , , , , , ,

Detektif Conan Movie Marathon

Posted on 25 January 2010 by Si Tukang Review

Siapa yang tidak kenal Detektif Conan? Kalau kalian adalah penggemar anime / manga Jepang pastinya sudah membaca atau setidaknya mendengar karya Aoyama Gosho akan petualangan dari detektif terkenal SMU yang badannya dikecilkan ini.

Mengingat review saya mengenai film Detektif Conan yang terakhir: The Raven Chaser mendapat cukup banyak tanggapan, saya mendapatkan ide untuk proyek Marathon saya berikutnya. Seiring dengan (hampir) berakhirnya marathon review Studio Ghibli (yang makan waktu jauh lebih lama dari yang sebelumnya saya proyeksikan – mohon maaf!), inilah proyek marathon dari Tukang Review berikutnya: Detektif Conan Movie Marathon yang akan mereview lengkap film pertama hingga terakhir sang detektif cilik (mengecualikan The Raven Chaser yang sudah direview).

Sebelumnya, saya hendak mengucapkan terima kasih kepada nezuko yang telah membantu penyediaan film-film Detektif Conan untuk direview. Tanpa bantuannya, review marathon ini tidak akan tercipta.

There’s only one truth! Please enjoy the new Tukang Review’s movie marathon!

Comments (1)

Tags: , , ,

Madagascar

Posted on 24 January 2010 by Si Tukang Review

Madagascar Poster

Madagascar Poster

(Review Ditulis Di Tahun 2005)

Jika sebelum ini Dreamworks selalu diingat dengan karya monumental mereka Shrek dan Shrek 2, akhirnya mereka berusaha menjadi lebih variatif dengan menelurkan beberapa karya baru dalam film animasi. Percobaan pertama mereka adalah Shark Tale. Sebuah film campuran dengan ramuan komedi ala Dreamworks dan Finding Nemo. Hasilnya cukup memuaskan. Kendati banyak kritikus mencibir film ini, khayalak ramai (termasuk penulis) menikmati film ini dan film ini mampu meraup lebih dari 150 Juta US Dollar. Percobaan kedua Dreamworks kali ini tidak main-main. Bila Shark Tale diedarkan di Fall 2004 guna menghindari persaingan dengan film-film masa liburan (baca: The Incredibles dan The Polar Express), maka Madagascar – film keduanya diluncurkan dengan penuh percaya diri menyambut gegap gempita Summer 2005.

Madagascar mengisahkan mengenai empat sekawan yang hidup di kebun binatang dengan ceria. Ada Alex sang singa yang menjadi bintang dari kebun binatang itu. Marty si kuda zebra yang kocak dan usil, Melman si jerapah yang menghabiskan lebih banyak waktunya dirawat ketimbang tidak, dan terakhir Gloria si kuda nil gendut yang adalah bintang pertunjukan air. Semuanya hidup bahagia berdampingan tanpa tahu kodrat mereka yang sesungguhnya di alam bebas. Dan mereka memang tak perlu tahu, bukankah mereka semua ditakdirkan hidup di kebun binatang dan menghibur anak-anak sampai akhir hayat mereka ? Seharusnya sih begitu, kalau bukan Marty yang menghendaki kehidupan bebas di alam liar. Marty yang kemudian memutuskan jalan-jalan di kota New York dikejar oleh ketiga sahabatnya itu. Celaka bagi mereka, tanpa sadar mereka sudah menciptakan kekisruhan luar biasa di kota, dan para aktivitis binatang memutuskan untuk berdemonstrasi – mengirim mereka pada kehidupan di alam bebas.

Alih-alih dikirim di Afrika yang adalah tujuan mereka semula, kapal mereka melenceng gara-gara pinguin-pinguin psikopat mengambil alih kapal. Empat sekawan inipun terdampar di Madagascar, dan mulai mempelajari kodrat mereka masing-masing pada rantai makanan. Bisakah persahabatan mereka tetap terjaga ? Atau akankah Alex menjadi pemangsa bagi teman-temannya yang lain ?

Formula yang ditawarkan oleh Dreamworks masih sama untuk Madagascar. Humor-humor campur aduk yang bisa dinikmati orang dewasa maupun anak kecil, kemudian sindiran-sindiran satire pada kehidupan sosial masyarakat, dan tentu saja ramuan terampuhnya; nama-nama besar sebagai pengisi suaranya. Bila Will Smith, Angelina Jolie, Jack Black dipanggil untuk Shark Tale, maka kwartet binatang ini diisi oleh Ben Stiller yang sukses dalam Meet The Fockers, Chris Rock sang komedian ternama, David Schwimmer dari Friends, dan Jada Pinkett Smith – alias Mrs Will Smith ! Bukan nama-nama sembarangan tentunya. Dan sekali lagi komposisi ini diramu dengan pas oleh Dreamworks.

Memang film ini tidak bisa secerdik Shrek dalam segi humor maupun ceritanya, tetapi Madagascar tidak kalah dari Shark Tale. Bila tema yang diemban Shrek serta Shark Tale hampir serupa yakni ‘terimalah dirimu sendiri’ dan ‘cinta’. Dalam Madagascar, dikemas tema baru yakni ‘persahabatan sejat’ dan ‘kelas sosial dalam masyarakat’. Bagaimana Alex dan Marty sama-sama berkorban demi sahabatnya tentu sebuah ajaran yang berharga bagi para anak-anak. Untuk segi ringannya pun tak lupa Dreamworks menyisipkan banyak karakter menarik; dari kwartet binarang itu, tentunya Melmanlah yang memiliki pesona terbesar. He is so Ross ! Kemudian para penguin psikopat akan menarik tawa banyak orang. Sementara Mort si Lemur dengan mata yang besar dan bulat itu tentunya membuat setiap wanita menjerit “Cute…“.

Bukannya Madagascar tanpa kekurangan, perubahan tone cerita yang ceria menjadi gelap menjelang pertengahan cerita agak mebingungkan para anak-anak, contohnya adalah saat lagu “What A Wondeful World” yang justru kontras dengan apa yang tergambar di layar. Kemudian kekurangan lagu-lagu musikal selain tembang “You Gotta Move It” cukup menganggu. Bukankah Shrek dan Shark Tale juga dikenang karena tembang-tembang ngebeat yang menghidupkan cerita sepanjang film ? Kelemahan terakhir dalam film ini adalah kurangnya klimaks dalam film ini. Baru film ini terasa mencapai pertengahan klimaksnya tahu-tahu segalanya telah usai – emosi penonton belum sampai pada puncaknya rasanya. Agak disayangkan, karena bila film ini mampu ditarik sekitar 15 – 30 menit lebih panjang tentu lebih memuaskan.

Pada akhirnya, Madagascar tetap fun untuk ditonton. Bagi mereka yang membawa adik atau anak-anak mereka, pastikanlah berada di samping mereka untuk tetap memberikan penjelasan mengenai jalan cerita yang ada. You Gotta Move It !

Score: 7.0

Movie Details
Director: Eric Darnell
Cast: Ben Stiller, David Schwimmer, Jada Pinkett Smith, Chris Rock
Running Time: 86 Minutes

Comments (1)

Tags: , , , ,

Nothing But the Truth (2008)

Posted on 24 January 2010 by Si Tukang Review

Nothing But the Truth Poster

Nothing But the Truth Poster

Sebagai orang Indonesia, kalian tentu tahu bahwa salah satu kasus politik yang paling menghebohkan belakangan ini adalah perseteruan antara dua penegak hukum: Cicak VS Buaya. Ternyata kasus seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Pada tahun 2005, Amerika pernah dihebohkan ketika seorang wartawan bernama Judith Miller menolak memberi tahu pengadilan siapa informan yang membocorkan kepadanya bahwa Valerie Palmer seorang agen CIA. Gara-gara ini, Judith pun terpaksa mendekam di penjara selama lebih dari dua bulan. Nothing But the Truth oleh studio Yari mengambil inspirasi dari kasus tersebut. Sayang, film ini tak pernah diedarkan di Amerika karena studio filmnya keburu bangkrut.

Presiden Amerika tertembak! Setelah melalui penyelidikan, militer Amerika memutuskan bahwa negara Venezuela bertanggung jawab untuk serangan tersebut dan membalas dengan cara menyerang Venezuela. Suatu hal yang mengejutkan kemudian diungkapkan oleh Rachel Armstrong, seorang wartawan dari Capital Sun-Times. Ia menyatakan, setelah mendapat bocoran, bahwa sebenarnya serangan ke Venezuela sama sekali tidak terkait dengan penembakan presiden. Laporan ini jelas-jelas menyerang kredibilitas Rumah Putih, apalagi karena Rachel mengatakan bahwa sumber misterius ini merujuk pada seorang agen CIA bernama Erica Van Doren.

Rachel dan instansi surat kabarnya langsung mendapatkan tekanan besar dari pemerintah yang ingin tahu siapa gerangan yang membocorkan kepada Rachel bahwa Erica adalah seorang agen CIA. Sebaliknya, Erica juga diselidiki oleh CIA yang curiga bahwa agen CIA ini siapa tahu saja berbelot dari negara. Rachel memutuskan untuk tutup mulut sehingga agen penyelidiknya, Patton Dubois, tidak punya pilihan selain memasukkannya ke penjara. Patton berharap bahwa mental Rachel akan hancur di penjara dan dia akan ‘bernyanyi’. Apakah pada akhirnya Rachel akan menyebutkan dari siapa sumbernya? Bagaimana nasib Rachel dan Erica setelah negara menganggap mereka berbahaya?

Apa yang paling saya senangi dari film garapan Rod Lurie ini adalah penggambarannya yang sangat realistis. Dalam film ini tidak ada pihak yang digambarkan jahat. Bahkan Patton Dubois yang terlihat ‘kejam’ karena memasukkan Rachel ke dalam penjara pun sesungguhnya memiliki alasan valid untuk melakukan hal itu. Semuanya kembali pada diri penonton sendiri; apakah kalian merasa bahwa kebebasan pers lebih penting atau integritas sebuah negara? Kalau kalian merasa sudah mengambil keputusan sebelum film berakhir, mungkin sekali twist pada endingnya membuat kalian kembali mempertanyakan keputusanmu.

Nothing But the Truth ini juga diperkuat oleh nama-nama tenar yang bermain maksimal dalam porsi peran masing-masing. Saya senang sekali dengan Rachel Armstrong yang diperankan Kate Beckinsale. Kate menghidupkan Rachel sebagai sosok wanita yang kuat dan berdikari di layar kaca. Bahkan di bawah tekanan penjara pun ia tidak goyah, sesuatu yang jarang sekali saya lihat pada karakter-karakter wanita di layar lebar. Walau ia tidak angkat senjata seperti Sarah Connor, Ellen Ripley bahkan Selene si vampir (yang juga diperankan Kate Beckinsale), Rachel mendapatkan simpati dan rasa hormatku. Sebagai karakter pendukung, Matt Dillon dan Alan Alda juga bermain dengan optimal. Keduanya nampak seperti karakter generik pada awal film di mana Dillon sepertinya jadi penuntut yang brengsek dan tidak berperikemanusiaan sementara Alan Alda menjadi Alan Burnside yang cuma pengacara matre semata. Toh seiring dengan perkembangan film, penonton melihat karakter mereka tumbuh dan jadi bisa bersimpati akan apa-apa yang mereka lakukan.

Bila ada kelemahan dalam film yang hampir sempurna ini, Nothing But the Truth mengharuskan kamu tahu sedikit banyak mengenai sistem hukum (lebih baik lagi bila kamu tahu sistem hukum di Amerika). Apabila kamu gemar dengan film adaptasi novel John Grisham seperti The Pelican Brief, A Few Good Men, atau The Firm, film ini pasti akan memuaskanmu.

Note: Floyd Abrams yang dalam film ini berperan sebagai hakim kasus Rachel sebenarnya adalah pengacara untuk Judith Miller dalam kehidupan nyata.

Score: 9.0

Movie Details
Director: Rod Lurie
Cast: Kate Beckinsale, Matt Dillon, Alan Alda, Vera Farmiga, David Schwimmer
Running Time: 108 Minutes

Comments (4)

Advertise Here
Advertise Here