Archive | December, 2009

Tags: , , , , ,

The Hurt Locker

Posted on 31 December 2009 by Si Tukang Review

The Hurt Locker Poster

The Hurt Locker Poster

Film ini adalah salah satu film yang paling banyak mendapat perbincangan pada tahun ini. Bersama dengan Up in the Air, banyak pihak memprediksikan bahwa The Hurt Locker yang akan bersaing mendapatkan penghargaan film terbaik tahun ini. Bahkan dalam daftar film terbaik tahun 2009, banyak kritisi Amerika dengan pe-de memasukkan film besutan Kathryn Bigelow ini dalam daftar top 10 film mereka. Setelah beberapa bulan memburu dengan penasaran, akhirnya saya mendapatkan juga DVDnya. Saya bahkan sudah menggembar-gemborkan The Hurt Locker sangat berpeluang masuk dalam top 10 film saya dalam status Facebookku. Nah, tepat di saat pergantian tahun ini, saya menontonnya. Bagaimana hasilnya?

War is drug”. Kutipan dari buku War Is A Force That Gives Us Meaning ini menjadi pembukaan bagi The Hurt Locker. Beberapa orang mungkin mengernyitkan dahi keheranan. Bagaimana mungkin pengalaman di tengah medan perang menjadi sesuatu yang diinginkan? Tidakkah banyak film selama ini justru menggambarkan orang trauma, takut, dan tak ingin lagi terlibat dalam perang setelah melewatinya? Mungkin memang begitu bagi beberapa orang, tetapi tidak untuk Sersan William James. Berada dalam regu penjinak bom Irak, ia berada pada tempat yang layak disebut ‘neraka di atas bumi’. Hidup biasa-biasa saja di kota Baghdad bagi tentara Amerika sudah sangat berbahaya seperti yang dikatakan Sersan Sanborn saat memberi instruksi pada James “Mereka kadang melempari kita mortar di malam hari”. Masuk dalam regu penjinak bom? Itu sama saja bertaruh dengan nyawamu setiap harinya.

Tapi James berbeda dengan orang kebanyakan. Bila yang lain takut, ia justru selalu merangsek maju. Menjinakkan lebih dari 800 bom selama karirnya, ia selalu merasakan ketegangan tersendiri yang hanya bisa ia puaskan apabila ia berhasil menon-aktifkan bom. Pada awalnya ketika membaca review singkat mengenai film ini, saya keburu mendiskreditkannya sebagai sosok semi-psikopat yang juga adrenaline junkie. Betapa jauhnya prediksi saya. Karakter William James ini sangat tiga-dimensional dan langsung masuk dalam deretan karakter paling memorable pada tahun ini. Sampai akhirnya pun saya tak pernah bisa sepenuhnya mengerti apa yang berada di benaknya, tapi jelas ia jauh dari sosok abnormal. Ia hanyalah seorang yang ingin berada di medan perang – karena itu satu-satunya tempat ia merasa seperti rumah. Ironis memang, tetapi nyata. Bayangkan bila saya mengingat Bella dalam New Moon yang menjadi adrenaline junkie demi  sekelebatan lewatnya bayangan si Edward. Duh, kelasnya jauh sekali!

Tentu saja penampilan Jeremy Renner bukanlah satu-satunya daya tarik dalam The Hurt Locker. Penyutradaraan Kahtryn Bigelow benar-benar luar biasa realistis dalam menggambarkan keadaan Irak saat ini. Sebelum menonton film ini, saya sering berpikir kenapa tentara Amerika sering mati saat melakukan perang di Irak padahal mereka sudah dilengkapi dengan peralatan yang jauh lebih modern; apakah mereka tidak terlatih? Setelah menonton The Hurt Locker, saya kini mengerti bahwa tak peduli peralatan semodern apapun, tak peduli sehebat apapun dirimu, semuanya takkan bisa menyelamatkanmu bila maut memang mengancam menjemputmu dari setiap penjuru. Kathryn Bigelow mensyuting film ini dalam setting Yordania dan Kuwait, hanya beberapa kilometer dari perbatasan negara tersebut dengan Irak sehingga suasana perang benar-benar terasa. Mulai dari menon-aktifkan bom sampai duel sniper, setiap adegan perang dalam film ini terasa mencekam. Saya terutama kagum dengan bagaimana Bigelow mengambil gambar mengenai orang-orang Irak yang memperhatikan tentara Amerika bekerja. Pernahkah kamu seperti melakukan ujian – yang benar salah jawabannya bisa membunuhmu – sambil diawasi oleh guru pengawas ujianmu? Seperti itulah kesannya.

Jeremy Renner mungkin sorotan utama dalam film ini, tetapi Anthony Mackie dan Brian Geraghty pun tidak bisa diremehkan. Penampilan keduanya sebagai Sanborn dan Owen (keduanya adalah backup yang mengawasi keadaan James saat menjinakkan bom) patut dipuji. Chemistry antara ketiganya terasa mengalir tanpa dibuat-buat. Sanborn contohnya semula menerima keberadaan James sebagai pengganti kapten timnya yang tewas, lantas jengkel gara-gara tingkah laku James yang suka mengancam bahaya (berarti turut mengancam nyawanya dan Owen juga), sampai pada akhirnya menerima kenyentrikan James sebagai bagian dari timnya.

Pada akhirnya, saya tidak memasukkan film ini dalam daftar sepuluh besar film terbaik buatku tahun ini bukan karena kekurangannya, tetapi lebih karena saya lebih menyukai genre science fiction ketimbang perang. Toh, lepas dari apakah kamu penggemar film bergenre perang atau bukan, The Hurt Locker adalah tontonan yang tak boleh kamu lewatkan tahun ini. Menegangkan dan realistis, Kathryn Bigelow berhasil menyuguhkan film terbaik darinya setelah absen tujuh tahun pasca kegagalan K-19: The Widowmaker.

Note: Menarik untuk dicatat bahwa setelah vakum lama, Kathryn Bigelow seakan ‘memilih’ tahun yang sama untuk comeback dengan mantan suaminya. Sepertinya akan seru bila film The Hurt Locker-nya Bigelow nanti bersaing masuk nominasi yang sama dengan Avatar-nya James Cameron.

Score: 8.5

Movie Details
Director: Kathryn Bigelow
Cast: Jeremy Renner, Anthony Mackie, Brian Geraghty
Running Time: 131 Minutes

Comments (4)

Tags: , , , , , , ,

Gran Turismo (PSP)

Posted on 30 December 2009 by Si Tukang Review

Gran Turismo (PSP) Cover

Gran Turismo (PSP) Cover

Dunia game racing berhutang budi pada Gran Turismo. Sebelum Gran Turismo memang sudah banyak game racing 3D seperti Daytona atau Need for Speed, tetapi adalah Gran Turismo yang membawa para gamer menuju level realistis berikutnya. Setiap mobil memiliki feelnya sendiri saat dibawa, merk-merk mobil ternama ikut memasukkan mobilnya untuk dilisensi resmi pada game Sony tersebut. Bagi beberapa penggemar sejatinya, Gran Turismo lebih dari sekedar sebuah game racing – mereka menyebutnya sebagai driving simulator. Sejarah kemudian mencatat Gran Turismo sebagai game dengan kualitas yang apik (dipuji oleh semua majalah dan situs game internasional) sampai game yang sangat laris di Playstation dengan menjual lebih dari 10 juta kopi di seluruh dunia.

Walaupun pamor dari Gran Turismo akhir-akhir ini meredup karena kalah cepat bersaing merilis title dari Need for Speed, masih banyak fans fanatik yang menantikan iterasi kelima game ini – yang seharusnya hadir untuk PS3 tahun depan. Di lain pihak, mungkin hanya sedikit gamer yang ingat bahwa di tahun 2004 saat PSP dirilis dulu, Sony juga menjanjikan pengalaman Gran Turismo portable dalam format PSP. Sayangnya, proyek ini kemudian mengalami penundaan dan perubahan selama lima tahun (Wow! Talk about development hell!) sehingga baru dirilis beberapa bulan yang lalu. Apakah penantian lama penggemar Gran Turismo terbayarkan dalam versi portabelnya ini?

Salah satu hal yang langsung mencolok adalah hilangnya Career Mode dalam versi PSP ini. Mungkin ini bakalan dianggap mengecewakan oleh para gamer, karena tak bisa disangkal bahwa Career Mode dalam Gran Turismo adalah fitur yang paling menyedot gamer. Cara-cara tune-up mobil (buat yang tidak gemar otomotif: mengupgrade atau melevel up mobil bawaanmu) juga lebih disederhanakan kustomisasinya. Dengan lenyapnya dua fitur terpenting dalam Gran Turismo di versi PSP ini, kalian mungkin berpikir kalau sang developer – Polyphony Digital – sudah gagal memampatkan driving simulator ini dalam dunia handheld.

Enyahkan pikiran itu jauh-jauh. Kompensasi lenyapnya dua mode itu saya terima dengan lapang dada begitu sadar jumlah mobil yang disediakan Gran Turismo. Tidak kurang dari 800 (yap, bukan 80 tapi 800!) dari berbagai macam pabrikan siap kalian kendalikan dalam game ini. Yang lebih luar biasa, tidak ada perasaan bahwa mobil-mobil tersebut sekedar dimampatkan masuk saja. Semua mobil – mulai dari yang biasa sampai yang langka – memiliki cara pembawaan yang berbeda. Yang sudah sering menjajal dunia otomotif bisa langsung tancap, sementara gamer yang baru terhadap dunia itu bisa membaca detail yang disertakan dengan datangnya tiap mobil.

Sajian utama dalam Gran Turismo adalah balapan Single Mode-nya. Tak peduli apakah kamu seorang veteran atau pendatang baru seri ini, menunya yang sederhana bisa dengan mudah memandu anda dalam dunia balap. Pilih mobilmu, pilih trackmu, dan kamu siap membalap bersama tiga lawan yang dikendalikan oleh AI computer. Tak peduli ranking berapa kamu, kamu akan mendapatkan hadiah uang (tentu saja jumlah yang kamu dapatkan saat finish menjadi juara dan finish di posisi buncit berbeda). Uang ini bisa kamu kumpulkan untuk kamu belikan mobil baru idamanmu atau untuk mentune-up mobil lamamu.

Bicara soal track, game ini menyediakan 35 track yang bisa kamu jajal. Beberapa diambil dari lokasi asli seperti di Fuji atau Seoul. Beberapa lagi adalah track lama yang pernah hadir dalam Gran Turismo lama. Masing-masing track memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Beberapa hanya memiliki track-track lurus yang mudah diselesaikan, sementara beberapa lagi memiliki banyak belokan tajam yang bakalan menyulitkanmu bila kamu tak benar-benar ‘menyatu’ dengan mobilmu (lebay mode: on). Kuncinya sih latihan – latihan – latihan. Kalaupun kalah, jajal lagi track itu guna menimbun pundi-pundi uangmu. 35 track tidak cukup? Ada opsi reverse yang secara tidak langsung mendobel jumlah track yang disediakan game ini jadi 70!

Dengan 800 mobil yang bisa kamu beli, bakalan butuh waktu yang sangat – sangat lama untukmu mengumpulkan uang, baik dari Single Mode atau Challenge Mode. Untungnya Gran Turismo memberikan opsi share atau trade mobil secara Wireless dengan temanmu. Bila kamu punya teman yang membeli mobil berbeda denganmu (galeri mobil selalu berubah tiap setelah kamu menyelesaikan balapan), mereka punya dua opsi: membaginya atau menukarnya. Share / Membagi langsung mengunlock mobil itu untukmu tanpa kamu harus membelinya lagi. Hanya saja untuk mobil-mobil langka, kamu tidak bisa langsung saja berbagi atau menerimanya dari temanmu, tetapi harus dengan cara Trade / Penukaran. Saya tidak tahu denganmu, tetapi bagiku sistem ini member keleluasaan buat para gamer.

Apabila kamu seorang penggemar game racing yang haus game berkualitas di PSP, tidak perlu cari jauh-jauh lagi karena Gran Turismo sudah hadir. Bila kamu punya PS3 juga, kamu dapat keuntungan ganda karena Sony sudah menjanjikan bahwa Gran Turismo PSP ini akan bisa dihubungkan dengan Gran Turismo 5 nanti.

Final Verdict

Gameplay: 8.5
Pengurangan Career Mode dan dibatasinya sistem kustomisasi mobil mungkin mengecewakan bagi beberapa pihak, tetapi ayolah… 800 mobil? 70 track? Semuanya itu dengan feel yang berbeda bagi tiap mobilnya? And… in a PSP?

Graphic / Sound: 8.5
Senada dengan apa yang kutulis di atas, 800 mobil dengan design yang berbeda (dan mendapat lisensi resmi dari setiap pabrikan mobil). 35 track yang ditawarkan dalam game ini juga memiliki daerah balap yang berbeda dari dalam sirkuit sampai alam pegunungan.

Play Time: 10
Jelas amat sangat lama. Kamu bisa mencoba menjajal dan menguasai 70 track yang ditawarkan game ini. Belum lagi mengumpulkan uang untuk membeli 800 mobil yang tersedia. Atau bersaing balap menghadapi kawan-kawanmu. The race is limitless!

Overall: 9.0

Game Details
Developer: Polyphony Digitals
Publisher: Sony
Genre: Driving Simulation / Racing

Comments (4)

Tags: , , ,

Home on the Range

Posted on 29 December 2009 by Si Tukang Review

Home on the Range Poster

Home on the Range Poster

(Review Ditulis di Tahun 2006)

Adalah rahasia umum bahwa jaman kesuksesan Disney dalam dunia 2D semakin kabur semenjak Pixar mempelopori munculnya film animasi 3D lewat Toy Story. Tercatat tak satupun animasi 2D Disney yang mampu melebihi perolehan animasi 3D Pixar ketika dirilis pada tahun yang sama. Hunchback of Notre Dame harus bertekuk lutut pada Toy Story, Tarzan kalah perolehan dengan Toy Story 2, Treasure Planet dilibas habis oleh Monster Inc. dan Brother Bear hanya bisa meraup seperempat bahkan kurang pendapatan dari Finding Nemo. Pada pertaruhan terakhir mereka, Disney merilis Home on the Range. Sebuah film animasi 2D yang memakan biaya besar (konon hampir setara dengan Brother Bear). Ironisnya, kendati sudah memakai kemampuan maksimal mereka – memang terlihat bahwa dunia 2D telah berlalu.

Home on the Range bercerita mengenai tiga ekor sapi yang memburu seorang kriminal guna menyelamatkan peternakan mereka yang tengah terpuruk dan akan dijual. Maggie sang sapi baru saja kehilangan peternakannya yang terjual. Sekarang ini saat ia dipindah ke peternakan baru ironisnya akan dijual juga. Tak ingin kehilangan lagi peternakannya, Maggie mengajak dua sapi di tempat itu untuk bekerja sama menyelamatkan peternakan mereka. Hendak menangkap sang penjahat, bukanlah urusan yang mudah karena mereka harus bersaing dengan Rico sang pemburu hadiah dan juga si kuda besar kepala. Belum lagi Maggie dan Mrs Calloway yang sifatnya begitu bertolak belakang sehingga nampaknya sulit menyatukan mereka! Berhasilkah mereka menyelamatkan peternakan mereka?

Ironisnya, film ini konon disebut-sebut sebagai penutup film tradisional 2D mereka setelah Snow White. Tetapi film ini benar-benar gagal total dalam segala segi. Bila Disney biasanya dikenal akan karyanya yang klasik (Perhatikan semenjak jaman Beauty and The Beast sampai Tarzan yang tiap karakternya begitu memorable), maka film ini seakan hanya pamer nama Disney tanpa saya tahu lagi apakah memang berasal dari studio yang sama yang telah menelurkan hits-hits pada saat saya kecil dahulu. Jalinan cerita dan karakterisasi dalam film ini begitu buruknya sehingga untuk pertama kalinya dalam menonton film animasi saya dipaksa untuk membuka mata saya hingga akhir film. Hampir tak sekalipun saya berhasil dibuat tersenyum dalam film ini. Entah apa yang keliru. Menjelang pengakhiran memang terasa ada sedikit peningkatan dalam kualitas cerita, tetapi sayangnya segalanya sudah terlalu terlambat untuk dibenahi.

Satu-satunya segi yang saya nilai patut dipuji adalah pada lagu-lagunya. Saya memang sudah kangen sekali dengan lagu-lagunya Alan Menken yang terakhir saya nikmati ketika menyaksikan Hercules dengan Go the Distance-nya Michael Bolton dahulu. Ternyata berpuasa dari Disney cukup lama tidak membuat Menken kehilangan sentuhannya. Musik unik bergaya koboi dengan dibalut kekhasan Yodeling adalah jaminan kepuasan tersendiri. Pun demikian dengan lagu-lagu yang muncul dari film ini, saya rasa kendati filmnya sendiri buruk tetapi OST dalam film ini sangat layak untuk dimiliki. At least dalam hal ini Disney tidak mengecewakan saya. Satu-satunya tawa lebar yang saya dapat dalam film ini ironisnya bukan terletak pada lelucon khas Disney yang hangat; melainkan dari sindiran Disney kepada DreamWorks (pada film Spirit: Stallion of Chimaron). Sindiran; sebuah komedi bergaya DreamWorks yang akhirnya jadi satu-satunya cara film ini yang berhasil memancing tawa – ironisnya.

Score: 4.0

Movie Details
Director: Will Finn, John Sanford
Cast: G.W. Bailey, Rosseane, Steve Buscemi, Judi Dench
Running Time: 76 Minutes

Comments (0)

Tags: , ,

Hellboy: Sword of Storms

Posted on 29 December 2009 by Si Tukang Review

hellboy-sword-of-storms

(Review Ditulis Di Tahun 2007)

Kesuksesan Hellboy pada tahun 2004 lalu sebagai sebuah film superhero kelas B tidak terlepas dari campur tangan sutradara Guillermo del Toro. Sebuah sekuel telah dipersiapkan untuk tahun 2008 nanti dengan budget lebih mewah dan efek lebih spesial – tetapi sebelum itu semua dihadirkan, kita lebih dahulu disuguhi Hellboy animasi yang langsung rilis ke DVD: Sword of Storms. Guillermo del Toro bukanlah orang yang berdiri sebagai sutradaranya tetapi hanya mengawasi dari belakang sebagai sang produser.

Film ini sendiri merupakan sekuel langsung dari Hellboy dulu. Dikisahkan kalau sekarang Hellboy, Liz, dan Abe Sapien semakin padu dalam bekerja sama melakukan tugas-tugas mereka. Pada awal film mereka berhadapan dengan monster kelelawar raksasa. Liz memang sudah bisa lebih menerima keadaannya sebagai “bom berjalan” terutama dengan dukungan Hellboy dan Abe. Tanpa disadari oleh ketiganya, sebuah kejadian mengerikan tengah terjadi di belahan dunia timur sana…

Seorang professor arkeolog tanpa sengaja melepas segel kutukan dua putra langit. Dua putra langit itu adalah Lightning (Petir) dan Thunder (Guntur). Keduanya ingin menguasai dunia dengan cara melepaskan saudara mereka sang naga dari ikatan segelnya. Tercatat bahwa ratusan tahun yang lalu seorang samurai pemberani menyegel kedua dewa itu guna menyelamatkan putri yang dia sayangi (putri itu hendak dijadikan korban untuk memadamkam amarah dua bersaudara dewa itu). Tentu saja Lightning dan Thunder tidak lupa dengan misi mereka walau ratusan tahun sudah berlalu.

Hellboy yang baru pulang bertugas dari melawan para kelelawar pun diberangkatkan segera ke lokasi untuk menyelidiki kerusakan di sana. Anehnya, mendadak saja Hellboy hilang dan dibawa ke dimensi lain untuk bertarung dengan para iblis monster dari legenda-legenda mitologi hantu timur. Berhasilkah Hellboy menyelamatkan dirinya dari dimensi yang hilang itu? Apakah para monster berwujud dewa (atau kebalikannya? Entahlah) berhasil menguasai dunia? Lantas bagaimana dengan sang samurai pemberani ratusan tahun yang lampau itu?

Buruk, jelek, dan membosankan. Itulah pendapat saya seusai menonton film Hellboy ini. Saya tidak menyukai legenda-legenda hantu timur dari Jepang dan menonton Hellboy yang melakukan beberapa kesalahan dan menggabungkan mitologi-mitologi itu membuat saya lebih kesal lagi. Perpindahan dimensi Hellboy dari dunia kita ke dunia para hantu itu saja sudah membuat jalan cerita dari film ini bisa ditertawakan. Ayolah, film animasi bukan berarti harus memiliki cerita yang hanya bisa dinikmati anak berusia di bawah lima tahun bukan?

Apabila ada satu hal yang menolong penilaian saya akan Hellboy adalah keseriusan dalam menggarap aspek eksternal dalam film ini. Semua aktor dan artis dari film pertamanya dipertahankan untuk mengisi suara mereka di dalam film ini termasuk Perlman, Blair, maupun Jones. Hal ini memberi penonton sebuah kesan yang familiar mendengar suara-suara para jagoan mereka dahulu. Film ini juga memberikan beberapa poin yang bisa dikembangkan lebih lanjut lagi di film keduanya (hint hint: kemampuan Sherman, dan kemungkinan hubungan romantis antara Sapiens dan Sherman). Film ini juga digarap dengan animasi yang sebisa mungkin menggabungkan kedua jenis budaya timur dan barat.

Walau begitu secara keseluruhan, film ini tetap mengecewakan saya sebagai seorang penggemar Hellboy. Setelah menonton film ini, saya malah tidak jadi terlalu mengharapkan film sekuel dari sang pemilik Right Hand of Doom ini.

Score: 5.5

Movie Details
Director: Phil Weinstein
Cast: Ron Perlman, Selma Blair, Doug Jones
Running Time: 96 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , , , ,

The Superhero Identity Crisis Quiz

Posted on 29 December 2009 by Si Tukang Review

superman-quiz

Let’s start with an easy question: the alter-ego of Superman?
1. Christopher Reeves
2. Tom Welling
3. Clark Kent
4. Jor-El
5. CL
spider-man-quiz

Another easy question: the alter-ego of Spider-man is…?
1. Peter Petrelli
2. Peter Parker
3. Matt Parkman
4. Pak Parkir
5. Park Ji-Sung
batman-quiz

And yet another easy question (I’m too kind yeah?): Batman aka Caped Crusader aka The Dark Knight alter-ego is…?
1. Bruce Wayne
2. Bruce Banner
3. Alfred Messi
4. Sayid Al Jarrah
5. Michael Jon Carter
captain-america-quiz

Too much of easy questions? Okay, let’s up the difficulty a bit. Who’s the first Captain America?
1. Nick Fury
2. Adolf Hitler
3. Steve Roger
4. Bucky
5. Pietr Makalov
wolverine-quiz

The hot guy in the cinema. Wolverine real name is…?
1. Logan
2. Weapon X
3. Charles Xavier
4. James Howlett
5. Jimmy Corbain
green-lantern-quiz

In brightest day, In blackest night, no evil shall escape my sight. Those who worship evil’s might… beware my power… GREEN LANTERN’s light! But who’s the Green Lantern?
1. Guy Gardener
2. Hal Jordan
3. Abin Mati Suri
4. Sinetron
5. John Stewardess
hulk-quiz

Do you know the real identity of the Hulk? You better do, cos you won’t like him when he’s angry!
1. Alfred Molina
2. Otto Octavius
3. Cassidy Freeman
4. Davis Bloome
5. Bruce Banner
flash-quiz

Faster than a speeding bullet… Faster than even Superman… It’s the man who ride the lightning himself. It’s the Flash, and his real name is?
1. Bartholomew Kuma
2. Robert Jacobi
3. Barry Allen
4. Wally East
5. Jay Jay Carick
wonder-woman-quiz

She is the world greatest superheroine. A princess of the Amazon, a fierce warrior, and one of DC’s holy trinity. Wonder Woman alias is…?
1. Asia Argento
2. Megan Gale
3. Lady Theresa Croft
4. Lara Fabian
5. Diana Prince
hawkeye

One of the most popular member of the Avengers. He died in the Avengers Disassembled arc – only to be revived as Ronin a few years later. Hawkeye, Marvel most famous archer name is?
1. Hercules
2. Clint Barton
3. Roger Friedman
4. Andrew Melvin
5. Jared Cole

The leader of the Fantastic Four, as well as Marvel most genius mind. Mr Fantastic is also known as?
1. Ben Grimm
2. Johnny Storm
3. Reverend Ricardo
4. Gabriel Reese
5. Reed Richards
supergirl-quiz

The cousin of Superman that came from Argo City, as well as my personal favorite superheroine, the last daughter of Krypton: Supergirl alias is…?
1. Connor Kent
2. Linda Lee Danvers
3. Lana Lang
4. Linda Lane
5. Artemis Sullivan
she-hulk-quiz

Next; the cousin of Hulk. The She-Hulk is?
1. Angelina Banner
2. Sarah Carter
3. Jessica Siemens
4. Mira Maria
5. Jennifer Walters
robin-quiz

For now, there are three people who ever wear the costume of Robin. Who is the third Batman’s sidekick?
1. Stephanie Brown
2. Tim Drake
3. Jason Todd
4. Marcus Camby
5. Allen Crescent
iron-man-quiz

He’s not only known as Iron Man, but also as the world most flamboyant millionaire playboy. His name is…?
1. Anthony Marc
2. Eddie Brock
3. Justin Kyle
4. Jonn Jonnz
5. Tony Stark
mr-fantastic-quiz

The leader of the X-Men with an Optic Blast. Cyclops is also known as?
1. Scott Summers
2. Sidney Sheldon
3. Scott Speedman
4. Scarlet Speedster
5. Simon Sony
green-arrow-quiz

Green Arrow aka Emerald Archer aka…?
1. Dinah Lance
2. Jasper Vince
3. Lance Vance
4. Niko Davydenko
5. Oliver Queen
nightwing-quiz

He was the first Robin and also the leader of The Outsiders. Nightwing real name is…?
1. Jake T
2. Nelly Bertulloci
3. Shane Moley
4. Dick Grayson
5. William Stryker
catwoman-quiz

She was a villain, a Batman’s lover and a thief. Catwoman = ?
1. Cat Grant
2. Sabrina Menelly
3. Pied Piper Perabo
4. Selina Kyle
5. Helena Wayne
daredevil-quiz

Daredevil; the man without fear, the blind lawyer alter-ego is?
1. Jet Archson
2. Kingpin Bullseye
3. Matt Murdock
4. Ali Larter
5. Leon Redfield

Answers: 3, 2, 1, 3, 4, 2, 5, 3, 5, 2, 5, 2, 5, 2, 5, 1, 5, 4, 4, 3

Comments (4)

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Tekken 6

Posted on 26 December 2009 by Si Tukang Review

Tekken 6 PSP Cover

Tekken 6 PSP Cover

(Review Based on PSP Version)

Walaupun koleksi library handheld PSP tidak sebanyak DS, itu bukan berarti handheld Sony kalah kualitas dengan handheld Nintendo. Salah satu komplain terbesar yang disampaikan orang terhadap PSP adalah karena terlalu banyak game remake yang hadir di PSP dan saya juga setuju akan hal ini. Toh, kalau remakenya sebaik Tekken 5: Dark Resurrection dulu, saya sih tidak merasa akan ada banyak orang yang menggerutu. Semenjak Dark Resurrection diluncurkan, game tersebut kemudian menjadi tonggak bagi game fighting lainnya di PSP. Bahkan remake Soulcalibur: Broken Destiny yang dirilis juga oleh Namco dianggap bagus tapi belum sebaik Dark Resurrection.

Sebenarnya di akhir tahun 2007, Tekken 6 diluncurkan di arcade Jepang. Setahun kemudian versi upgradenya dirilis dengan sub-judul Bloodline Rebellion diluncurkan (dengan tambahan dua karakter baru). Seharusnya sih versi PS3 dan PSPnya juga diluncurkan di tahun yang sama, tetapi ternyata dalam ‘penyabotan’ yang dilakukan oleh Microsoft, perilisannya ditunda selama setahun (satu dari beberapa penyabotan yang dilakukan oleh Microsoft, termasuk merebut serial Final Fantasy bernomer dari Sony). Kini di tahun 2009, versi home console dan PSPnya pun dirilis. Bagaimanakah hasilnya?

Tekken 6 ini menampilkan versi Bloodline Rebellion yang berarti selain ada lima karakter baru dan 33 karakter lama (34 kalau menghitung Panda), muncul juga Alisa Bosconovitch; cucu android dari Dr Bosconovitch dan Lars Alexandersson; si anak haram dari Heihachi Mishima. Total jendral ada 41 karakter yang siap kamu pakai dalam game ini – menjadikan Tekken 6 sebagai Tekken dengan roster terbesar. Apa yang membuat saya kagum dengan versi PSPnya adalah bagaimana handheld ini bisa memasukkan semua karakter dalam handheldnya. Salut Namco. Salut.

Grafis dalam Tekken 6 luar biasa. Tiap karakter game memiliki render animasi dan gerakan yang sangat halus untuk ukuran PSP. Juga beberapa arena tertentu memiliki segi interaktifnya dalam pertarungan. Saat kamu menghajar dan sukses memasukkan combo ke dinding misalnya, maka dinding itu akan jebol dan membuka arena baru untuk pertempuran. Walaupun tentu saja kualitas grafis versi PSP ini tidak bisa dibandingkan dengan home console atau Arcade (come on, they’re next-gen standard), saya tetap salut dengan usaha Namco ini. Siapa sangka mereka masih bisa membuat standar grafis game fighting yang lebih tinggi lagi dibanding apa yang dulu mereka raih melalui Dark Resurrection?

Mengenai karakter lama sendiri, hampir semuanya masih memiliki cara permainan yang sama dengan pada iterasi game sebelumnya sehingga kalau kamu sudah biasa dengan karakter itu, kamu tak perlu belajar lagi cara menggunakan mereka. Saya memang jarang main game fighting dan satu-satunya karakter yang saya percaya saya bisa mainkan dengan ‘lumayan’ (baca: tidak diganyang Perfect oleh para jago Tekken lain) adalah memakai Hwoarang. Ketika saya memainkan game ini lagi, Hwoarang tetap sama cepat dan mematikan tendangannya dengan Tekken 5: Dark Resurrection. Di antara beberapa karakter baru yang dihadirkan, saya paling tertarik dengan tiga karakter: Bob, Alisa, dan Zafina. Bob mendobrak tradisi kalau orang gendut pasti pelan, Alisa adalah robot cyborg yang sekilas lihat agak overpowered (makanya sebagai amatiran Tekken yang suka button mashing dia jadi favorit kedua saya setelah Hwoarang), dan yang terakhir Zafina yang gaya berantemnya agak… aneh. Salah satu pose kemenangan Zafina di mana ia merangkak ala laba-laba malahan mengingatkan saya pada setannya Ju-On (loh, apa hubungannya ya?).

Dalam gameplaynya sendiri, satu penambahan yang paling kentara di mataku adalah Rage System di mana ketika darah karaktermu sudah turun di bawah 10% maka karaktermu akan memiliki aura merah yang bersinar di mana semua seranganmu akan memiliki daya rusak yang lebih dahsyat. Kalau kalian pernah bermain Garou: Mark of the Wolves, Rage System mirip dengan TOP System-nya. Mode permainan dalam Tekken 6 sendiri sedikit kurang variatif. Terlepas dari Arcade Mode, Story Mode, dan Challenge Mode yang sebenarnya menawarkan hal yang sama, tidak ada lagi tambahan mode selain adu jotos. Hilangnya Scenario Campaign yang mirip dengan Tekken Force agak mengecewakan tetapi sekali lagi menyadari keterbatasan hardware PSP, mungkin ini merupakan keputusan yang terbaik. Toh Scenario Campaign juga banyak dikritik sebagai kelemahan dari Tekken 6 versi konsol kok. Setidaknya semua film ending dari para karakter tetap dipertahankan secara utuh oleh Namco di sini. Beberapa sangat serius, beberapa pendek dan ga jelas, beberapa lagi super kocak dan mengundang tawa terbahak. Bila ada kekurangan vital di gameplay Tekken 6, itu adalah tidak adanya opsi untuk bertarung melawan musuh di dunia online (hanya bisa secara wireless dan itupun temanmu harus memiliki kopi Tekken 6). Yah, mungkin jaringan internetnya sendiri yang kurang memadai? Entahlah.

Lepas dari beberapa kekurangan yang ada, Tekken 6 masih membuktikan dirinya sebagai salah satu franchise fighting terbaik yang ada di pasaran saat ini. Keterlambatan satu tahun rilisnya tidak menjadikan gameplaynya uzur, yang membuktikan bahwa game berkualitas ini selalu bisa kamu mainkan kapan saja bersama teman-temanmu. Siapkah kamu membuktikan apakah kamu masih sang King of Iron Fist?

Final Verdict

Gameplay: 9.0
Roster yang lengkap di PSP sejumlah 41 orang membuat saya girang. Semua karakternya juga memiliki kemampuan yang berimbang. Kekurangan mode permainan dan dukungan online play tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada Namco karena keterbatasan hardware PSP. Sebagaimana Dark Resurrection, Tekken 6 juga adalah sebuah game yang must-have bila kamu seorang gamer gitar (gila tarung).

Graphic / Sound: 9.5
Benar-benar nyaris sempurna. Tekken 6 menawarkan variasi tempat tarung yang berbeda, animasi karakter yang sangat halus dari karakter favorit fan ala Jin Kazama, Hwoarang, atau Paul Phoenix, sampai yang kurang dipakai macam Jack-6 atau Roger Jr. Setiap karakter juga didesign dengan berbeda dari pose maupun kostumnya. Kalau kalian bosan dengan kostumnya, ada opsi mengganti penampilan karakter favoritmu dengan membeli aksesoris kustomisasi.

Play Time: 8.5
Kurangnya dukungan bermain online sedikit mengurangi waktu bermain game ini. Toh bagi saya Tekken 6 di PSP adalah training ground-ku. Saya bisa membawa PSPku ke mana-mana sambil berlatih kemampuan, sementara bermain di 360, PS3, ataupun Arcade adalah saat di mana saya bisa unjuk kemampuan hasil latihanku. Hasilnya? Errr… kurang begitu berhasil sih. Saya tetap terkapar menghadapi musuh-musuh. Apa mungkin memang tidak bakat ya main game fighting? *menghela nafas panjang*

Overall: 9.0

Game Details
Developer: Namco Bandai
Publisher: Namco Bandai
Genre: 3D Fighting

Comments (10)

Tags: , , ,

World’s Greatest Dad

Posted on 25 December 2009 by Si Tukang Review

World's Greatest Dad Poster

World's Greatest Dad Poster

Film Robin Williams ini disebut banyak reviewer asing sebagai salah satu black comedy terbaik tahun ini. Melihat nilai reviewnya yang memang cukup tinggi di Rotten Tomatoes dan keberhasilannya mendapatkan sambutan positif dari festival-festival film di mana ia diputar membuat saya jadi ikut tertarik untuk menontonnya. Saya pribadi sebenarnya kurang terkesan dengan judulnya. Kalau ditilik sekilas saya malah agak khawatir kalau film ini bakalan mengulang premis sama ayah-anak yang memiliki hubungan kurang harmonis – mengalami perubahan – dan di endingnya mereka saling mengerti dan menyayangi. Toh, saya masih berniat memberi World’s Greatest Dad kesempatan. Pikirku saat itu: “Walaupun idenya sama kalau eksekusinya berbeda kan siapa tahu bisa fresh lagi?”. Betapa salahnya saya. Apa perkiraan kalian sama denganku? Coba baca lebih lanjut ringkasan ceritanya.

Lance Clayton mungkin orang yang paling sial sedunia. Sungguhan. Hasratnya untuk menerbitkan novel garapannya selalu kandas sebab ditolak oleh para editor. Terpaksa Lance menimbun mimpinya dalam-dalam dan ia hanya bekerja sebagai guru kelas Poetry (Sastra Puisi) yang sialnya tidak diminati murid di sekolahnya. Lebih celaka lagi adalah dia punya seorang anak super badung dan agak abnormal bernama Kyle. Kyle bukan saja tidak hormat dan suka memaki ayahnya tetapi juga memiliki masalah seks yang serius karena selalu melakukan fantasi seks di mana saja (alias maaf – bermasturbasi di mana saja). Satu-satunya pelipur lara bagi Lance adalah ketika guru tercantik di sekolah tempat ia mengajar, Claire, menyukainya. Itupun ‘dirampok’ darinya ketika seorang guru sastra lain yang lebih beken darinya.

Nah, dari sini saya rasa kebanyakan penonton mestinya punya pemikiran yang sama seperti saya. Sesuatu yang ‘besar’ pasti bakalan terjadi sehingga mengubah nasib sang lakon menjadi jauh lebih baik dan semua orang di sekelilingnya seakan menyukainya. Tetapi kemudian sesuatu yang buruk terjadi sehingga semua orang seakan-akan memusuhi sang lakon. Toh, semua nantinya ditutup dengan happy ending ketika sang lakon memutuskan mengubah sifatnya dan membuat semua orang benar-benar mencintainya.

Tapi berapa di antara kalian yang menebak bahwa sesuatu hal yang besar itu adalah Kyle, sang anak kurang ajar, mati di kamarnya karena menahan nafas saat – maaf – masturbasi?  (Seperti caranya David Carradine mati) Dan berapa di antara yang menebak kalau Lance kemudian – karena malunya melihat bagaimana Kyle mati – kemudian memutuskan untuk mengubah posisi kematian Kyle (menggantung mayat sang anak) sehingga terlihat seakan-akan ia bunuh diri? Untuk lebih meyakinkan, Lance bahkan mengetik sebuah pesan surat kematian yang seakan-akan diketik Kyle sendiri. Di luar dugaan, pesan surat kematian itu mendatangkan popularitas luar biasa dan perubahan nasibnya. Tetapi bagaimana dengan beban mental yang harus ditanggung Lance?

Film garapan Bobcat Goldthwait ini memang bergulir di luar pakem. Gara-gara ini, film World’s Greatest Dad menjadi satu dari sedikit film yang saya sama sekali tidak bisa tebak akan berlanjut bagaimana. Sayangnya menjadi sebuah film yang tak bisa diprediksi ceritanya tidak berarti membuat film itu bagus. Apabila film ini dikategorikan sebagai black comedy, maka saya rasa saya lost in translation karena tidak merasa bahwa film ini lucu, baik dalam dialog maupun dalam idenya. Dialog yang diucapkan oleh Kyle sepanjang film terus saja penuh makian dan kata-kata jorok. Mengherankan melihat Daryl Sabara yang dulu saya kenang lewat Spy Kids Trilogy kini sudah tumbuh dewasa; lebih mengherankan lagi melihat karakter Lance tidak menampar Kyle sama sekali melihat betapa kurang ajar dirinya.

Sementara dengan idenya sendiri, walaupun orisinil dan tak tertebak, saya rasa terlalu kebablasan dan tidak sesuai dengan dasar karakter yang dibangun selama sepertiga awal film. Memang benar sebagai penonton kita tahu kalau Lance frustasi dengan anaknya yang kurang ajar; memang benar bahwa kita juga tahu kalau Lance sangat ingin tulisannya dipublikasikan. Toh melihat karakternya yang lemah lembut, sangat sayang, dan hampir tidak pernah berani menegur anaknya, rasanya kok tidak mungkin ya Lance sampai berani dan tega hati merusak memori anaknya seperti itu?

Satu-satunya hal yang menurut saya pantas dicermati dari film ini adalah penempatan banyak lagu di dalamnya yang berkoresponden dengan adegan yang terjadi di layar saat itu. Selebihnya, saya rasa World’s Greatest Dad bukan film yang buruk – tetapi ia jelas film yang terlalu aneh untuk bisa dimengerti oleh kebanyakan orang, hal yang semestinya tak diherankan kalau penonton tahu latar belakang sang sutradara yang juga seorang komedian khas Black Comedy.

Score: 4.9

Movie Details
Director: Bobcat Goldthwait
Cast: Robin Williams, Daryl Sabara, Alexie Gilmore
Running Time: 99 Minutes

Comments (3)

Tags: ,

Happy Birthday TukangReview.com!

Posted on 24 December 2009 by Si Tukang Review

Site Statistic (Ketika saya menulis artikel ini)
25 Desember 2008 – 24 Desember 2009
484 Entries
45.407 Page Views

Tak terasa sudah genap satu tahun saya menulis dan mempublish review maupun artikel saya seputar dunia film, game, dan komik di TukangReview.com

Wow. Satu tahun. Cepat sekali rasanya waktu berlalu!

Seakan baru kemarin saya berbincang-bincang dengan Adhitya, salah satu teman baik saya, mengenai Nostalgia Critic. Terkesan dengan karakter ciptaan Doug Walker itu, saya pun memutuskan untuk kembali ke dunia tulis menulis review. Saya sebut ‘kembali’ sebab sebelum menulis di sini pun saya sudah sering menulis review sejak tahun 2003. Berawal dari sekedar posting artikel atau review di forum-forum yang saya singgahi, saya sempat menjadi kontributor artikel dari salah satu situs videogame terbesar di Indonesia VGI. Setelah beberapa waktu, saya kemudian hendak membuka situs review sendiri (dulu sih konsep impiannya portal entertainment pertama di Indonesia ala Gamespot) dengan nama Masuktainment.com. Sayangnya situs tersebut berakhir dengan kegagalan setelah tiga bulan. Kegagalan situs Masuktainment inilah yang membuat saya cuti dari dunia tulis menulis selama satu setengah tahun. Trauma kegagalan itu juga yang sempat menghantui saya ketika saya mau membuat situs TukangReview.com

Kembali pada awal berdirinya TukangReview.com, saya semula memakai alamat bebas blog dari WordPress untuk coba-coba. Dasarnya hobi saya menulis, setelah sebulan saya kemudian memutuskan untuk membeli rumah sendiri di dunia maya di http://www.tukangreview.com. Saya masih ingat bahwa di bulan pertama tersebut, senang sekali bila bisa mendapatkan 10 Page Views seharinya. Tak disangka bahwa sebelas bulan kemudian rata-rata 15 Page View sehari itu tumbuh sampai 600 – 650 Page Views sehari! Saya sungguh tidak tahu mau berkata apa selain terima kasih. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka yang sudi singgah ke sini, yang memberi komentar, sampai yang bertukar alamat link blog denganku. Tanpa kalian semua, TukangReview.com mungkin takkan sampai pada hari ini.

Well, here’s for another great year ahead! Tidak lupa bagi umat Nasrani yang merayakan saya ucapkan: Selamat Hari Natal 2009 dan Tahun Baru 2010!

As always, a review a day takes your curiosity away.

Best Regards,

Si Tukang Review

Tukang Review’s 2009 Project:
- Final Fantasy VII Complete Set Review (Completed)
- Retro Month (Completed)
- Pixar Movie Marathon (Completed)
- Y – The Last Man Complete Set Coverage (Completed)
- Studio Ghibli Movie Marathon (On-going)

Comments (6)

Tags: , , , , , , , , ,

Top 10 Movie Scenes of the Year

Posted on 24 December 2009 by Si Tukang Review

Walaupun bukan jaminan apakah film itu bermutu atau tidak, kadang sebuah film bisa dikenang hanya karena salah satu adegannya semata. Ambil contoh film Titanic, film terlaris karya James Cameron ini mungkin bukan film favorit semua orang, tetapi adegan di mana Titanic terbelah dan tenggelam adalah bukti valid yang sangat memorable. Atau siapa yang tidak terkesan melihat pertama kali seekor T-Rex meraung dalam Jurassic Park? Di antara puluhan film yang sudah kutonton tahun ini, inilah sepuluh adegan paling memorable yang kuingat. Tentu saja list ini mengandung spoiler akan film yang bersangkutan, so be warned. Juga harap diingat, segemar-gemarnya saya nonton film, saya tidak menonton SEMUA film pada tahun ini sehingga kalau ada adegan dari film favorit anda yang kelewatan; mungkin saja saya belum sempat menontonnya – harap mafhum ya?

10. Hi, I’m Autumn dari (500) Days of Summer
Why: Karena sepanjang film (500) Days of Summer kita melihat adegan romantis antara Tom dan Summer – yang sayangnya – berakhir dengan tragis khususnya bagi Tom. Walaupun Tom semakin dewasa karena pengalamannya bersama Summer, itu tidak mengubah sifat dasarnya yang tetap percaya kepada cinta dan nasib. Dan seakan menjawab kepercayaan Tom, nasib ‘menghadiahkan’ kepadanya pertemuan kedua dengan seorang gadis bernama Autumn. Dan tanggal kalender 500 yang bergulir kembali menjadi angka 1 kusambut dengan tepuk tangan.

09. Smooth Criminal dari Michael Jackson’s This Is It
Why: This Is It adalah swan song dari Michael Jackson. Sang entertainer terhebat sepanjang masa itu meninggal dunia – meninggalkan segudang kontroversi di belakangnya. Tetapi bukti kejeniusannya masih terlihat ketika footage gladi resik konser terakhirnya ditayangkan. This Is It masih menunjukkan bagaimana sang raja pop menari dan menyanyi didukung dengan banyak sekali efek (They Don’t Really Care About Us, Earth Song, sampai versi 3D Thriller). Toh, yang paling luar biasa dari semuanya bagi saya adalah Smooth Criminal yang mempertemukan MJ dengan Humphrey Bogart. Sentuhan teknologi yang spektakuler.

08. Optimus Prime VS The Decepticons dari Transformers: Revenge of the Fallen
Why: Salah satu film yang paling mengecewakanku pada tahun ini adalah sekuel dari Transformers ini. Boleh jadi ini film paling sukses di box office, tetapi ceritanya yang amburadul dan terlalu mementingkan efek membuatnya nyaris tak bisa dimengerti. Walau begitu saya tetap tidak bisa menyangkal bila pertarungan Optimus Prime melawan tiga Decepticons sekaligus guna melindungi Sam adalah salah satu adegan terkeren tahun ini. Sinematografi pun tidak melulu diclose-up sehingga kita bisa dengan jelas melihat siapa yang tengah bertarung dengan siapa, satu-satunya kemajuan yang didapat Bay apabila dibandingkan dengan prekuelnya.

07. Fighting Winged Beast dari 9
Why: Jangan pernah meremehkan para boneka-boneka stitchpunk dalam film 9. Mereka memang sangat kecil, tingginya tidak lebih dari panjang lenganmu mungkin, tetapi mereka bisa melawan para mesin yang jauh lebih besar dan mampu membinasakan hampir seluruh umat manusia. Salah satu pertarungan yang paling keren melawan mesin-mesin yang dikirim membinasakan melawan mereka adalah ketika mereka melawan Pteranodon mesin. Walau beberapa dari mereka memiliki perbedaan pendapat, kunci dari kemenangan mereka adalah kerja sama semuanya dalam pertarungan. Adegan ini langsung mengingatkanku pada Daud melawan Goliat, hanya saja kali ini Daud-nya tidak cuma satu.

06. Wikus VS Army dari District 9
Why: Menonton tingkah laku para manusia yang begitu diskriminatif terhadap para alien di District 9 membuatku muak dengan tingkah laku mereka. Dan demikian juga perasaanku pada Wikus, sang tokoh utama yang terpaksa menjadi ‘hero’ demi menyelamatkan dirinya sendiri. Walaupun Wikus pertama kali merupakan karakter yang pengecut dan membenci para alien tersebut, ia mulai mengenal para alien dan belakangan justru menolong teman aliennya meloloskan diri. Keberanian dan perubahan hati Wikus itulah yang membuat scene pertarungannya melawan para tentara menjadi begitu memorable. Karena selain seru, kita sebagai penonton turut berharap Wikus bisa melindungi para teman-temannya itu.

05. Bar Dialogue dari Inglourious Basterds
Why: Misi para Basterds pada pertengahan film ini awalnya simpel saja. Bertemu dengan sang artis Jerman Bridget von Hammersmark yang diam-diam menjadi mata-mata bagi mereka. Tak disangka, hanya karena keterlambatan singkat, mereka jadi harus bercakap-cakap dengan para tentara NAZI. Pembicaraan mereka sebenarnya sederhana, dan kadang mereka malahan bermain game ice breaker. Toh, apapun kejadian santai yang terjadi di layar, jantung para penonton tetap dibuat berdetak kencang mengenai apakah kedok para Basterds akan ketahuan atau tidak… dan apa yang kiranya akan terjadi bila sampai mereka ketahuan. Kalau bukan Quentin Tarantino, siapa lagi yang bisa membuat adegan percakapan begitu lucu sekaligus begitu mendebarkan?

04. The Ending dari Star Trek
Why: Ada banyak hal yang sangat memorable dari reboot Star Trek yang dilakukan oleh JJ Abrams ini. Dari awal saja saya sudah dibuat ternganga dengan kapal Nero yang muncul dari lubang hitam. Saya tambah terperangah lagi melihat kelahiran Kirk yang bersamaan dengan kematian sang ayah – salah satu momen kematian terbaik tahun ini. Selanjutnya saya terus dibuat terpana hampir dari awal hingga akhir oleh film sci-fi terbaik tahun ini, tetapi momen terbaiknya hadir di penghujung film. Seiring dengan kata-kata Spock menyatakan “Space, the final frontier…” nyaris saja air mata mengalir dari mata saya. Ya. Franchise sci-fi terbesar sepanjang masa itu akhirnya telah kembali.

03. California Destruction dari 2012
Why: Ada Tweet iseng yang beredar di internet setelah film 2012 diluncurkan. Intinya sang poster bertanya “Emmerich kau banci! Kapan kau jadi pria sejati dan menghancurkan seluruh galaksi?”. Pertanyaan itu membuat saya terbahak – tetapi juga sangat valid. Dalam 2012, Emmerich sudah sukses memanjakan mata penonton dengan efek-efek gila-gilaan di mana dunia kiamat. Yang paling dahsyat bagiku tentunya terjadi saat California hancur dihajar gempa terbesar sepanjang masa. Melihatnya membuat saya terperangah dan memegangi kursi saya erat-erat. Beberapa detik kemudian saya sadar saya sesak nafas – rupa-rupanya karena saya lupa bernafas karena tegangnya!

02. Welcome to Pandora dari Avatar
Why: James Cameron menghabiskan lebih dari 10 tahun, menciptakan teknologi baru, dan menghamburkan uang sebesar hampir 500 Juta USD. Semua demi menciptakan sebuah dunia bernama Pandora. Dan usahanya tidak sia-sia. Setiap momen melihat dunia Avatar membuat saya terkagum-kagum akan visi artistik dari Cameron. Mulai dari momen-momen kecil seperti bagaimana ada cahaya menyala ketika menginjak tanah, sampai pertempuran besar guna mempertahankan kebebasan Pandora.

01. The Life of Carl and Ellie dari Up
Why: Aneh. Di tahun yang penuh dengan efek kehancuran bumi, pertempuran para robot, penciptaan dunia baru, dan segudang lagi adegan memukau mata dan memekakkan telinga, nyatanya adegan terbaik tahun ini bagiku adalah opening sederhana dari film Up. Kalau dipikir-pikir, adegan ini biasa-biasa saja dengan mengkronologikan kehidupan suami istri Carl dan Ellie (bahkan tanpa kata-kata maupun dialog dan hanya diiringi oleh musik sentimental Michael Giacchino). Tapi justru kesederhanaannya itulah yang memikat hatiku. Dan kalau boleh jujur dan sedikit personal, cinta dan rumah tangga mereka yang saling mengisi, melengkapi, dan mencintai itulah yang ingin kumiliki suatu hari nanti. Tidak sedikit mata yang sembab menangis (saya salah satunya) melihat akhir dari prolog film Up tersebut.

Dan itulah sepuluh scene terbaik dan yang termemorable yang kualami selama tahun 2009 ini. Percaya atau tidak, ada banyak banyak lagi adegan mengesankan yang terpaksa tidak bisa kuikutkan dalam list ini. Dan honorable mentions itu adalah:
- Kemunculan kembali sang Governator dari Terminator: Salvation
- Mrs Ganush sudah duduk di belakang mobil dari Drag Me to Hell
- Kate mendadak diseret turun dari ranjang dan keluar kamar oleh sebuah kekuatan misterius dari Paranormal Activity
- Twist mengenai siapakah jati diri Esther sesungguhnya dari Orphan
- Catfight antara Scarlet dan Baroness di GI Joe: Rise of the Cobra (Yes, I am a pervert)
- The Comedian bertarung dengan sosok misterius diiringi lagu Unforgettable di Watchmen

How about you guys?

Comments (9)

Tags: , , , , ,

Super Pocket Tennis

Posted on 24 December 2009 by Si Tukang Review

Super Pocket Tennis Cover

Super Pocket Tennis Cover

(Review Ditulis Di Tahun 2007)

Super Pocket Tennis adalah ajang berkumpulnya para petenis dunia yang chibi! Tennis adalah sebuah olahraga yang berbeda dengan sepakbola atau basket. Sepakbola mungkin olahraga paling ngetop di dunia, tetapi harus diakui kalau di Amerika kepopulerannya kalah jauh dibandingkan American Football, Baseball, ataupun bola basket. Basket sendiri terlalu berpusat di Amerika. Kendati banyak negara memiliki liga basket mereka toh bintang-bintang NBAlah yang tetap menjadi panutan. Tennis berbeda. Setiap negara memiliki jagoan mereka sendiri, dan walaupun tidak pernah menjadi olahraga nomer satu, tennis selalu punya tempat di hati penggemarnya. Ingat kalau di Indonesia kita pernah punya seorang Yayuk Basuki, Wynne Prakusya, maupun Angelique Widjaja yang mengharumkan nama bangsa ini?

Graphic (7 / 10)

Karakter yang dihadirkan oleh Super Pocket Tennis bernuansa imut dan lucu. Game ini jelas memiliki masalah dengan lisensi pemain mengingat nama mereka semuanya kacau balau (ingat kalau memainkan Winning Eleven jaman dahulu kala yang belum dipermak sehingga namanya jadi berubah? Seperti itulah kira-kira). Toh, kalau kalian adalah pengamat tennis dunia bukan hal yang sulit saya rasa untuk menebak kalau nama petenis wanita jelita bernama Povapova sesungguhnya adalah Maria Sharapova.

Game ini menghadirkan total 20 karakter. 10 karakter pria dan 10 karakter wanita. Masing-masing karakter chibi dalam game ini mampu merepresentasikan karakter mereka di dunia nyata. Saya langsung bisa menebak mana petenis yang adalah Williams bersaudara. Kepala plontos dari Andre Agassi juga langsung bisa saya identifikasi begitu kursor saya memilih petenis bernama Nagasi.

Lapangan yang kita mainkan sendiri memiliki empat variasi (tidak lain tidak bukan merepresentasikan empat kejuaraan grand slam): Grass, Carpet, Hard, dan Clay. Masing-masing lapangan berbeda animasinya. Sayangnya terlepas dari warna lapangannya, saya tidak melihat adanya perbedaan signifikan lain dari lapangan-lapangan ini.

Animasi ayunan raket di dalam game ini malahan terkadang menganggu. Kendati dilakukan dengan detail yang baik tetapi animasi ayunan ini terlalu menutupi jalur bola yang ingin kita pukul. Untungnya saja ini tidak kerap terjadi – tertolong dengan radar mendaratnya bola yang aktif bergerak di lapangan kita.

Sound (5 / 10)

Crappy. Awal dari musik dalam game ini adalah ceria dan happy. Tetapi musik seceria dan sehappy apapun kalau berulang terus dalam kurun waktu dua menit selama berjam-jam akan berubah menjadi sangat – sangat menyebalkan. Variasi musik yang berbeda dalam game ini terlalu sedikit dan hasilnya jadi sangat membosankan dan menganggu. Lagipula sejak kapan game olahraga sebenarnya memerlukan musik latar yang dominan? Sebal mendengarkannya berulang-ulang, tidak sampai waktu sejam buatku untuk mematikan suara PSP supaya tidak mendengarnya lagi ketika bermain.

Sayangnya mematikan suara PSP saya berarti saya juga tidak bisa mendengarkan suara teriakan-teriakan yang muncul ketika karakter-karakter saya memukul bola. Beberapa karakter: seperti Amelie Mauresmo dan Lindsay Davenport bisa direpresentasikan dengan cukup mirip. Tetapi beberapa lainnya seperti Maria Sharapova ngawur sekali dalam presentasi suaranya – jangan mentang-mentang dia cantik dan imut maka suaranya ikut bernada lemah lembut! Kalau D3 memperhatikan detail suara, seharusnya suara lenguhan Sharapova yang menggelegar itu dimasukkan! Yap, cantik-cantik begitu suara Sharapova sudah dikenal sangat buas dan sering dikritik karena dianggap memecah konsentrasi lawan bertandingnya.

Gameplay (5 / 10)

Kelemahan utama game ini adalah tidak adanya tantangan. Bukan kurang tantangan tetapi TIDAK ADA tantangan. Saya tidak bercanda. Bahkan game Tennis garapan Sega yang hadir di handphone Sony Ericsson saja menurutku memberikan lebih banyak tantangan dalam memainkannya dibandingkan dengan game ini.

Mungkin sebagai contoh saya perlu memberi contoh nyata sebagai berikut: karakter yang saya pakai adalah Povapova untuk memainkan game ini. Untuk menjuarai empat turnamen yang Povapova ikuti (dia bahkan berhadapan dengan petenis pria di turnamen tertentu!), dia tidak pernah tuh kehilangan lebih dari dua set dalam satu pertandingan. Hampir pasti skor akan berakhir 6-1, 6-1 untuk kemenangan Povapova. Perkecualian adalah di pertandingan pertama turnamen pertama di mana saya masih belajar kontrol dalam game ini. Saya menang 6-3, 6-1.

Total kontrol dalam game ini hanya ada dua tombol. X untuk pukulan lemah dan O untuk pukulan kencang. Setiap anda memukul bola, akan muncul target di lapangan lawan sehingga anda bisa mengarahkan ke mana bola anda mendarat. Tololnya D3 adalah dia juga memberitahukan kepada kita ke mana bola kita akan dikembalikan oleh musuh! Gamer sebodoh apapun akan tahu di mana karakternya harus bersiap-siap untuk mengembalikan bola lawan! Saya sendiri tinggal menunggu bola kembalian lawan lantas memukulnya ke arah jauh yang tak bisa ia jangkau. 90% dia akan gagal mengembalikan pukulan saya dan 10% adalah dia mengembalikannya dengan bola tanggung yang tinggal menunggu dismash.

Perbedaan karakter-karakter dalam game ini hampir tidak terasa. Kendati statistik dari petenis kedua terbaik Povapova jauh lebih tinggi daripada petenis terburuk Sugihara (Ai Sugiyama dari Jepang kalau kalian tidak tahu siapa nama asli petenis ini) toh pukulan Sugihara nyatanya cukup-cukup saja untuk membuat petenis-petenis terbaik kocar-kacir menghadapinya; kalau kita yang memakainya tentu saja.

Begitu juga empat lapangan yang ada. Menilai game tennis yang baik selalu dilihat dari bagaimana mereka merepresentasikan pantulan bola di lapangan yang berbeda. Game ini gagal total dalam menunjukkannya. Saya merasa pukulanku maupun musuh sama sekali tidak memiliki daya pantul yang berbeda di lapangan yang berbeda. Kalaupun ada, perbedaan itu terlalu kecil untuk menjadi hal signifikan yang bisa mengubah gameplay dan strategi bermain anda. Saya memainkan empat lapangan dengan strategi yang sama. Pukul ke arah yang tak terjangkau oleh lawan anda dan nikmati poin-poin yang anda dapatkan.

Ada lima mini game yang bisa dimainkan kalau kita jenuh mengikuti turnamen-turnamen yang ada (baca: membully lawan-lawan kita). Mini game yang disajikan sebenarnya cukup unik dan bervariasi seperti melawan alien-alien dan melakukan servis ke tempat tertentu. Yang ironis adalah saya lebih bisa menikmati dan mendapatkan tantangan dalam memainkan mini game yang ada ketimbang memainkan turnamen yang sebenarnya

Longetivity (5 / 10)

Saya memerlukan waktu di bawah tiga jam untuk memenangkan semua turnamen yang ada, dan kira-kira itulah umur game ini di mataku. Saya malas sekali mengulang memenangkan game ini dengan karakter lain begitu saya sadar kalau menggunakan mereka persis satu dengan yang lainnya. Tidak ada karakter yang spesial bisa baseline, atau tangguh di depan net. Semuanya bisa terbilang serupa satu sama lainnya. Mungkin memainkan game ini melawan teman lain akan memberikan tantangan lebih: tapi celakanya adalah akan sangat sulit bagi kita untuk menemukan orang yang memiliki game ini. Sedikit keluhan mengenai kepopuleran game ini: saya tidak pernah menggunakan Google demi mencari screenshot sebuah game dan gagal mendapatkan lebih dari 5. Super Pocket Tennis adalah game pertama yang mendapatkan ‘kehormatan’ tersebut.

Hanya tantangan-tantangan yang disediakan oleh mini gamenya yang mungkin membuat saya kembali memainkan game ini. Pasalnya, Super Pocket Tennis tidak memberikan apapun bagi kita untuk membuat kita meliriknya lagi! Ada beberapa achievement (yang sangat mudah diselesaikan) yang bisa kita lihat, tetapi kurangnya (atau bahkan tidak adanya) penghargaan yang signifikan membuat kita jadi kurang tertantang mendapatkan achievement-achievement tersebut. Dan saya masih tidak mengerti kenapa D3 tidak menyediakan sebuah fitur untuk mengkustomisasi karakter-karakter yang ada ataupun karakter kita sendiri.

Editor’s Tilt (6.5 / 10)

Kalau harus jujur mengatakannya, saya cukup enjoy memainkan game ini. Maklum saja, kalau saya biasanya dibully oleh AI komputer ketika memainkan game-game tennis lain, di sini saya bisa gantian membully mereka habis-habisan! Sayangnya kalau AInya sama sekali kurang tantangan apa yang tadinya asyik lama-lama juga menjadi membosankan dan menyebalkan! Saya mencoba berbagai cara untuk meningkatkan kesulitan seperti meningkatkan AI computer ke level tertinggi; cara ini tidak berhasil karena saya tetap menang dengan mudah dan dengan margin yang signifikan. Cara kedua adalah saya mencoba memainkan game ini dengan double, berharap kalau AI pasangan saya mungkin lebih bodoh sehingga berpotensi menyulitkan saya; nyatanya AI lawan saya malahan lebih jongkok lagi sehingga AI pasangan saya jadi super kuat. Halahhh!

Game ini pas sekali untuk anak-anak. Mungkin itulah sebabnya dia diberi label cocok dimainkan untuk anak usia tiga tahun ke atas. Mereka yang perlu tantangan dalam dunia tennis dan tidak perlu hal-hal imut, jangan buang waktu kalian untuk game ini. It’s just not worth the challenge.

Average: 5.7

Game Details
Developer: D3
Publisher: Hune X
Genre: Sport

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here