Film ini adalah salah satu film yang paling banyak mendapat perbincangan pada tahun ini. Bersama dengan Up in the Air, banyak pihak memprediksikan bahwa The Hurt Locker yang akan bersaing mendapatkan penghargaan film terbaik tahun ini. Bahkan dalam daftar film terbaik tahun 2009, banyak kritisi Amerika dengan pe-de memasukkan film besutan Kathryn Bigelow ini dalam daftar top 10 film mereka. Setelah beberapa bulan memburu dengan penasaran, akhirnya saya mendapatkan juga DVDnya. Saya bahkan sudah menggembar-gemborkan The Hurt Locker sangat berpeluang masuk dalam top 10 film saya dalam status Facebookku. Nah, tepat di saat pergantian tahun ini, saya menontonnya. Bagaimana hasilnya?
“War is drug”. Kutipan dari buku War Is A Force That Gives Us Meaning ini menjadi pembukaan bagi The Hurt Locker. Beberapa orang mungkin mengernyitkan dahi keheranan. Bagaimana mungkin pengalaman di tengah medan perang menjadi sesuatu yang diinginkan? Tidakkah banyak film selama ini justru menggambarkan orang trauma, takut, dan tak ingin lagi terlibat dalam perang setelah melewatinya? Mungkin memang begitu bagi beberapa orang, tetapi tidak untuk Sersan William James. Berada dalam regu penjinak bom Irak, ia berada pada tempat yang layak disebut ‘neraka di atas bumi’. Hidup biasa-biasa saja di kota Baghdad bagi tentara Amerika sudah sangat berbahaya seperti yang dikatakan Sersan Sanborn saat memberi instruksi pada James “Mereka kadang melempari kita mortar di malam hari”. Masuk dalam regu penjinak bom? Itu sama saja bertaruh dengan nyawamu setiap harinya.
Tapi James berbeda dengan orang kebanyakan. Bila yang lain takut, ia justru selalu merangsek maju. Menjinakkan lebih dari 800 bom selama karirnya, ia selalu merasakan ketegangan tersendiri yang hanya bisa ia puaskan apabila ia berhasil menon-aktifkan bom. Pada awalnya ketika membaca review singkat mengenai film ini, saya keburu mendiskreditkannya sebagai sosok semi-psikopat yang juga adrenaline junkie. Betapa jauhnya prediksi saya. Karakter William James ini sangat tiga-dimensional dan langsung masuk dalam deretan karakter paling memorable pada tahun ini. Sampai akhirnya pun saya tak pernah bisa sepenuhnya mengerti apa yang berada di benaknya, tapi jelas ia jauh dari sosok abnormal. Ia hanyalah seorang yang ingin berada di medan perang – karena itu satu-satunya tempat ia merasa seperti rumah. Ironis memang, tetapi nyata. Bayangkan bila saya mengingat Bella dalam New Moon yang menjadi adrenaline junkie demi sekelebatan lewatnya bayangan si Edward. Duh, kelasnya jauh sekali!
Tentu saja penampilan Jeremy Renner bukanlah satu-satunya daya tarik dalam The Hurt Locker. Penyutradaraan Kahtryn Bigelow benar-benar luar biasa realistis dalam menggambarkan keadaan Irak saat ini. Sebelum menonton film ini, saya sering berpikir kenapa tentara Amerika sering mati saat melakukan perang di Irak padahal mereka sudah dilengkapi dengan peralatan yang jauh lebih modern; apakah mereka tidak terlatih? Setelah menonton The Hurt Locker, saya kini mengerti bahwa tak peduli peralatan semodern apapun, tak peduli sehebat apapun dirimu, semuanya takkan bisa menyelamatkanmu bila maut memang mengancam menjemputmu dari setiap penjuru. Kathryn Bigelow mensyuting film ini dalam setting Yordania dan Kuwait, hanya beberapa kilometer dari perbatasan negara tersebut dengan Irak sehingga suasana perang benar-benar terasa. Mulai dari menon-aktifkan bom sampai duel sniper, setiap adegan perang dalam film ini terasa mencekam. Saya terutama kagum dengan bagaimana Bigelow mengambil gambar mengenai orang-orang Irak yang memperhatikan tentara Amerika bekerja. Pernahkah kamu seperti melakukan ujian – yang benar salah jawabannya bisa membunuhmu – sambil diawasi oleh guru pengawas ujianmu? Seperti itulah kesannya.
Jeremy Renner mungkin sorotan utama dalam film ini, tetapi Anthony Mackie dan Brian Geraghty pun tidak bisa diremehkan. Penampilan keduanya sebagai Sanborn dan Owen (keduanya adalah backup yang mengawasi keadaan James saat menjinakkan bom) patut dipuji. Chemistry antara ketiganya terasa mengalir tanpa dibuat-buat. Sanborn contohnya semula menerima keberadaan James sebagai pengganti kapten timnya yang tewas, lantas jengkel gara-gara tingkah laku James yang suka mengancam bahaya (berarti turut mengancam nyawanya dan Owen juga), sampai pada akhirnya menerima kenyentrikan James sebagai bagian dari timnya.
Pada akhirnya, saya tidak memasukkan film ini dalam daftar sepuluh besar film terbaik buatku tahun ini bukan karena kekurangannya, tetapi lebih karena saya lebih menyukai genre science fiction ketimbang perang. Toh, lepas dari apakah kamu penggemar film bergenre perang atau bukan, The Hurt Locker adalah tontonan yang tak boleh kamu lewatkan tahun ini. Menegangkan dan realistis, Kathryn Bigelow berhasil menyuguhkan film terbaik darinya setelah absen tujuh tahun pasca kegagalan K-19: The Widowmaker.
Note: Menarik untuk dicatat bahwa setelah vakum lama, Kathryn Bigelow seakan ‘memilih’ tahun yang sama untuk comeback dengan mantan suaminya. Sepertinya akan seru bila film The Hurt Locker-nya Bigelow nanti bersaing masuk nominasi yang sama dengan Avatar-nya James Cameron.
Score: 8.5
Movie Details
Director: Kathryn Bigelow
Cast: Jeremy Renner, Anthony Mackie, Brian Geraghty
Running Time: 131 Minutes

































