Teenage Mutant Ninja Turtles: Arcade Attack

TMNT Arcade Attack Cover

TMNT Arcade Attack Cover

Saya tumbuh dengan kura-kura ninja. Meh, kurasa bukan cuma saya. Setiap anak-anak generasi 70 dan 80an seharusnya kenal dengan kwartet Leonardo, Donatello, Raphael, dan Michaelangelo ini. Karena merekalah saya pertama kali belajar mengenai seniman-seniman Eropa (loh, ga nyambung ya?). Nah, sebagaimana halnya banyak franchise ngetop lainnya, terkenal berarti TMNT memiliki banyak game di berbagai konsol. Saat pertama kali saya memiliki NES, saya ingat benar bahwa saya dan teman saya selalu langganan berduet memainkan Teenage Mutant Ninja Turtle II: The Arcade Game yang diport untuk NES dan bergenre beat-em-up. Dibandingkan Double Dragon II, kami bahkan lebih sering memainkan TMNT karena penasaran gagal melulu menamatkannya. Belum lagi selesai kami memainkan game itu datang Teenage Mutant Ninja Turtles IV: Turtles in Time di SNES yang bahkan lebih superior dari seri keduanya. Kedua game itu terpatri di dalam memori masa kecilku sebagai dua game beat-em-up terbaik kura-kura ninja. Sayangnya, tak lama setelah itu franchise TMNT meredup pamornya, dan game-game sepak terjang keempatnya makin sedikit.

Saat di tahun 2007 lalu, TMNT berusaha dibangkitkan kembali di layar lebar. Film ini tidak berhasil-berhasil amat di Box Office tetapi setidaknya mereka berhasil melakukan satu hal. Mereka berhasil memperkenalkan kembali para kura-kura ninja pada generasi baru. Bersamaan dengan filmnya, dirilis juga tie-in game untuk berbagai macam handheld. Sayang bahwa game TMNT yang dibuat di DS dan PSP saat itu terlalu menyimpang jauh dari konsep beat-em-up dan dinilai gagal total. Justru TMNT untuk GBA (yang ketika itu sudah mulai ditinggalkan) menjadi versi terbaik karena kembali memakai formula lama yang sudah teruji: beat-em-up. Sayang game tersebut tidak bisa dimainkan berdua karena GBA tidak memiliki sistem konektivitas sebaik para penerusnya.

Dua tahun berlalu dan sebuah game TMNT kembali dirilis, kali ini dengan mengusung tajuk Teenage Mutant Ninja Turtles: Arcade Attack. Walau sub-judulnya mirip dengan versi NESnya, developer maupun publishernya bukan dari Konami tetapi Ubisoft. Toh, Ubisoft menjanjikan bahwa TMNT ini merupakan pengembangan dari versi-versi TMNT sebelumnya dan menjanjikan game beat-em-up yang menarik. Mereka bahkan memasukkan fitur bermain wireless dengan temanmu. Mendengar semua janji-janji ini, saya langsung kesengsem. Ini bisa jadi game TMNT idaman yang sudah lama saya tunggu-tunggu!

Dan dengan keji, kejam, dan tega, Ubisoft menginjak, meremukkan, dan menghancurkan mimpi saya menjadi kepingan dan serpihan yang tak berbentuk.

Pertama, grafis game ini bukan 2D tetapi 3D menyamping. Tidak baik. Game TMNT selama ini selalu memiliki grafis 2D, entah versi beat-em-up maupun fightingnya. Kenapa Ubisoft harus memaksakannya menjadi 3D? Tidakkah game versi 3D tie-in dengan movienya dulu sudah gagal total? Kekhawatiran saya akan transisi grafis ke 3D ini terbukti fatal. Gerakan dan animasi para kura-kura terlihat kaku. Pukulan serangan mereka kadang mengeluarkan kelebatan sesuai dengan warna mereka (Leonardo biru, Donatello ungu, dan seterusnya) tetapi kelebatan warna serangan mereka terlihat kasar dan tidak terpoles. Gerakan para kura-kura juga terbatas pada beberapa set serangan. Arena yang dijelajahi para kura-kura juga terasa hampa warna dan suram. Singkatnya, kualitas grafis game ini mengecewakanku. Yang keren hanya pada bagian cutscenenya yang bergaya motion comic dan – ironisnya – malah animasi 2D. Suara dalam game ini juga dibuat ala kadarnya. Musik di tiap-tiap stagenya serupa dan hanya berganti sekali dua kali (biasanya bila sudah dekat dengan bos). Semuanya sama. Menghentak ala hip-hop. Lebih membuat alis saya mengernyit adalah absennya suara para kura-kura maupun musuh. Ada apa gerangan? Dalam cutscene semua kura-kura bisu dan percakapan hanya muncul melalui balon kata. Dalam permainan tidak ada teriakan para kura-kura seperti “Cowabunga!”. Kenapa? Kenapa? Sulitkah mereka memasukkan beberapa petikan kata ke dalam game ini? Handheld DS lebih dari mampu untuk mengakomodasi beberapa suara saja. Dalam Lego Rock Band handheld ini bahkan bisa menampung 25 lagu penuh dengan aransemen instrumen musik yang berbeda!

Tapi kualitas audio visual hanyalah puncak dari gunung es. Kini kita menabrak gunung esnya: gameplaynya. Mungkin karena transisinya ke 3D, ritme dalam game ini terasa lambat. Saat saya menyelesaikan kombo dengan karakterku, terdapat delay sepersekian detik sebelum ia kembali pada posisi siaga. Apabila kalian biasa memainkan beat-em-up, delay sepersekian detik itu tentu akan menganggu jam tubuhmu yang harus menyesuaikan kembali. Gerakan para kura-kura juga terbatas itu-itu saja. Saya menulis dalam review Unbound Saga bahwa memiliki banyak skill yang dipelajari percuma karena toh gerakan yang dipakai itu-itu saja, tapi setidaknya game itu memberi gamer alternatif untuk mencoba gerakan dan teknik-teknik baru. Tidak dengan Arcade Attack, sang developer terlalu malas untuk bereksperimen dan menganggap game ini bisa diselesaikan dengan melulu menekan tombol menyerang. Kamu juga akan selalu bermain dengan dua karakter, satu karakter pilihanmu dan satu lagi dikendalikan temanmu atau AI. Ini mungkin satu-satunya pujian yang akan kuberikan pada game ini: AI partnermu biasanya lebih dari cukup untuk mendukungmu sehingga tidak pernah menganggu kenyamanan permainanmu. Bahkan sesekali, ia bisa membantumu. Selesai dengan pujian, kita kembali pada kritikan berikutnya: ritme permainan yang menganggu. Setiap kali musuh muncul di layar, akan ada tanda “!” besar sementara permainan berhenti sepersekian detik. Kamu lantas berduel di arena tersebut sampai semua musuh kalah. Kamu kemudian bergerak lagi, kadang mendapatkan item pengobatan, kemudian tanda “!” kembali nongol di layar. Sekali dua kali mungkin keren, tetapi bila setiap bertemu rombongan musuh muncul peringatannya? Menganggu. Lagipula tidakkah seharusnya tanda “!” harusnya dimunculkan saat melawan bos saja?

Terakhir adalah replayability maupun longetivity game ini. Bagi gamer di Indonesia yang rata-rata mendownload game DS, mungkin Arcade Attack bisa menjadi pengisi waktu luang yang bagus selama dua tiga jam. Tapi bayangkan dengan orang-orang di luar negeri yang harus membeli cartridge originalnya atau menyewanya dengan harga lumayan mahal lantas menemukan bahwa mereka bisa menamatkan game ini dalam waktu kurang dari dua jam. Arcade Attack hanya terdiri dari delapan level, dan setiap level paling-paling memakan waktu 10 – 15 menit untuk diselesaikan. Saya sendiri memainkannya kemarin sore dan menyelesaikannya pagi ini (memainkan satu level demi satu level secara terputus-putus). Mengingat bagaimana membosankan (dan gampang)nya game ini, saya juga ragu ada orang yang mau memainkannya lagi begitu menyelesaikannya karena toh tambahan mode lainnya juga tidak menarik seperti Survival Mode ataupun Story Attack Mode.

Pada akhirnya: jangan buang-buang waktumu memainkan Arcade Attack. Kalau kamu memang penggemar TMNT sejati, cari emulator NES atau SNES dan mainkan game klasik TMNT dari Konami.

Final Verdict

Gameplay: 3.0
Membosankan dan repetitif.

Graphic / Sound: 3.0
Hambar dan tidak menarik.

Play Time: 2.0
Singkat, cepat, dan terlupakan.

Overall: 2.5

Game Details
Developer: Ubisoft
Publisher: Ubisoft
Genre: Action / Beat-em-up

Note: Maafkan Final Verdict saya yang lebih pendek dari biasanya. Tapi kalau sang developer saja malas membuat game, kenapa saya harus rajin mereview game yang mencoreng franchise TMNT ini?

Love It? Share It!
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Google Buzz
  • Plurk
  • Technorati
  • Tumblr

Tags: , , , , , ,

One Response to “Teenage Mutant Ninja Turtles: Arcade Attack”

  1. john ramboh V
    18. Nov, 2009 at 6:05 am #

    Emang sih, sejak dipegang ama Ubisoft sepertinya game2 TMNT jadi kurang menarik, kayak TMNT the game yang berdasarkan movie-nya, rasanya malah seperti main Crash Bandicott berbentuk kura2

Leave a Reply