Pertama saya mengira hebohnya film ini di pasaran Amrik sana adalah karena semua orang masih bersimpati dengan nasib Jennifer Aniston. Maklum, sang America sweetheart yang dulu dikenal sebagai Rachel Green ini ditinggal begitu saja oleh suaminya Brad Pitt yang ngabur dengan Angelina Jolie (Ugh, Pitt is a dumb…, menukar Jen dengan Jolie? >_<;;). Anyway, setelah saya menonton film ini, saya baru sadar kalau film ini banyak memberikan gambaran yang cukup ironis sekaligus nyata mengenai hubungan dengan lawan jenis. Cukup mendidik ternyata dengan caranya sendiri!
Gary dan Brooke adalah satu pasangan yang bahagia. Mereka sudah hidup sampai tiga tahun bersama-sama, dan mereka saling mengerti satu sama lainnya… mungkin. Karena pada suatu hari karena sebuah insiden kecil, terjadilah perkelahian besar antara mereka berdua. Semula teman-teman mereka tidak seberapa mempedulikannya. Toh, setiap hubungan pasti memiliki riak-riaknya sendiri. Yang tak disadari adalah ternyata perkelahian itu tidak berakhir malahan makin menjadi-jadi. Keduanya jadi saling tidak bisa mentolerir hobi masing-masing dan melakukan satu dan berbagai macam cara untuk menyakiti pasangannya.
Brooke misalnya memutuskan untuk memanggil adiknya berlatih vokal di rumahnya, sementara Gary membalasnya dengan menyetel stereo kencang dengan film sepanjang malam. Brooke pergi berkencan dengan pria lain, dan Gary membalasnya dengan mengadakan pesta dengan mengundang para stripper di rumah. Keduanya terus saling berusaha menyakiti satu sama lain sampai mereka menemukan sebuah konklusi akhir. Nampaknya mereka tidak bisa lagi saling bersama. Tetapi apakah cinta sejati mereka hanya akan berakhir sampai di sana saja? Lalu bagaimana usaha teman-teman dari Gary dan Brooke (yang konyol dan masing-masing dengan caranya tersendiri) mendukung Gary atau Brooke? Yang jelas film ini mengajarkan cukup banyak hal kepadaku mengenai sulitnya berada di dalam sebuah hubungan pacaran.
Kemudian deretan pemainnya pun tampil sangat baik. Apabila Jennifer Aniston dan Vince Vaughn menampilkan chemistry yang cukup gemilang (saya terutama harus memuji penampilan Jen, beberapa temanku sampai mengatakan bahwa mereka yakin Jen menggunakan breakup sesungguhnya dengan Brad Pitt sebagai acuan berakting, aktingnya benar-benar meyakinkan!). Pun demikian dengan beberapa pemain pendukungnya, yang datang melintas di pikiran karena mampu mencuri adegan seperti: Judy Davis yang benar-benar hidup memerankan tokoh Marilyn Dean. Jon Favreau juga menyegarkan suasana sebagai Johnny O.
Akhirnya apa yang kupetik dari film ini? Saya simpulkan dalam empat kategori berikut ini (as written in my blog): untuk para pria, jangan pernah menganggap remeh kalau wanita mengatakan tidak. Terkadang mereka tidak bermaksud mengatakan itu sungguh-sungguh. Jadi wanita suka berbicara secara implisit ketimbang secara eksplisit. Untuk para wanita, sebaiknya kalian belajar mengatakan terus terang kepada para pria. Para pria bukannya egois tidak memikirkan kalian, mereka menyayangi kalian, hanya saja kadang perhatiannya berbeda dengan yang kalian harapkan. Untuk yang sudah punya pasangan, pikirkanlah kadang mengenai apa yang dirasakan oleh pasangan kalian. Apakah kalian memang sudah menghargai apa yang dilakukan pasangan kalian untuk kalian? Atau jangan-jangan kalian selalu take it for granted? Jangan gengsi minta maaf atau kalian akan lost the true person you loved. Terakhir untuk yang belum punya pasangan, film ini akan membuka mata kalian bahwa yang namanya in a relationship tidak hanya ada manisnya saja. Ada banyak pahit dan duka yang juga harus dialami untuk mempertahankan sebuah hubungan itu.
Akhir kata, The Break-up adalah film komedi satir yang cocok bagi semua kalangan. Try watching it dengan pasangan anda. Kalian tentunya akan saling belajar banyak setelah menontonnya.
Score: 7.0
Movie Details
Director: Peyton Reed
Cast: Vince Vaughn, Jennifer Aniston, Joey Lauren Adams
Running Time: 105 Minutes

















