Film ketiga yang disutradarai oleh Hayao Miyazaki ini adalah film pertama yang dirilis oleh Studio Ghibli. Walaupun sebelumnya Miyazaki sudah bekerja sama dengan Isao Takahata dalam menggarap Nausicaa of the Valley of the Wind, Laputa adalah film pertama hasil kerjasama keduanya yang dirilis di bawah bendera Studio Ghibli. Selain duet sutradara – produser ini, Joe Hisaishi, komposer yang sebelumnya menggarap musik untuk Nausicaa of the Valley kembali untuk menggarap musik Laputa. Selanjutnya, Hisashi akan menjadi langganan Miyazaki untuk dipercayai menangani musik setiap filmnya.
Nama Laputa sendiri berasal dari buku Gulliver’s Travel karangan Jonathan Swift. Dalam kisah tersebut, Laputa adalah sebuah pulau yang terbang karena kekuatan sebuah batu adamantine. Konsep yang hampir serupa diadaptasi oleh Miyazaki dalam karyanya ini. Film ini diawali ketika sebuah airship mendapat serangan para bajak udara. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, seorang gadis yang belakangan diketahui bernama Sheeta menggunakannya untuk meloloskan diri. Sheeta yang nekat memanjat keluar jendela pesawat kemudian terjatuh dari langit. Alih-alih mati menghempas bumi, tubuhnya justru melayang disangga kalung misterius yang ia pakai.
Tubuh Sheeta yang melayang jatuh itu kemudian ditemukan oleh seorang mekanik bocah serba bisa bernama Pazu. Melihat Sheeta kemudian membangkitkan perasaan ingin tahu Pazu akan istana misterius bernama Laputa. Sampai sekarang Laputa hanyalah sebuah rumor mengenai istana yang bisa melayang di angkasa tanpa ada orang yang pernah ke sana. Sedikit dari orang yang pernah bisa melihat Laputa adalah ayah Pazu yang kemudian memotonya. Apa daya tidak ada orang yang percaya kepada kisah itu dan menuduh ayah Pazu pembohong sampai akhir hayatnya. Pazu bertekad mencari Laputa dan membuktikan ayahnya bukan pembohong. Sheeta dan Pazu kemudian bekerja sama meloloskan diri dari sergapan para tentara dan bajak udara yang mengincar mereka. Bisakah keduanya sampai ke Laputa? Sungguhkah tempat tersebut ada?
Banyak pengamat film yang mengatakan bahwa Laputa adalah pelopor dari genre steampunk anime. Bagi yang tidak tahu apa istilah tersebut, steampunk adalah sebuah sub-genre di mana transportasi dunia masih dominan dengan tenaga uap. Beberapa contoh dari steampunk anime seperti: Steamboy atau Atlantis-nya Disney. Film ini memang berbeda dengan dua film Miyazaki sebelumnya. Bila Castle of Cagliostro lebih berat pada sisi humor sementara Nausicaa menitikberatkan fokus pada sisi humanisme, Laputa berusaha menyeimbangkan keduanya. Ada saat-saat di mana penonton diajak tersenyum melihat ketololan-ketololan Pazu, menahan nafas melihat adegan-adegan mendebarkan di mana Pazu dan Sheeta menghindari kejaran musuh, sampai ternganga melihat kejutan-kejutan dunia fantasi yang terus disuguhkan Miyazaki kepada kita.
Hanya saja seperti yang saya katakan tadi, Laputa bisa dibilang minim pesan moral sehingga tidak ada kesan mendalam setelah usai menontonnya. Kali ini Miyazaki kelihatannya juga terlalu asyik menciptakan dunia Laputa tetapi sedikit kepayahan menjaga temponya. Walhasil sejam pertama terasa terlalu pelan bila dibandingkan dengan paruh keduanya yang lebih cepat bergerak. Tidak sampai membosankan memang, tetapi pengaturan tempo yang kurang seimbang membuat menonton film terasa janggal ketika penonton seakan diburu-buru. Ini saya sayangkan, mengingat sebenarnya waktu putar Laputa sudah lebih dari dua jam, lebih panjang dibandingkan film Miyazaki sebelumnya. Karakter-karakter dalam Laputa pun kalah memorable bila dibandingkan dengan Nausicaa. Pazu terlalu ‘sempurna’ sebagai sang bocah serba bisa sementara Sheeta sendiri terasa sangat kalah kelas bila dibandingkan dengan Nausicaa yang independen. Satu hal lain yang perlu dicatat adalah musik dalam film ini. Menurut saya Laputa adalah karya terbaik Joe Hisashi. Semua OST dalam film ini pas dalam menghidupkan adegan-adegan yang ada, mulai dari petualangan, misteri, hingga saat-saat manis antara kedua tokoh utama. Bahkan lagu endingnya yang dinyanyikan oleh Azumi Inoue pun memiliki makna yang sangat dalam bila kamu mengerti artinya.
Lepas dari semua kritikan yang saya sebutkan di atas, itu bukan berarti saya tidak menyukai Laputa. Sebaliknya ini tetaplah sebuah film animasi yang sangat luar biasa yang menjadi inspirasi bagi banyak film animasi di masa depan (ada yang sadar kalau premise Laputa cukup mirip dengan petualangan Luffy dan kawan-kawan saat menjelajah Skypiea di One Piece?).
Note: La puta dalam bahasa Spanyol berarti wanita tuna susila. Gara-gara miskomunikasi kultural ini film Laputa sempat kesulitan masuk ke negara-negara latin dan Eropa.
Score: 8.3
Movie Details
Director: Hayao Miyazaki
Cast: Keiko Yokozawa, Mayumi Tanaka, Minori Terada
Running Time: 124 Minutes


















