Proyek Studio Ghibli pada tahun 1988 mungkin adalah proyek mereka yang paling ambisius hingga saat ini sekalipun. Pada tahun tersebut dua pendiri Studio Ghibli; Hayao Miyazaki dan Isao Takahata menggarap dua film pada waktu yang hampir bersamaan dan merilisnya secara serentak. Walaupun secara finansial keduanya gagal balik modal, keduanya juga menjadi fundamental penting bagi studio film ini dalam langkah-langkah ke depan. Isao Takahata dengan Grave of the Fireflies, salah satu film dengan pesan anti-perang terbaik sementara Hayao Miyazaki dengan My Neighbor Totoro di mana sosok Totoro nantinya menjadi maskot dari Studio Ghibli.
Pada tahun 1958 keluarga Kusakabe pindah ke daerah pedesaan supaya bisa tinggal lebih dekat dari rumah sakit tempat sang ibu dirawat. Keluarga Kusakabe terdiri dari sang ayah yang adalah seorang dosen dengan dua kakak beradik Satsuki dan Mei. Keduanya sangat senang tinggal di rumah baru mereka dan sering pergi menjelajah ke sana-sini untuk kejutan-kejutan baru. Tak lama setelah pindah, Satsuki mulai bersekolah (karena usianya sudah sekitar 10 tahun). Sementara itu Mei yang masih empat tahun bermain-main di rumah ditemani sang ayah.
Suatu hari pencarian Mei akan binatang unik membawanya pada sebuah lubang misterius. Lubang misterius ini kemudian mengirimnya sampai pada sosok roh penjaga hutan. Mei menyebutnya sebagai Totoro dan mengajaknya bermain. Ketika Satsuki menemukannya, Mei ternyata tengah tertidur di tanah. Jadi sungguhkah ada Totoro atau Mei hanya sekedar memimpikannya saja? Akankah Totoro keluar lagi? Bagaimana dengan nasib ibu keduanya, akankah ia sembuh dari penyakitnya?
Kontras dengan Grave of the Fireflies yang sendu, My Neighbor Totoro hangat dengan keluarga dan kasih sayang. Uniknya kedua film ini sama-sama menyorot hubungan kakak-beradik yang saling mengasihi. Seperti halnya Grave of the Fireflies, hubungan kakak beradik Satsuki dan Mei menjadi titik terkuat dalam film ini (tapi kali ini dengan versi gelas setengah penuh). Di luar dugaan, Totoro sendiri tidak sering-sering sekali keluar dalam film ini. Toh, karena tidak diekspos berlebihan setiap kemunculannya justru amat sangat memorable di mana tingkah laku Totoro pasti mengundang senyum dari wajah saya. Hubungan keluarga Kasukabe yang penuh dengan kehangatan juga membuat hati saya turut tersentuh. Berapa film keluarga yang kamu tonton ketika anaknya mengaku melihat sosok roh yang tak bisa dilihat oleh orang tuanya, orang tuanya bukan tertawa mengejek tidak percaya tapi malahan mendukung dan berkata “kamu sangat beruntung karena bisa bertemu dengan roh penjaga hutan ini”. Tidak hanya adegan itu saja, Hayao Miyazaki masih menyelipkan lebih banyak lagi pesan kepada orang tua mengenai bagaimana mendidik anak dengan benar.
Musik dalam My Neighbor Totoro digarap oleh Joe Hisaishi dan walaupun ia tidak bisa melebihi pencapaiannya di Laputa: Castle in the Sky, Hisaishi memaksimalkan setiap musik dengan nada-nada yang ceria dan penuh petualangan sesuai jiwa filmnya. Lagu endingnya yang berjudul Tonari no Totoro adalah lagu ending animasi terbaik bagi Studio Ghibli. Animasinya sendiri seperti khas setiap film Ghibli: menawan. Terbukti bahwa daya tarik Miyazaki bukan sekedar pada dunia-dunia fantasi semata tetapi juga pada campuran antara dunia nyata dan fantasi.
Saya ingat debat antara duo reviewer ternama Gene Siskel dan Roger Ebert saat membahas film ini. Siskel mengkritik film ini dan merasa bahwa ia memiliki alur cerita yang lambat, bertele-tele dan membosankan. Di lain pihak, Roger Ebert memberinya pujian setinggi langit karena karakter-karakternya yang down-to-earth, jalan ceritanya yang simpel tetapi berbeda dari biasanya, sampai kualitas animasinya yang indah. Setelah menonton film ini, saya memihak pada Roger Ebert. My Neighbor Totoro lebih dari layak untuk masuk dalam daftar lima besar animasi favoritku sepanjang masa.
Note: Nama Totoro yang diucapkan Mei sebenarnya tercipta karena kecadelan Mei yang hendak mengatakan kata ‘Troll’. Maklum, kemampuan Inggris orang Jepang kan di bawah rata-rata.
Score: 9.8
Movie Details
Director: Hayao Miyazaki
Cast: Chika Sakamoto, Noriko Hidaka, Hitoshi Takagi
Running Time: 86 Minutes
























