Archive | September, 2009

Tags: , , , ,

My Neighbor Totoro (Tonari no Totoro)

Posted on 30 September 2009 by Si Tukang Review

My Neighbor Totoro Poster

My Neighbor Totoro Poster

Proyek Studio Ghibli pada tahun 1988 mungkin adalah proyek mereka yang paling ambisius hingga saat ini sekalipun. Pada tahun tersebut dua pendiri Studio Ghibli; Hayao Miyazaki dan Isao Takahata menggarap dua film pada waktu yang hampir bersamaan dan merilisnya secara serentak. Walaupun secara finansial keduanya gagal balik modal, keduanya juga menjadi fundamental penting bagi studio film ini dalam langkah-langkah ke depan. Isao Takahata dengan Grave of the Fireflies, salah satu film dengan pesan anti-perang terbaik sementara Hayao Miyazaki dengan My Neighbor Totoro di mana sosok Totoro nantinya menjadi maskot dari Studio Ghibli.

Pada tahun 1958 keluarga Kusakabe pindah ke daerah pedesaan supaya bisa tinggal lebih dekat dari rumah sakit tempat sang ibu dirawat. Keluarga Kusakabe terdiri dari sang ayah yang adalah seorang dosen dengan dua kakak beradik Satsuki dan Mei. Keduanya sangat senang tinggal di rumah baru mereka dan sering pergi menjelajah ke sana-sini untuk kejutan-kejutan baru. Tak lama setelah pindah, Satsuki mulai bersekolah (karena usianya sudah sekitar 10 tahun). Sementara itu Mei yang masih empat tahun bermain-main di rumah ditemani sang ayah.

Suatu hari pencarian Mei akan binatang unik membawanya pada sebuah lubang misterius. Lubang misterius ini kemudian mengirimnya sampai pada sosok roh penjaga hutan. Mei menyebutnya sebagai Totoro dan mengajaknya bermain. Ketika Satsuki menemukannya, Mei ternyata tengah tertidur di tanah. Jadi sungguhkah ada Totoro atau Mei hanya sekedar memimpikannya saja? Akankah Totoro keluar lagi? Bagaimana dengan nasib ibu keduanya, akankah ia sembuh dari penyakitnya?

Kontras dengan Grave of the Fireflies yang sendu, My Neighbor Totoro hangat dengan keluarga dan kasih sayang. Uniknya kedua film ini sama-sama menyorot hubungan kakak-beradik yang saling mengasihi. Seperti halnya Grave of the Fireflies, hubungan kakak beradik Satsuki dan Mei menjadi titik terkuat dalam film ini (tapi kali ini dengan versi gelas setengah penuh). Di luar dugaan, Totoro sendiri tidak sering-sering sekali keluar dalam film ini. Toh, karena tidak diekspos berlebihan setiap kemunculannya justru amat sangat memorable di mana tingkah laku Totoro pasti mengundang senyum dari wajah saya. Hubungan keluarga Kasukabe yang penuh dengan kehangatan juga membuat hati saya turut tersentuh. Berapa film keluarga yang kamu tonton ketika anaknya mengaku melihat sosok roh yang tak bisa dilihat oleh orang tuanya, orang tuanya bukan tertawa mengejek tidak percaya tapi malahan mendukung dan berkata “kamu sangat beruntung karena bisa bertemu dengan roh penjaga hutan ini”. Tidak hanya adegan itu saja, Hayao Miyazaki masih menyelipkan lebih banyak lagi pesan kepada orang tua mengenai bagaimana mendidik anak dengan benar.

Musik dalam My Neighbor Totoro digarap oleh Joe Hisaishi dan walaupun ia tidak bisa melebihi pencapaiannya di Laputa: Castle in the Sky, Hisaishi memaksimalkan setiap musik dengan nada-nada yang ceria dan penuh petualangan sesuai jiwa filmnya. Lagu endingnya yang berjudul Tonari no Totoro adalah lagu ending animasi terbaik bagi Studio Ghibli. Animasinya sendiri seperti khas setiap film Ghibli: menawan. Terbukti bahwa daya tarik Miyazaki bukan sekedar pada dunia-dunia fantasi semata tetapi juga pada campuran antara dunia nyata dan fantasi.

Saya ingat debat antara duo reviewer ternama Gene Siskel dan Roger Ebert saat membahas film ini. Siskel mengkritik film ini dan merasa bahwa ia memiliki alur cerita yang lambat, bertele-tele dan membosankan. Di lain pihak, Roger Ebert memberinya pujian setinggi langit karena karakter-karakternya yang down-to-earth, jalan ceritanya yang simpel tetapi berbeda dari biasanya, sampai kualitas animasinya yang indah. Setelah menonton film ini, saya memihak pada Roger Ebert. My Neighbor Totoro lebih dari layak untuk masuk dalam daftar lima besar animasi favoritku sepanjang masa.

Note: Nama Totoro yang diucapkan Mei sebenarnya tercipta karena kecadelan Mei yang hendak mengatakan kata ‘Troll’. Maklum, kemampuan Inggris orang Jepang kan di bawah rata-rata.

Score: 9.8

Movie Details
Director: Hayao Miyazaki
Cast: Chika Sakamoto, Noriko Hidaka, Hitoshi Takagi
Running Time: 86 Minutes

Comments (3)

Tags: , , , , , ,

Grave of the Fireflies (Hotaru no Haka)

Posted on 30 September 2009 by Si Tukang Review

Grave of the Fireflies Poster

Grave of the Fireflies Poster

Yes, it’s a cartoon, and the kids have eyes like saucers, but it belongs on any list of the greatest war films ever made.
- Roger Ebert, Chicago Sun-Times

Ada dua nama besar di balik Studio Ghibli. Yang pertama adalah Hayao Miyazaki dan yang kedua Isao Takahata. Ketika keduanya bertemu, mereka merasa bahwa ide mereka klop dan bekerja samalah keduanya membuat Studio Ghibli. Hayao Miyazaki memang lebih dikenal di dunia barat karena ia lebih produktif berkarya dibanding rekannya itu. Kendati begitu, Isao Takahata sendiri bukan sutradara kelas dua. Empat film yang ia sutradarai semua menyorot aspek yang berbeda-beda, dan satu di antaranya disebut-sebut banyak pihak (termasuk kritikus film kawakan Roger Ebert) sebagai salah satu film animasi terbaik sepanjang masa. Film itu tidak lain tidak bukan adalah Grave of the Fireflies (Hotaru no Haka).

Di akhir Perang Dunia kedua, Jepang tertekan oleh serangan musuh (tidak pernah ditunjukkan secara eksplisit apakah Amerika, Eropa, atau negara lain yang menyerang mereka). Di saat kota Kobe dibom, dua bersaudara Seita dan Setsuko terpisah dari sang ibu. Belakangan setelah keadaan mereda, Seita menemukan bahwa ibu mereka sudah terkena luka bakar yang sangat parah akibat serangan bom tersebut. Karena tidak mendapatkan penanganan yang maksimal, sang ibu pun meninggal dunia. Kini Seita dan Setsuko menjadi terlunta-lunta seorang diri karena ayah mereka tergabung dalam kelompok Angkatan Laut dan maju berperang.

Tanpa tujuan pergi, Seita dan Setsuko semula dititipkan di tempat kediaman bibi mereka (saudara jauh). Walaupun tadinya sang bibi mau menerima mereka, perang mengubah karakter sang bibi menjadi kejam. Terus dicela, disindir, dan ditipu terang-terangan, Seita dan Setsuko akhirnya muak tinggal bersama dengan keluarga bibi mereka dan memutuskan tinggal berdua saja di sebuah gua yang ditemukan Seita. Tetapi kebebasan mereka juga datang dengan sebuah harga. Kini mereka benar-benar tinggal sendiri dan harus mandiri. Apakah mereka bisa bertahan hidup di tengah kekejaman perang?

Apa yang membuat film ini begitu berbeda dengan film-film perang lainnya? Sederhana saja: ia tidak berusaha menghakimi. Berbeda dengan film perang lain seperti; sebut saja Pearl Harbour, ia tidak berusaha menuding dan mengatakan “Hei Jepang negara kami yang benar. Lihat  betapa kejamnya kalian Amerika!”. Justru adegan peledakan bom dan terbakarnya rumah hanya diperlihatkan secara sambil lalu. Takahata lebih memfokuskan diri mengeksplorasi bagaimana pengaruh serangan tersebut pada masyarakat. Film ini juga begitu rapi dan cerdas menyelipkan berbagai macam simbol di dalamnya. Hotaru atau Firefly dalam film ini saja sudah merepresentasikan berbagai hal: mulai dari jiwa manusia sampai bom napalm. Takahata juga menyorot berbagai karakteristik manusia dalam film ini. Grave of the Fireflies menyindir karakter seseorang yang muncul belangnya saat keselamatan mereka sendiri terancam sekaligus juga menghidupkan dua karakter utama Seita dan Setsuko sebagai pasangan kakak-adik yang saling menyayangi. Walaupun nasib kedua karakter utama ini sudah diketahui penonton di awal film, melihat prosesi menuju kejadian itu tetap akan menghancurkan hati sebagian besar penonton. Itulah mungkin alasan kenapa ending film ini saya nilai sebagai salah satu ending yang paling menyayat hati saya. Saya membaca bahwa film Grave of the Fireflies adalah salah satu film paling kontroversial dari Studio Ghibli di mata orang asing (baca: Korea dan China) karena dianggap berusaha menjadikan Jepang sebagai ‘korban’ dalam perang yang mereka sendiri ciptakan. Saya tidak setuju. Mengutip kata-kata Bertrand Russell: “War doesn’t determine who is right – only who is left.

Grave of the Fireflies diangkat dari novel semi-biografi karangan Akiyuki Nosaka yang kehilangan adik perempuannya akibat kelaparan di akhir Perang Dunia II. Merasa bersalah, Nosaka kemudian menulis novel tersebut untuk meringankan perasaannya. Walaupun populer, tidak ada pihak yang mau menjadikan kisah ini sebagai animasi karena ceritanya yang dinilai terlalu sendu dan cenderung membuat depresi. Toh, Takahata menerima ‘tantangan’ ini dan menyutradarai film ini. Akhirnya, Grave of the Fireflies dirilis beriring-iringan dengan karya Hayao Miyazaki My Neighbor Totoro. Seperti ditebak, unsur sendunya yang berlebih membuatnya gagal berbicara banyak di Box Office. Waktu, toh, pada akhirnya membawa film ini mencapai status legendaris yang sudah sepantasnya ia terima.

Score: 8.9

Movie Details
Director: Isao Takahata
Cast: Tsutomu Tatumi, Ayano Shiraishi, Yoshiko Shinohara
Running Time: 88 Minutes

Comments (7)

Tags: , , ,

Laputa: Castle in the Sky

Posted on 29 September 2009 by Si Tukang Review

Laputa: Castle in the Sky Poster

Laputa: Castle in the Sky Poster

Film ketiga yang disutradarai oleh Hayao Miyazaki ini adalah film pertama yang dirilis oleh Studio Ghibli. Walaupun sebelumnya Miyazaki sudah bekerja sama dengan Isao Takahata dalam menggarap Nausicaa of the Valley of the Wind, Laputa adalah film pertama hasil kerjasama keduanya yang dirilis di bawah bendera Studio Ghibli. Selain duet sutradara – produser ini, Joe Hisaishi, komposer yang sebelumnya menggarap musik untuk Nausicaa of the Valley kembali untuk menggarap musik Laputa. Selanjutnya, Hisashi akan menjadi langganan Miyazaki untuk dipercayai menangani musik setiap filmnya.

Nama Laputa sendiri berasal dari buku Gulliver’s Travel karangan Jonathan Swift. Dalam kisah tersebut, Laputa adalah sebuah pulau yang terbang karena kekuatan sebuah batu adamantine. Konsep yang hampir serupa diadaptasi oleh Miyazaki dalam karyanya ini. Film ini diawali ketika sebuah airship mendapat serangan para bajak udara. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, seorang gadis yang belakangan diketahui bernama Sheeta menggunakannya untuk meloloskan diri. Sheeta yang nekat memanjat keluar jendela pesawat kemudian terjatuh dari langit. Alih-alih mati menghempas bumi, tubuhnya justru melayang disangga kalung misterius yang ia pakai.

Tubuh Sheeta yang melayang jatuh itu kemudian ditemukan oleh seorang mekanik bocah serba bisa bernama Pazu. Melihat Sheeta kemudian membangkitkan perasaan ingin tahu Pazu akan istana misterius bernama Laputa. Sampai sekarang Laputa hanyalah sebuah rumor mengenai istana yang bisa melayang di angkasa tanpa ada orang yang pernah ke sana. Sedikit dari orang yang pernah bisa melihat Laputa adalah ayah Pazu yang kemudian memotonya. Apa daya tidak ada orang yang percaya kepada kisah itu dan menuduh ayah Pazu pembohong sampai akhir hayatnya. Pazu bertekad mencari Laputa dan membuktikan ayahnya bukan pembohong. Sheeta dan Pazu kemudian bekerja sama meloloskan diri dari sergapan para tentara dan bajak udara yang mengincar mereka. Bisakah keduanya sampai ke Laputa? Sungguhkah tempat tersebut ada?

Banyak pengamat film yang mengatakan bahwa Laputa adalah pelopor dari genre steampunk anime. Bagi yang tidak tahu apa istilah tersebut, steampunk adalah sebuah sub-genre di mana transportasi dunia masih dominan dengan tenaga uap. Beberapa contoh dari steampunk anime seperti: Steamboy atau Atlantis-nya Disney. Film ini memang berbeda dengan dua film Miyazaki sebelumnya. Bila Castle of Cagliostro lebih berat pada sisi humor sementara Nausicaa menitikberatkan fokus pada sisi humanisme, Laputa berusaha menyeimbangkan keduanya. Ada saat-saat di mana penonton diajak tersenyum melihat ketololan-ketololan Pazu, menahan nafas melihat adegan-adegan mendebarkan di mana Pazu dan Sheeta menghindari kejaran musuh, sampai ternganga melihat kejutan-kejutan dunia fantasi yang terus disuguhkan Miyazaki kepada kita.

Hanya saja seperti yang saya katakan tadi, Laputa bisa dibilang minim pesan moral sehingga tidak ada kesan mendalam setelah usai menontonnya. Kali ini Miyazaki kelihatannya juga terlalu asyik menciptakan dunia Laputa tetapi sedikit kepayahan menjaga temponya. Walhasil sejam pertama terasa terlalu pelan bila dibandingkan dengan paruh keduanya yang lebih cepat bergerak. Tidak sampai membosankan memang, tetapi pengaturan tempo yang kurang seimbang membuat menonton film terasa janggal ketika penonton seakan diburu-buru. Ini saya sayangkan, mengingat sebenarnya waktu putar Laputa sudah lebih dari dua jam, lebih panjang dibandingkan film Miyazaki sebelumnya. Karakter-karakter dalam Laputa pun kalah memorable bila dibandingkan dengan Nausicaa. Pazu terlalu ‘sempurna’ sebagai sang bocah serba bisa sementara Sheeta sendiri terasa sangat kalah kelas bila dibandingkan dengan Nausicaa yang independen. Satu hal lain yang perlu dicatat adalah musik dalam film ini. Menurut saya Laputa adalah karya terbaik Joe Hisashi. Semua OST dalam film ini pas dalam menghidupkan adegan-adegan yang ada, mulai dari petualangan, misteri, hingga saat-saat manis antara kedua tokoh utama. Bahkan lagu endingnya yang dinyanyikan oleh Azumi Inoue pun memiliki makna yang sangat dalam bila kamu mengerti artinya.

Lepas dari semua kritikan yang saya sebutkan di atas, itu bukan berarti saya tidak menyukai Laputa. Sebaliknya ini tetaplah sebuah film animasi yang sangat luar biasa yang menjadi inspirasi bagi banyak film animasi di masa depan (ada yang sadar kalau premise Laputa cukup mirip dengan petualangan Luffy dan kawan-kawan saat menjelajah Skypiea di One Piece?).

Note: La puta dalam bahasa Spanyol berarti wanita tuna susila. Gara-gara miskomunikasi kultural ini film Laputa sempat kesulitan masuk ke negara-negara latin dan Eropa.

Score: 8.3

Movie Details
Director: Hayao Miyazaki
Cast: Keiko Yokozawa, Mayumi Tanaka, Minori Terada
Running Time: 124 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , ,

Lupin the Third: The Castle of Cagliostro

Posted on 29 September 2009 by Si Tukang Review

The Castle of Cagliostro Poster

The Castle of Cagliostro Poster

Di Amerika, kartun sinonim dengan Walt Disney dan studio animasi Disney yang mempeloporinya. Di Jepang (dan di negara-negara Asia Timur lainnya), kartun sinonim dengan Hayao Miyazaki dan Studio Ghibli. Pada jaman sekarang bahkan dunia barat pun mengakui karya-karya Miyazaki seperti Spirited Away, Princess Mononoke, dan baru-baru ini Ponyo on the Cliff. Kendati begitu jauh ketika Miyazaki masih belum populer, film pertama yang melejitkan namanya pada popularitas adalah film mengenai si pencuri Lupin dan petualangannya di kastil Cagliostro.

Lupin the Third sendiri sudah memiliki sejarah yang cukup panjang. Ia pertama kali hadir dalam bentuk manga yang ditulis oleh mangaka Monkey Punch (nama pena Kazuhiko Kato). Dalam kisah ini Arsene Lupin the Third adalah cucu dari pencuri ulung Arsene Lupin (karangan penulis Perancis Maurice Leblanc). Lupin bersama dengan teman baiknya Daisuke Jigen selalu terlibat dalam kasus-kasus pencurian dan selalu berhasil lolos dari kejaran Inspektur Zenigata yang terobsesi menangkapnya. Terkadang dalam pencuriannya, Lupin dibantu juga oleh Goemon sang samurai dan Fujiko sang pencuri wanita yang hubungannya dengan Lupin selalu putus nyambung.

Kisah dalam film ini dibuka ketika Lupin dan Jigen sukses membobol sebuah kasino di Monaco. Kegembiraan duet pencuri ini terpotong singkat setelah Lupin menyadari bahwa uang yang mereka bobol dari kasino itu ternyata palsu. Tetapi dari sana muncul pertanyaan lebih besar di benak Lupin. Siapa yang kiranya bisa mencetak uang palsu sampai-sampai bisa menipu kasino resmi negara? Pencarian keduanya kemudian membawa mereka pada sebuah negara kecil bernama Cagliostro. Tak lama setelah sampai, mobil mereka berpapasan dengan mobil seorang pengantin wanita yang dikejar-kejar oleh gerombolan bersenjata. Lupin yang playboy langsung turun tangan menghentikan usaha tersebut – tanpa sadar bahwa ia melibatkan dirinya dalam sebuah konspirasi rahasia kerajaan Cagliostro.

Sebenarnya akan lebih baik menonton film ini bila kamu sudah pernah menonton serial animasi atau setidaknya tahu mengenai hubungan dari Lupin dan kawan-kawannya. Bila tidak, kamu mungkin akan bingung mengenai siapa karakter samurai yang tahu-tahu nongol di tengah film, atau siapa itu Inspektur Zenigata dan mengapa ia begitu terobsesi untuk menangkap Lupin (di luar alasan karena Lupin seorang pencuri yang diinginkan banyak negara). Toh jangan terlewat khawatir, walaupun Hayao Miyazaki tidak menghabiskan banyak waktu untuk memperkenalkan kepada kita karakter-karakter dalam film ini, kebanyakan dari mereka memiliki kepribadian yang cukup ‘sederhana’ dan mudah dikenal sembari menontonnya. Siapa tahu saja menonton film ini justru memantik keingintahuan kalian untuk menonton lebih lanjut petualangan-petualangan Lupin di layar kaca?

Untuk kualitas animasinya sendiri, The Castle of Cagliostro tergolong sangat indah buat jamannya. Digarap pada tahun 1979, film ini tidak hanya sukses menghadirkan karakter-karakter orisinal yang sama berkesannya saat berinteraksi dengan karakter-karakter yang biasa nongol di layar kaca, Miyazaki juga sukses membangun Cagliostro; negara yang sudah memiliki beberapa ciri khas yang menjadi dasar bagi karya maestro ini selanjutnya. Saya sudah menonton film ini dua kali dalam versi orisinil Jepang dan versi dubbing Amerika dan saya bisa mengatakan bahwa kedua versi tersebut sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Bagi mereka yang mencintai cita rasa anime yang orisinil mungkin lebih baik menonton versi aslinya, tetapi versi Amerikanya juga tidak kalah (dan suara Lupin diisi tidak lain tidak bukan oleh Solid Snake eh maksud saya David Hayter sendiri!).

The Castle of Cagliostro adalah sebuah film animasi yang lengkap dan pas meramu unsur aksi, komedi, petualangan, juga misteri (baca: bisa ditonton anak kecil maupun orang dewasa), tapi ia masih jauh dari sempurna. Beberapa kekurangannya yang jelas terlihat adalah sifat para karakternya masih terlalu datar dan kurang berkembang (karena Miyazaki dibatasi mengingat cerita Lupin masih harus berlanjut di serial TV) juga beberapa adegan aksinya terasa terlalu menantang logika. Kendati begitu, sulit menyangkal kalau dari sinilah Miyazaki pertama kali menunjukkan bakat jeniusnya yang akan terus ia sempurnakan di tahun-tahun mendatang.

Note: Ada yang tahu mengenai judul lagu di opening dan ending scenenya? Lagu ini sangat indah, berkesan, dan walau sudah berusia 20 tahun tidak terdengar jadul tetapi klasik.

Score: 7.5

Movie Details
Director: Hayao Miyazaki
Cast: Yasuo Yamada, Kiyoshi Kobayashi, Makio Inoue, Eiko Masuyama
Running Time: 100 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , , , , ,

Soulcalibur: Broken Destiny

Posted on 28 September 2009 by Si Tukang Review

Soulcalibur: Broken Destiny Cover

Soulcalibur: Broken Destiny Cover

Mengingat Bandai Namco memiliki dua franchise tenar dalam game fighting: Tekken dan Soul Calibur, bukan hal yang mengherankan bahwa mereka membawa franchise Soul Calibur ke PSP. Sebelumnya pun developer ini sudah mendapatkan banyak pujian setelah sukses mengadaptasi Tekken 5 menjadi Tekken 5: Dark Ressurection. Bahkan, game tersebut masih dianggap sebagai game fighting terbaik di PSP walau sudah berusia tiga tahun lebih. Tentu saja masalahnya tidak segampang itu untuk Soulcalibur: Broken Destiny. Tekken 5 yang menjadi basis Dark Ressurection adalah game PS2 yang teknologinya notabene hampir seimbang dengan PSP. Nah, masalahnya Broken Destiny adalah adaptasi dari Soulcalibur IV yang hadir untuk konsol-konsol next-gen seperti PS3 dan 360. Bagaimana Bandai Namco mengakali hal ini?

Jawaban dari pertanyaan itu adalah downgrade grafis. Jangan membandingkan Broken Destiny dengan Soulcalibur IV karena kamu dijamin akan kecewa. Tetapi bila dibandingkan dengan kebanyakan game PSP yang ada, Broken Destiny boleh menepuk dada dengan bangga. Selain Dark Ressurection dan Final Fantasy: Dissidia, sulit menemukan game fighting yang memiliki grafis seimpresifnya. Dalam game ini kamu bisa memainkan satu dari 28 karakter yang ditampilkan. Yoda dan Darth Vader yang menjadi bonus di sistem konsolnya absen dalam versi kali ini, tetapi sebagai gantinya Broken Destiny menyediakan karakter baru bernama Dampierre dan sang dewa perang Kratos (iya, Kratos dari God of War). Selain dua karakter baru ini, fitur menciptakan sendiri karaktermu masih dipertahankan Broken Destiny sehingga kamu bisa menciptakan macam-macam karakter seturut kreatifitasmu.

Soulcalibur sudah lama dikenal sebagai sebuah game fighting yang sistemnya gampang untuk dipelajari tapi sulit untuk dikuasai. Setiap karakter memiliki ciri khas mereka sendiri. Mengingat semua karakter sudah diambil dari versi Soulcalibur IV saya akan lebih banyak membahas mengenai dua karakter barunya. Dampierre adalah tokoh yang sulit-sulit gampang untuk dikendalikan karena gerakannya yang nyentrik. Ia memadukan gaya tolol ala Drunken Master (cuma kali ini versi orang Eropa) dengan senjata yang tersembunyi di bajunya. Kalau kamu bukan veteran Soulcalibur, saran saya adalah pakai karakter lain dulu sebelum menjajal Dampierre. Sebaliknya Kratos adalah salah satu karakter yang agak overpowered dalam game ini. Gerakannya gampang dipelajari dan murka Kratos yang serangannya menggebrak ke sana-sini menjadikannya karakter yang harus kamu waspadai. Animasi dari Kratos sendiri sangat fluid (diambil dari Chain of Olympus mungkin?) dan lebih mudah menyatu dengan para jagoan-jagoan Soulcalibur lainnya. Bandingkan dengan saat Yoda dan Darth Vader melawan Mitsurugi atau Sophitia. Keren sih keren… tapi apa masuk akal? Ah, buat kamu yang sudah main Soulcalibur IV, berbahagialah karena sistem-sistemnya seperti Soul Gauge, Soul Crushes dan Critical Finishes masih dipertahankan. Omong-omong soal Critical Finishes, kalian harus lihat versinya Dampierre yang amat sangat dodol (dan kocak).

Sayangnya walaupun kontrol, gameplay, dan grafis Soulcalibur mumpuni, kekurangan game ini terletak pada kurang variatifnya menu yang ditawarkan. Tidak ada Story Mode dalam Broken Destiny jadi kalau kamu kelewatan Soulcalibur IV dan ingin tahu ceritanya dari Broken Destiny – yah, siap-siap kecewa saja. Sebagai ganti Story Mode, kamu justru diberi The Gauntlet, sejenis mini-game merangkap tutorial yang ceritanya super tolol dan kocak. Kamu dijamin terbahak-bahak melihat karakter-karakter favoritmu bertingkah bagaikan orang idiot dalam mode ini. Sayang, selucu apapun cerita yang ditawarkan, The Gauntlet pendek dan tidak akan makan waktu lama sebelum kamu kemudian menyelesaikannya (atau bosan karenanya). Selain The Gauntlet, satu-satunya daya tarik utama dari Broken Destiny tinggal Quick Match yang memasukkanmu dalam ruang virtual di mana kamu bisa memilih lawan-lawanmu. Ada satu lagi mode bernama Trial tetapi mode ini seperti Survival Mode yang memang jarang kusentuh dalam game fighting.

Kekurangan mode permainan hanya satu dari dua kesalahan fatal Broken Destiny. Kesalahan kedua yang lebih parah adalah absennya fitur memainkan game ini online. Kenapa fitur ini tidak dimasukkan membuat saya tidak habis pikir. Blunder besar Bandai Namco! Di tengah kemajuan teknologi dan kecepatan internet, tidak memasukkan fitur bertarung dengan para petarung di seluruh dunia terasa seperti kesempatan emas yang disia-siakan. Apa boleh buat, satu-satunya cara untuk menjajal lawan manusia yang lain hanyalah menggunakan fitur wireless PSP, yah setidaknya tidak ada lag dalam pertarungan nirkabel.

Lepas dari dua kekurangan utama itu, Broken Destiny masih sebuah game yang harus kamu miliki bila kamu adalah pecinta game fighting. Sudah saatnya memensiunkan Dark Ressurection dan membawa para jagoan berpedang ini untuk jalan-jalan.

Final Verdict

Gameplay: 8.0
Di mana Story dan Arcade mode yang seharusnya menjadi fitur wajib dari setiap game fighting? Untung saja gameplay dalam Broken Destiny sekuat versi konsolnya. Ini adalah game yang dengan mudah menyedot puluhan jam dalam hidupmu dan menghipnotismu menguasai jurus-jurus para karakternya.

Graphic / Sound: 9.5
Selain grafisnya yang di atas rata-rata, saya ingin berterima kasih kepada Bandai Namco yang memberi fitur dua suara dalam game ini (Jepang dan Amerika). Developer lain, contohlah mereka!

Play Time: 7.5
Dengan sedikitnya mode single player yang bisa kamu mainkan dan sulitnya mencari lawan tanding (temanmu yang punya PSP, suka game fighting, sekaligus punya Broken Destiny paling-paling ada berapa gelintir sih?) menjadikan nilai main game ini turun. Seru sih seru, tapi game fighting kan paling asyik bila mengadu dengan orang lain.

Overall: 8.3

Game Details
Producer: Bandai Namco
Developer: Bandai Namco
Genre: 3D Fighting

Comments (0)

Tags: , , , , ,

The Ultimate Studio Ghibli Marathon

Posted on 28 September 2009 by Si Tukang Review

Bagi pecinta animasi, ada ungkapan “Disney di barat, Ghibli di timur”. Ungkapan tersebut menyatakan bahwa bila Walt Disney dengan film-film animasi 2D dan 3Dnya merajai pasaran Amerika maka Studio Ghibli di bawah Hayao Miyazaki adalah raja di Asia. Sungguh sayang bahwa film-film Miyazaki yang sangat terkenal dan sukses di mancanegara masih jarang terdengar gaungnya di Indonesia. Bahkan ketika teman-teman saya mendengar mengenai Studio Ghibli, mereka malah mengernyitkan dahi keheranan – mengira kalau itu sebuah studio dari Turki atau negara Timur Tengah lainnya.

Saya sendiri sudah berhasrat menggarap review mengenai Studio Ghibli – jauh lebih berhasrat dibandingkan menggarap review marathon Pixar. Pixar sih sudah tidak butuh penjelasan lebih lanjut mengingat hampir semua orang menonton film-film mereka. Akses menujunya pun gampang. Tinggal cari saja filmnya persewaan VCD terdekat atau membelinya di toko. Film-film Studio Ghibli merupakan cerita yang berbeda. Film-film mereka yang paling terkenal macam Spirited Away dan Princess Mononoke saja harus berburu mencarinya, apalagi yang kurang terkenal seperti Porco Rosso atau The Cat Returns. Walah, menemukannya bisa jadi sesenang Indy menemukan cawan suci!

Ketika saya tengah pergi ke Hongkong, tengah diadakan promo penjualan film Studio Ghibli untuk mendukung perilisan DVD Ponyo. Sayangnya setiap film harganya berkisar 100 – 150 HKD (hampir 200 Ribu Rupiah) sehingga dengan budget yang saya punya saya hanya bisa membeli dua (saat itu saya memilih Ponyo dan Princess Mononoke). Ketika saya mengeluhkan hal ini kepada teman saya Adhitya, ia mendadak memberi saya sebuah kejutan yang sangat – sangat menyenangkan.

Ia membelikan buat saya satu boxset Ultimate Ghibli Collection. Bayangkan betapa girangnya saya mendapatkan boxset tersebut! (Thanks Dit!!). Hampir semua titel-titel Ghibli lengkap berderet di sana, mulai dari Pom Poko yang sederhana sampai Grave of the Fireflies yang sudah mendapatkan segudang pujian. Begitu mendapatkan boxset ini, saya memantapkan hati saya untuk menonton semua film tersebut dan memberikan review lengkap setiap film Studio Ghibli.

Berikut adalah list lengkap dari film Ghibli yang akan saya review. Don’t miss them!
- Lupin the Third: Castle of Cagliostro
- Nausicaa of the Valley of the Wind
- Laputa: Castle in the Sky
- Grave of the Fireflies
- My Neighbor Totoro
- Kiki’s Delivery Service
- Only Yesterday
- Porco Rosso
- Ocean Waves
- Pom Poko
- Whisper of the Heart
- Princess Mononoke
- My Neighbors the Yamadas
- Spirited Away
- The Cat Returns
- Howl’s Moving Castle
- Tales from Earthsea
Ponyo on the Cliff by the Sea

Oh ya, kalau ada yang penasaran kenapa mereka tidak bisa menemukan ungkapan yang saya kutip di atas, itu sebenarnya hanya karangan saya sendiri kok. Hi hi hi.

Comments (3)

Tags: , , , , , ,

Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer

Posted on 25 September 2009 by Si Tukang Review

Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer

Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer

Fantastic Four kembali hadir di tahun 2007 ini. Semenjak minggu pertama di mana Fantastic Four pertama mampu meraup lebih dari 50 Juta USD, semua kru dan sutradara langsung dikontrak untuk menggarap film keduanya. Hasilnya adalah Fantastic Four 2 memasukkan semua karakter pendukung yang lama dengan menambahkan karakter pendukung yang sangat familiar di mata para penggemar komik Fantastic Four: Silver Surfer dan Galactus.

Sebuah fenomena aneh tengah terjadi di dunia. Mendadak saja daerah demi daerah tertentu membeku tanpa hal yang jelas. Teluk di Jepang membeku total secara mendadak, Los Angeles mengalami blackout total, apa yang sebenarnya tengah terjadi? Entahlah – karena dunia tidak mementingkan fenomena seperti itu; palingan El Nino atau Global Warming begituan kan? Ketimbang fenomena aneh seperti itu, lebih menarik mengikuti perkembangan pernikahan abad ini di mana Mr. Fantastic alias Reed Richards akan mencoba meminang kembali Susan Storm si Invisible Woman! Mencoba kembali?

Betul, karena halangan-halangan yang selama ini terjadi sudah tiga kali mereka mencoba menikah dan gagal melulu. Reed Richards sendiri berusaha menepis keingintahuannya untuk mengecek fenomena aneh yang terjadi di dunia demi memfokuskan hatinya pada pernikahan yang akan ia jalani. Toh, ketika pemerintah di bawah pimpinan General Hager memintanya untuk membuat alat pelacak fenomena aneh yang tengah terjadi, Reed tidak bisa lagi menahan hasratnya. Apa yang ditangkap oleh sensor yang digarap oleh Reed adalah sesuatu yang mengerikan di luar bayangannya.

Fantastic Four kini berhadapan dengan sebuah musuh bernama Silver Surfer. Tidak hanya cepat dan kuat, Silver Surfer ini bahkan mampu mengacaukan sistem genetik di dalam tubuh mereka. Terbukti ketika Human Torch berhadapan melawannya satu lawan satu, sang musuh mampu merusak sistem genetik tubuhnya dan membuatnya radiasi dalam tubuhnya tidak stabil. Apa yang bisa melawan Silver Surfer? Dan apa yang bisa dilakukan oleh Fantastic Four kalau Silver Surfer sendiri hanyalah abdi dari musuh yang lebih besar… sang pemusnah planet: Galactus!

Fantastic Four pertama mendapatkan cercaan penggemar setia komik karena dirasa menyelewengkan konsep Fantastic Four yang penuh fantasi dan penuh petualangan luar angkasa menjadi drama keluarga superhero yang penuh banyolan. Sebaliknya, banyak penggemar baru merasa puas karena Fantastic Four menawarkan aspek yang hampir tak pernah disentuh oleh superhero lain, komedi dengan balutan kehidupan keluarga di dalamnya. Tim Story tampaknya berusaha menjembatani kedua hal ini dalam film keduanya. Hasilnya? Sebuah film yang tak mengharuskan banyak berpikir dan pas untuk summer – menghibur!

Paruh pertama film ini digarap dengan teliti oleh Tim Story untuk memperkenalkan kembali karakter-karakter Fantastic Four kepada kita. Kita diajak melihat kehidupan Fantastic Four yang sudah makin stabil dengan status mereka sebagai superhero – dan bagaimana mereka sudah bisa menerima kehidupan mereka yang tidak normal tetapi fantastis. Toh, tetap ada ruang untuk pergumulan di dalam hati mereka. Kalau film pertama memfokuskan kepada The Thing yang perubahannya paling jelek dibanding anggota lainnya, film kedua ini lebih memprioritaskan pasangan Reed dan Susan di paruh pertama sebelum bergerak menyorot Johnny di paruh keduanya.

Saya angkat jempol untuk karakterisasi kru Fantastic Four – tapi tidak demikian halnya dengan Dr. Doom dan Silver Surfer. Dr. Doom di sini perannya berkurang banyak dan peran yang minim ini pun tidak ditunjang skrip yang baik. Hasilnya Dr. Doom yang seharusnya salah satu penjahat tergarang dunia Marvel menjadi terlihat bagaikan anak mama yang tidak mau kehilangan mainan barunya di film ini. Silver Surfer sendiri lebih baik, tapi karena jarang berbicara, apa boleh buat? Mau tidak mau banyak aspek yang seharusnya bisa tergali gagal sudah dituangkan di film ini. Bicara soal efek, Fantastic Four menyajikan efek yang makin jor-joran di film kedua ini. Yang paling menarik di mata saya tentu saja adalah aerial chase yang dilakukan Human Torch kepada Silver Surfer; penampilan Silver Surfer sendiri yang digarap melalui CG komputer tampak meyakinkan dan hidup.

Mengingat sekuel ini juga sukses secara komersil, besar kemungkinannya bahwa Marvel akan sekalian menggarap satu lagi serial Fantastic Four untuk menggenapkannya menjadi sebuah trilogi. Sudah melawan Dr. Doom dan Silver Surfer… apa sekarang giliran Namor dengan Atlantisnya yang akan menjadi musuh dari Fantastic Four selanjutnya?

Score: 6.3

Movie Details
Director: Tim Story
Cast: Ioan Gruffudd, Jessica Alba, Chris Evans, Michael Chiklis, Julian McMahon
Running Time: 94 Minutes

Comments (2)

Tags: , ,

Flightplan

Posted on 25 September 2009 by Si Tukang Review

Flightplan Poster

Flightplan Poster

(Review Ditulis Pada Tahun 2005)

Banyak pihak menyamakan Flightplan dengan Red Eye karena menganggapnya sama-sama sebuah cerita thriller yang bersetting di atas sebuah pesawat. Pada kenyataannya, Flightplan sangatlah berbeda. Bila Red Eye mengisahkan mengenai terror seorang pembunuh yang sudah jelas diketahui identitasnya, maka dalam Flightplan, Jodie Foster dihadapkan dengan sosok antagonis yang tak terlihat, bahkan mungkin tak ada. Dengan mengusung tema missing person di dalam ruang tertutup, saya lebih sreg menyebut Flightplan sebagai gabungan dari The Forgotten dan Red Eye yang berhasil mengambil elemen penting dari kedua film di atas; dan menggabungkannya menjadi sebuah film yang menarik.

Kyle dan anaknya Julia tengah mengalami masalah keluarga yang besar. Sang suami yang sangat mereka cintai baru saja ditemukan bunuh diri. Demi menenangkan diri mereka, Kyle memilih untuk pulang ke negaranya di Amerika ketimbang terus berdiam di Berlin yang asing bagi mereka. Kematian sang suami akibat bunuh diri bukan satu-satunya pukulan yang akan diterima oleh Kyle, di dalam sebuah pesawat yang mereka tumpangi, anaknya menghilang. Anehnya, tidak satupun orang di dalam pesawat itu menyadari adanya Julia. Kyle mengajukan protes kepada sang kapten pesawat: Kapten Rich. Tingkah lakunya yang sangat menuntut mencari tahu keberadaan anaknya menarik perhatian segenap awak kabin dan seorang US Marshall bernama Carson. Kyle dituding mengalami stress dan membayangkan hal yang tidak-tidak karena depresi akibat kehilangan sang suami. Jadi manakah yang benar? Apakah Julia memang tengah diculik seperti yang dikatakan Kyle? Bila ya, siapakah penculiknya? Atau jangan-jangan Kyle sesungguhnya hanya membayangkan keberadaan sosok anak bernama Julia itu?

Film Robert Schwentke ini seharusnya digarap dengan budget ringan mengingat settingnya kebanyakan berada di tempat tertutup. Hal tersebut seharusnya memotong biaya produksi film ini. Kendati demikian, pengambilan gambar yang dilakukan dalam film ini luar biasa dan tidak menimbulkan kesan monoton. Film ini sangat berpijak pada kekuatan skrip dan pada permainan watak dari aktris yang bekerja di dalamnya. Hal ini bisa dimaklumi karena kendati Flightplan menampilkan detail yang kuat pada pesawat di dalam film ini, tetap saja setting tidak bisa menjadi andalan film ini dalam membangun cerita.

Demikianpun, Foster harus diacungi jempol. Ia membuktikan kualitasnya sebagai salah seorang artis terbaik dengan memerankan sosok Kyle secara sempurna. Dia tampil sebagai seorang istri yang kehilangan suami, seorang ibu yang kebingungan mencari anak. Kendati beberapa penonton menganggap apa yang ia lakukan berlebihan, ketika saya menanyakan kepada ibu saya yang menonton bersama saya; jawaban beliau sederhana “mama akan melakukan hal yang sama bila kamu yang hilang”. Sayangnya, kualitas Foster yang mengesankan ini serasa mencolong spotlight dari para pemeran lain. Sarsgaard yang beradu peran dalam kebanyakan scene terlihat kalah kelas dari berbagai segi. Bisa dibilang bahwa hanya Sean Bean yang mempu mencuri perhatian penonton walau sejenak saja ketika tampil sebagai kapten yang tetap berdedikasi pada pekerjaannya sekaligus bersimpati pada Kyle. Nyawa lain dari film ini adalah musiknya yang digubah oleh Horner, banyak dari musiknya yang digarap dalam alunan syahdu yang pas mengiringi tone film yang memang gelap dan sendu. Musik dari Horner sedikit banyak membantu membangun image yang hendak disampaikan oleh film ini sendiri.

Film ini toh bukannya tanpa kelemahan, ketika pertama kali menontonnya dan terlambat 10 menit, saya malah lebih merasa enjoy ketimbang menontonnya kali kedua dan datang tepat waktu. Terlalu banyak hal yang seharusnya bisa dijadikan misteri lebih asyik terlebih dahulu dibongkar oleh Schwentke dalam menit-menit awal film ini. Sungguh amat sayang, karena Flightplan bisa menjadi film lebih cerdas tanpa 10 menit pertamanya. Oh, dan dalam film ini terselip pula sebuah sindiran untuk publik AS yang begitu mengambinghitamkan Arab untuk segala macam ketidakberesan yang mungkin terjadi dalam dunia penerbangan. Bagian manakah itu harus anda saksikan sendiri. Flightplan memang sebuah film yang menarik, bagi mereka yang menggemari thriller sangat saya sarankan menonton film ini. Jodie Foster is the modern Linda Hamilton /  Sigourney Weaver.

Score: 7.5

Movie Details
Director: Robert Schwentke
Cast: Jodie Foster, Peter Sarsgaard, Captain Rich
Running Time: 108 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , , ,

Behind the Scene of TukangReview.com

Posted on 23 September 2009 by Si Tukang Review

Artikel yang kali ini lain dari biasanya.

Apabila biasanya gw mereview game, film, dan komik yang gw mainkan, dalam artikel ini gw akan mengajak pembaca untuk masuk menjelajah ke dalam kamarku dan melihat bagaimana proses pengerjaan review-review yang biasa kutulis. Karena itu gaya penulisan dalam artikel kali ini bakalan sedikit beda dengan biasanya. Lebih santai dan kaga terlalu mementingkan unsur bahasa Indonesia yang benar. ^^;;

Oh well, enough introductions. Welcome to my room. Welcome to my world!

key-lock

Caption 1: Nah. Yang ini adalah pintu menuju kamar ‘kerja’ (baca: main dan tidur) gw. Kenapa ada fungsi kunci elektriknya? Well, bukan demi mencegah maling masuk ke kamar gw sih. Dulu tuh fungsi kamar ini buat gudang barang tidak pakai, sehingga dipasang kunci elektrik buat mencegah sembarang orang bisa masuk ke sini. Setelah kamarnya gw beres-beresin dan ubah jadi tempat hiburan gw, gw malas buat menghilangkan kunci elektriknya. Akhirnya biarin saja deh dipasang.

small-tv

Caption 2: Setelah masuk ke dalam kamar, barang pertama yang kalian bakalan lihat adalah TV ini. TV merk Toshiba ini sudah menemani gw dari lamaaaa banget. Lihat aja designnya yang masih tabung dan gendut kontras dengan era TV Plasma dan LCD sekarang. Toshiba bapuk gw ini juga tidak punya fasilitas widescreen, HD-TV, HDMI atau whatever teknologi jaman sekarang sehingga sebenarnya kurang memadai untuk dibuat mereview film-film blockbuster atau game-game generasi kini yang biasanya pakai efek gila-gilaan. Toh kalau sekedar buat bermain PS2, nonton serial TV dan film-film drama ringan, this TV still works wonders.

handheld

Caption 3: Ah! Sahabat terbaik gw. Kalian sadar tidak kalau kebanyakan game yang saya review itu berasal dari dua handheld Nintendo DS dan PSP. Apakah itu karena gw benci dengan 360 sehingga tidak mau mereview game-gamenya? Sebenarnya bukan. Seperti yang gw pernah bilang sebelumnya, hidup gw itu ga melulu berkisar mereview ini-itu. Gw punya kerjaan tetap lain dan kehidupan sosial. Praktis yang paling enak buat kumainkan ya game-game handheld yang bisa gw bawa ke mana-mana.

iPod-nya sendiri itu ukurannya 120 GB. Biasa kalau gw lagi dalam perjalanan bisnis ke luar kota, sehari sebelumnya gw mengisi iPod gw dengan serial-serial TV (gw convert dari AVI ke MP4, format yang dikenali sama iPod) dan menontonnya sepanjang perjalanan. Kalau handphonenya? Well – ga ada alasan sih. Gw iseng aja masukin. ^^;; Merknya Nokia 5310 dan layarnya udah retak (ketabrak ujung meja). Sekarang lagi mengais sedikit uang demi bisa menggantinya… syukur-syukur dengan buah arbei hitam (Blackberry). Hi hi hi.

dvd-player

Caption 4: Gw punya satu prinsip kalau beli DVD player. Beli yang merk China sehingga gw tidak usah repot-repot dengan Region Code. Gw dulu malas beli DVD player dan maunya memainkan via Laptop saja. Ampun deh. Ternyata kalau dimainkan via Laptop ada batas penggantian Region Code. Ganti lima kali dan kamu ga bisa ganti lagi. Akhirnya daripada menyia-nyiakan kesempatan penggantian Region Code berkali-kali, gw memutuskan beli satu DVD player yang merknya murah-murah meriah – jatuhlah pilihan gw ke Amex. Dengar-dengar sih kalau yang mahal dan bermerk kaya Sony atau Samsung juga terikat Region Code sana-sini malah cuma bisa main DVD orisinil. Duh, engga deh. Makasih.

lg-lcd

wd-tv

x-box-360

Caption 5: Kalau yang ini… heavy hitter gw. Walau gw punya Toshiba kecil kesayangan gw, handheld gw yang bisa dibawa ke mana-mana dan DVD Player yang bisa memainkan film-film… kelihatannya jauh dari afdol kan kalau kita bicara soal generasi terkini? Nonton Lord of the Rings atau main game Call of Duty 4: Modern Warfare mana serunya kalau main di TV kecil dan DVD biasa? Jadinya kalau gw main game-game 360, biasanya gw pindah ke kamar sekunder gw (rencana dijadikan home theater suatu hari nanti) buat memainkannya. Main Dead Space widescreen dengan efek suara surround menjadi sebuah pengalaman yang jauh lebih menyeramkan. Tidak percaya? Silahkan coba sendiri.

Kalau WD-TV sendiri? Alat ini adalah jawaban bagi orang yang koceknya tidak tebal (like me) tetapi masih ingin menikmati film-film dengan kualitas terkini (baca: Blu-ray). Membeli film-film Blu-Ray Rip atau HD (banyak kok yang jual di Kaskus seperti Bluray-Murah) yang berukuran rata-rata 10 – 30 GB, memasukkannya ke dalam Hard Disk (saya pakai Western Digital yang 500 GB) lantas ditancapkan pada WD-TV, pasang kabel HDMI dan akhirnya tancapkan ke TV LCD LG gw. Hasilnya? Eureka! Kualitas gambar setara Blu-Ray dengan harga per film serendah Rp. 15.000 – 20.000.-. Lovely. Oh, kadang saya juga menonton serial TV dalam bentuk AVI melaluinya. Maklum, kalau nonton AVI lama-lama di komputer (ehem… marathon nonton Lost di akhir pekan ehem…) bisa bikin mata pening dan pegal juga.

desktop

macbook

Caption 6: Dan… ini yang terakhir. Komputer gw baru selesai gw upgrade dua hari lalu (Ganti Pentium Core Duo 2.93GHZ, kartu grafis Sapphire 512MB, dan HD 250 GB). Fungsinya dua: yang pertama untuk main game karena gw tidak mau memforsir 360 buat main semua game (takut nanti 360 gw kena penyakit kanker yang namanya RROD – Red Ring of Death) sementara yang kedua adalah untuk menulis review dan membackup seluruh situs TukangReview.com kalau-kalau terjadi kerusakan pada data onlinenya (dan dengan banyaknya spam yang gw terima per hari… brrr… merinding membayangkan bila gw tidak membackup situ situ secara berkala).

Gadget terakhir gw adalah Apple MacBook gw. Dulu iseng-iseng beli karena bosan sama Windows, sekarang saya harus jujur mengakui kalau saya seorang Apple fans. Cepat, jarang kena virus, stabil, MacBook membebaskan gw dari sakit kepala yang biasa gw hadapi kalau gw memakai Laptop Windows (dua laptop gw sebelum ini: Toshiba dan Vaio semua under Windows dan semuanya sering bikin gw sakit kepala). Dia juga sering gw bawa ke mana-mana (dulu ketika gw ke China dan tidak bisa memakai Desktop, MacBooklah yang jadi andalan gw untuk tetap mengupdate situs ini secara berkala).

Dan… berakhirlah perjalanan kita di kamar gw. TukangReview.com pada awalnya bermula dari hobi iseng-iseng gw buat menulis review (karena tangan gw suka gatal buat ngetik sesuatu) dari game yang saya mainkan, film yang saya tonton, atau komik yang saya baca (semua saya baca secara digital). Terima kasih untuk dukungannya selama ini, and of course… more reviews to come. ^^V

Comments (6)

Tags: , , ,

The Mentalist – The Complete Season One

Posted on 22 September 2009 by Si Tukang Review

The Mentalist Season One Cover

The Mentalist Season One Cover

Meet Patrick Jane. Dia bekerja sebagai seorang mentalist yang membantu kepolisian CBI (California Bureau of Investigation) memecahkan kasus-kasus pembunuhan yang pelik. Sebelum membantu kepolisian penuh waktu, Patrick Jane berpura-pura menjadi seorang medium untuk membantu orang berbicara dengan arwah yang sudah meninggal. Bagi yang biasa menonton serial TV tentunya bisa menarik kesamaan antara premise The Mentalist dan Psych. Saya sendiri tidak tutup mata akan kesamaan itu; bila kamu menyukai Psych dan menginginkan nuansa lebih dewasa dan serius (tapi tetap kocak), The Mentalist bisa jadi pilihan tontonanmu.

Beberapa tahun sebelum Patrick Jane bergabung dengan CBI, ia masih bekerja paruh waktu membantu kepolisian dan paruh waktu sebagai medium arwah. Sebenarnya Jane tidak memiliki kemampuan psikis apapun, tetapi ia sangat atentif pada detail-detail kecil yang luput dari perhatian orang – polisi sekalipun. Selain itu Jane juga seorang mentalist yang jago memanipulasi pikiran orang (iya, mentalist yang sering disebut-sebut oleh Deddy Corbuzier sebagai pekerjaannya). Suatu hari ketika ia diwawancarai oleh sebuah stasiun TV, Jane menantang seorang pembunuh serial yang hanya diketahui orang dengan kode Red John. Kesombongan Jane ini mendapat ganjaran karena ketika Jane pulang dari syuting, Red John sudah membantai keluarganya. Sempat depresi dan nyaris sinting, Jane bangkit dari rasa frustasinya dan membantu CBI sepenuh waktu. Selain mencari petunjuk mengenai keberadaan Red John, Jane juga menggunakan kemampuannya yang kadang di luar kebiasaan polisi untuk menyelesaikan sebuah kasus.

Sebenarnya The Mentalist bukan merupakan tipe serial yang saya sukai. Kebanyakan dari episode-episodenya stand-alone dan tidak saling berkaitan satu sama lain kecuali pada pertengahan maupun pengakhiran season di mana kasusnya berkaitan langsung dengan Red John (pernah membaca manga Detektif Conan yang kemunculan kawanan berjubah hitamnya sesekali saja? Mirip seperti itu). Untungnya saja, kebanyakan kasus yang harus ditampilkan dalam serial ini menarik sehingga selalu berhasil ‘memaksa’ saya untuk menontonnya terus dan terus. Tentunya ini juga tidak lepas dari keberhasilan aktor Simon Baker memerankan Patrick Jane. Patrick Jane adalah karakter yang kompleks. Pada luarannya ia seperti orang yang suka bercanda dan easygoing. Kebanyakan saat tingkah laku anehnya bakalan bikin bahkan teman seunitnya garuk-garuk kepala sekalipun, tapi di balik tindak tanduknya yang ceria dan sangguin, ia memiliki beban berat menangkap Red John yang ia sandang. Simon Baker sukses memerankan karakter Patrick Jane yang multi-dimensi tersebut (terutama dari sorot matanya yang selalu menyiratkan kesedihan). Tidak heran bahwa ia diganjar dengan nominasi Emmy Award tahun 2009.

Walaupun Patrick Jane jelas bintang utama dalam serial ini, empat karakter pendukung lainnya juga mengisi posisi mereka untuk menghidupkan CBI sebagai organisasi yang serius dalam menghadapi pembunuhan tetapi juga santai. Ada Teresa Lisbon, kepala unit Jane yang serius tetapi diam-diam tertarik pada Jane. Selain itu masih ada Kimball Cho yang tampangnya selalu serius, juga Wayne Rigsby yang kasmaran berat dengan si junior seksi Grace Van Pelt. Satu-satunya yang saya sayangkan dari The Mentalist adalah setiap episodenya terlalu berfokus pada kisah pembunuhan sehingga di luar bagaimana mereka menginterogasi tersangka dan menyelesaikan pembunuhan, penonton hampir-hampir tidak tahu bagaimana kehidupan sosial mereka. Juga kebanyakan kilas balik cerita hanya berfokus pada karakter Jean (itu pun minim) sehingga saya masih kurang bisa bersimpati dengan karakter-karakter lainnya. Mereka tidak menyebalkan di layar – tetapi fungsi mereka selain pelengkap pun sepertinya tidak ada. Kurangnya variasi kasus yang harus dipecahkan (mayoritas – kalau bukan semua – adalah pembunuhan) juga menjadi kelemahannya.

Daya tarik utama serial The Mentalist adalah bagaimana Jane selalu sukses mempermainkan para tersangka untuk mengakui pembunuhan, atau bagaimana caranya ia menemukan pembunuhnya. Seperti seorang mentalist sungguhan, pertanyaan-pertanyaan yang Jane lempar kepada tiap tersangka selalu jujur tetapi sering menjebak. Saya sudah banyak mengikuti kisah detektif sehingga tahu bahwa peraturan pertama dalam membuat serial seperti ini adalah “pihak yang bersalah adalah pihak yang paling tidak dicurigai” sehingga saya jarang terkejut ketika Jane membongkar identitas sang penjahat. Toh, metode-metode yang selalu berbeda tiap ia membongkarnyalah yang menggiring saya terus mengikuti serial ini tiap minggunya. Semoga saja season keduanya mempertahankan kualitas investigasi seperti ini dan memperbaiki kelemahan-kelemahan yang saya sebutkan di atas.

Score: 8.2

TV Series Details
Creator: Bruno Heller
Cast: Simon Baker, Robin Tunney, Tim kang, Owain Yeoman, Amanda Righetti
Running Time: 43 Minutes Per Episode

Comments (9)

Advertise Here
Advertise Here