Dengan kesuksesan Journey to the Centre of the Earth tahun lalu, sebuah film petualangan ke tanah asing bin ajaib lagi-lagi dirilis Hollywood. Kali ini dibintangi oleh salah satu komedian kelas atas Amerika Will Ferrell sekaligus juga adaptasi dari serial TV klasik dengan judul yang sama: Land of the Lost. Walaupun film ini gagal ketika dirilis di Box Office Amerika di bulan Juni, saya masih ingin menontonnya karena menghormati nama sang sutradara. Saya memang punya kenangan manis dengan Brad Silberling yang menyutradarai Casper dan Lemony Snicket’s A Series of Unfortunate Events. Sangkaan saya, Land of the Lost tentunya adalah suguhan film keluarga lain darinya.
Tidak ada yang percaya pada sang palaentologist (pekerjaan yang sama dengan Alan Grant di Jurassic Park) Rick Marshall ketika ia mengungkapkan teori bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan krisis energi adalah dengan teori perpindahan waktu. Terdepak dari posisi terhormatnya, Marshall kini bekerja sebagai guru anak-anak sampai seorang wanita bernama Holly Cantrell. Holly sangat mengagumi karya Marshall dan mendorongnya menyelesaikan alat bernama Tachyon Amplifier. Tak disangka bahwa setelah Marshall menyalakan Tachyon Amplifier tersebut, ia dan Holly (dan seorang pemandu tur bernama Will) terlempar ke sebuah dunia paralel. Dunia paralel tersebut berbeda dengan bumi yang biasa kita kenal dan dipenuhi marabahaya di mana-mana, mulai dari dinosaurus yang buas, manusia setengah kera, manusia kadal ala zombie, sampai nyamuk penghisap darah ala raksasa. Apakah trio ini bisa selamat?
Film Brad Silberling ini sangat – sangat mengecewakanku. Saya menyesal sekali menonton film ini di bioskop bahkan berkali-kali saya hampir ketiduran menontonnya! Apa pasal? Pertama-tama adalah terlalu banyak adegan yang menyalahi logika dalam film ini. Saya tahu ini film komedi tetapi mungkin tidak sih kalau seseorang bisa berlari lebih cepat daripada seekor T-Rex? Kalau itu tidak cukup aneh, bagaimana dengan adegan ketiganya sedang dikejar-kejar oleh T-Rex tapi masih mau berpose di hadapan sang raja karnivora untuk berfoto ria? Ada batas yang jelas antara lucu dan jayus. Tidak sulit untuk menebak humor yang ditawarkan oleh Land of the Lost jatuh di kategori yang mana.
Belum lagi karakter-karakter di film ini yang semuanya klise dan menjengkelkan. Rasanya setelah Elf, tingkah laku Will Ferrell semakin memuakkan di mataku. Gaya humornya terlalu slapstick, kasar, dan tidak berbobot. Ada satu adegan di mana karakter Ferrell ditelan oleh dinosaurus dan saya tanpa sadar bergumam “Oh Tuhan terima kasih – semoga dia mati” (tentu saja ia berhasil keluar). Parahnya, seburuk-buruknya penampilan Ferrell sebagai Marshall dalam film ini, saya bahkan lebih membenci karakter Chaka yang diperani oleh Jorma Taccone. Bagaimana bisa karakter super menyebalkan – super porno – super menjijikkan macam dia bisa masuk ke dalam film ini sih? Bisa dibilang dari deretan pemainnya, yang bisa kutolerir hanyalah Anna Friel – penampilannya di sinipun masih kalah jauh dengan penampilannya sebagai Chuck dalam Pushing Daisies.
Land of the Lost jatuh dalam kategori yang tidak jelas. Tema petualangannya yang serupa dengan Journey to the Center of the Earth jelas membidik pasaran anak-anak dan remaja, tetapi humor-humor kotor dalamnya membidik pasaran dewasa. Pantas saja film ini gagal. Terlihat juga kalau Silberling bingung mau menekankan film ini lebih ke arah petualangannya atau ke humornya. Ironisnya, hal itu bisa kentara terdengar dari musik-musik gubahan Michael Giacchino. Giacchino yang bertanggung jawab atas musik di serial Lost membubuhi film ini dengan musik-musik yang serupa. Hasilnya jadi aneh karena musiknya ‘tegang’ tetapi adegannya ‘humor’.
Pada akhirnya, Land of the Lost adalah contoh yang pas untuk sebuah film yang bingung dengan identitasnya sendiri. Nah, kalau filmnya saja bingung, apalagi penontonnya? Nonton film ini bisa bikin kamu benar-benar lost!
Score: 3.6
Movie Details
Director: Brad Silberling
Cast: Will Ferrell, Anna Friel, Danny McBride, Jorma Taccone
Running Time: 101 Minutes



















Kayaknya saya harus nyaranin adik biar gak nonton. Pasalnya dia suka film yg ada Dinosaurusnya kayak Jurassic Park jadi mo nonton film ini.