Archive | July, 2009

Tags: , , ,

I Love You, Man

Posted on 31 July 2009 by Si Tukang Review

I Love You, Man Poster

I Love You, Man Poster

Ketika melihat Paul Rudd dan Jason Segel yang menjadi duet pemain film ini, saya menebak bahwa film ini mungkin disutradarai atau diproduseri oleh Judd Apatow. Harap maklumi tebakan saya karena Rudd dan Segel adalah langganan tampil di film-filmnya Apatow. Apalagi tema cerita I Love You, Man sedikit banyak menyinggung humor-humor dewasa khas Apatow. Ternyata tebakan saya salah karena film ini disutradarai oleh John Hamburg (yang juga menulis skenarionya).

Walaupun hubungan mereka baru berjalan selama delapan bulan, Peter Klaven merasa bahwa ia dan kekasihnya, Zooey Rice, sudah saling cinta mati. Karena itu Klaven memutuskan untuk melamar Zooey. Peter adalah seorang pria baik-baik. Ia romantis, sering menemani Zooey untuk makan malam dan nonton film bersama, juga jarang minum atau merokok. Ia nyaris sempurna sebagai seorang cowo idaman wanita. Nyaris? Yup. Klaven memiliki satu kekurangan fatal. Karena ia merupakan cowo terlalu baik-baik dan suka bergaul dengan para wanita, ia jadi tidak punya satupun sahabat laki-laki. Ketika tanpa sengaja Peter mendengar bahwa para teman-teman Zooey mempergunjingkan mengenai bagaimana Peter mungkin akan jadi terlalu over-protektif, Peter memutuskan untuk mencoba mencari teman.

Setelah beberapa kali gagal, Peter akhirnya menemukan seorang sahabat yang cocok dengan dirinya dalam diri Sydney. Walaupun gaya hidup mereka berbeda (Peter lebih teratur sementara Sydney lebih slengean dan bebas), keduanya memiliki banyak hobi sama yang membuat mereka sering klop satu sama lain. Tapi setelah Peter terus menerus menghabiskan waktunya dengan Sydney, Zooey pun mulai bertanya-tanya: “apakah sahabat baru calon suaminya ini sudah membawa keretakan dalam rumah tangga mereka?

Tema I Love You, Man bukan tema baru dalam dunia perfilman. Ingat film You, Me and Dupree juga mengangkat permasalahan ‘bro vs ho’. Walaupun begitu, saya merasa kalau film ini jauh lebih unggul ketimbang filmnya Owen Wilson itu. Dialog yang ditulis Hamburg sangat ngalir dan tidak kaku. Oleh karenanya, jangan heran mendengar banyak sumpah serapah yang diucapkan dalam film ini. Skrip yang memang natural ini diperkuat dengan tiga bintang utama yang saling mengisi satu sama lain.

Paul Rudd sebagai Peter Klaven memiliki tampang polos sehingga kita sebagai penonton bisa percaya kalau dia memang jarang melakukan kegiatan yang tidak-tidak seperti kebanyakan pria di Amerika lain. Bahkan fase transformasinya pun dilakoni Rudd secara baik. Perhatikan bagaimana sebagai Klaven ia masih kikuk saat melempar humor di awal dan lancarnya dia melempar humor yang sama di akhir film. Jason Segel juga menghidupkan perannya sebagai Sydney dengan baik. Walau tampangnya biasa-biasa saja, entah kenapa Segel selalu memiliki charmnya sendiri sejak saya menontonnya di How I Met Your Mother dan Forgetting Sarah Marshall. Terakhir adalah Rashida Jones; saya membaca banyak penulis yang menitik-beratkan review mereka pada duet Rudd – Segel sehingga melupakan Jones, padahal artis ini mampu mencuri perhatianku tidak hanya dengan tampangnya yang manis (ada yang merasa dia seperti campuran Jennifer Love Hewitt dan Jordana Brewster?) tapi juga aktingnya yang solid sebagai Zooey yang penuh pengertian.

Buat saya yang berkarakter serupa dengan Peter (teman saya mayoritas cewe), film ini cukup menohok dan membuat saya melakukan refleksi. Ini merupakan bukti bagaimana down-to-earthnya film ini. Bila kamu pria, kamu bisa belajar bagaimana menyeimbangkan hubungan persahabatan dan pacaran dari film ini. Sebaliknya bila kamu wanita, kamu bisa belajar lebih dalam kenapa pria tidak hanya butuh pacar tetapi juga sahabat. Oh, dan kamu bisa mempelajarinya sambil tertawa!

PS: John Hamburg juga cerdik menyisipkan beberapa referensi budaya TV. Sebagai contoh ada Lou Ferrigno yang dulu membintangi serial klasik The Incredible Hulk, sampai referensi mengenai serial TV Lost.

Score: 7.0

Movie Details

Director: John Hamburg
Cast: Paul Rudd, Jason Segel, Rashida Jones
Running Time: 105 Minutes

Comments (0)

Tags: , , ,

Akira

Posted on 31 July 2009 by Si Tukang Review

Akira Poster

Akira Poster

Segila-gilanya saya terhadap anime Jepang, saya harus mengaku kalau Akira adalah anime ‘yang konon katanya berkualitas’ pertama yang saya tonton. Seperti yang kita ketahui, publik Amerika nampaknya menggemari anime-anime yang berbeda dengan Indonesia. Kalau orang Indonesia lebih menggemari anime-anime normal seperti Naruto, One Piece, sampai Gundam Seed dan Full Metal Panic, maka orang Amerika sana lebih menyukai anime-anime yang ‘dalam’. Selain anime-anime studio Ghibli, ada dua anime yang sering saya dengar disebut-sebut oleh publik sana: Ghost in the Shell dan Akira. Akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk menonton Akira. Publik Amerika menyebutnya trend-setter. Apa iya?

Dunia di tahun 2019 adalah dunia yang kacau. Setidaknya itulah yang tergambar di Neo Tokyo. Sebuah ledakan raksasa yang tercipta di tahun 1988 memicu Perang Dunia ketiga. Tokyo yang dulu berubah hancur di sana-sini. Sekarang, masyarakat mungkin sudah melupakan mengenai perang itu, tetapi kekacauan dan tidak stabilnya keadaan masih terlihat di sana-sini. Tindakan anarkis – termasuk perang antara para anggota gang terus terjadi. Para koruptor berdiri tegak di atas papan politik, bersembunyi dari kejahatan-kejahatan perang yang mereka lakukan (dan tetap berusaha melanjutkan praktek politik korupsi mereka).

Kaneda, Tetsuo, Yamagata, dan teman-temannya termasuk dalam anggota gang sepeda motor yang terus bertikai dengan kelompok lain bernama Clown. Suatu saat, Tetsuo mengejar Clown terlalu jauh dan terlibat dalam sebuah insiden dengan seorang anak ‘tikus percobaan’ yang dibawa melarikan diri dari laboratorium. Tetsuo yang terkena ledakan dibawa oleh para tentara untuk diikutkan dalam sebuah proyek yang bernama “The Akira Project”. Kaneda, Yamagata, dan teman-teman gang lainnya tidak berdaya menghentikan para tentara membawa Tetsuo pergi. Dari sini, saya tidak bisa bercerita lebih lanjut mengenai plot cerita Akira karena akan berakibat spoiler; yang jelas ceritanya akan berfokus mengenai usaha Kaneda menyelamatkan Tetsuo, dan Tetsuo yang menjadi bahan percobaan. Apa yang akan terjadi? Dan apa sebenarnya tujuan dari “The Akira Project” itu?

Selesai menonton Akira, saya tidak ragu untuk mengatakan kalau film ini adalah sebuah film animasi yang berpengaruh. Di tahun 1988 ketika Amerika masih bersenang-senang dengan film animasi ala Disney, Akira dengan berani menyajikan sebuah gambaran masa depan dystopia kepada kita. Saya berani mengatakan kalau gambaran masa depan Akira sangat realistis. Apabila dunia kita mengalami perang dan baru pulih dari efeknya – maka dunia kita mungkin seperti Neo Tokyo dalam film ini. Akira juga mengenalkan teknik-teknik sinematografi yang suatu saatnya nanti diadopsi oleh banyak film Hollywood. Lihat adegan kejar-kejaran yang digarap dengan sangat halus di film ini. Atau bagaimana Tetsuo menggunakan kemampuannya menghentikan peluru yang ditembakkan kepadanya (ingat The Matrix? Nah, film ini hadir 10 tahun sebelum Matrix pertama muncul).

Kualitas animasi dan musik dari Akira juga menawan. Animasinya ditampilkan dengan tajam dicampur warna-warna yang suram sehingga menghidupkan suasana muram masa depan. Begitu juga dengan musiknya. Terkadang film ini akan membisu beberapa saat – memberi kita kesempatan untuk memperhatikan layar dan cerita secara detail, terkadang film ini juga diiringi dengan musik tradisional Jepang. Indah dan harmonis.

Sayangnya untuk jalan ceritanya tidak begitu. Menonton dengan logika seperti apapun (saya menonton film ini dua kali dan mengecek faktanya dengan berbagai website) tidak bisa menutupi kenyataan bahwa Akira memiliki beberapa plot-hole yang sangat kentara dalam cerita. Sayang saya tidak bisa membeberkan plot-hole ini tanpa spoiler, tetapi saya yakin kebanyakan orang yang menonton akan bisa menemukan apa saja plot-hole dalam Akira. Hal ini pun diakui oleh sang mangaka Katsuhiro Otomo sendiri. Otomo-sensei mengatakan kalau Akira manga maupun movie tidak memiliki ending yang ia dambakan; karena ia sendiri tidak yakin dengan ending apa yang bisa ia ceritakan buat Akira! Lebih parahnya lagi, film ini digarap dua tahun sebelum manga Akira berakhir – dan itu berarti dia memotong sebagian besar cerita dari manganya!

Terlepas dari itu semua, Akira masih sebuah film yang layak ditonton apabila kalian penggemar film-film science fiction. Warchowski Brother sendiri mengaku kalau Akira dan Ghost in the Shell adalah film yang menginspirasi lahirnya The Matrix.

PS: Tetsuo dalam film ini dan K9999 dalam King of Fighters bukan hanya mirip – tetapi persis. Tidakkah kalian rasa demikian?

Score: 7.2

Movie Details
Director: Katsuhiro Otomo
Cast: Mitsuo Iwata, Nozamu Sasaki, Mami Koyama
Running Time: 124 Minutes

Comments (1)

Tags: , , , ,

Public Enemies

Posted on 30 July 2009 by Si Tukang Review

Public Enemies Poster

Public Enemies Poster

Michael Mann adalah salah seorang sutradara favorit saya. Saya sudah nonton kebanyakan filmnya; mulai dari The Last of the Mohicans, Heat, Collateral, sampai Miami Vice. Salah satu ciri khas dari Mann adalah memakai dua aktor untuk berduet di filmnya. Dalam Heat ada Robert De Niro dan Al Pacino. Dalam Collateral ada Tom Cruise dan Jamie Foxx. Terakhir dalam Miami Vice ada duet Colin Farrell dan lagi-lagi Jamie Foxx. Setelah absen berkarya selama tiga tahun, Mann berencana mengangkat sebuah film semi-biografi mengenai salah seorang perampok bank paling terkenal di Amerika: John Dillinger.

Semula, karakter Dillinger hendak dimainkan oleh Leonardo DiCaprio. Rencana ini terpaksa diurungkan setelah DiCaprio memutuskan untuk syuting Shutter Island – film terbarunya Scorcese yang juga rilis di bulan Oktober 2009 nanti. Akhirnya peran Dillinger jatuh ke tangan Johnny Depp. Sebagai agen FBI yang memburu Dillinger, Melvin Purvis, diperankan oleh Christian Bale. Keduanya dikenal sebagai aktor watak yang berbakat dan saya masuk ke dalam gedung bioskop berharap dengan suguhan sekelas Heat.

Film dibuka dengan Dillinger yang membebaskan beberapa temannya dari penjara. Segera setelah ia membebaskan mereka, Dillinger memulai serial perampokan sukses yang membuat namanya tenar di bagian midwest Amerika – terutama Chicago. Dillinger sulit ditangkap FBI di jaman itu sebab para mafia selalu melindunginya. Tentu saja FBI juga panas melihat buruan mereka selalu kabur dari tangan mereka. Seorang agen berbakat: Melvin Purvis ditugaskan untuk menangkap Dillinger dengan cara apapun. Keduanya sekilas memiliki watak yang berbeda tetapi juga sama: berdedikasi pada pekerjaan mereka. Apa yang membuat Dillinger begitu berbeda dengan para bawahannya adalah karena ia tidak pernah puas akan uang yang dia curi. Yang ia kehendaki adalah menyusun bagaimana cara membobol satu demi satu bank. Di lain pihak, Purvis juga bersedia melakukan cara apapun juga guna membekuk Dillinger. Permainan kucing dan tikus pun dibuka, siapa yang pada akhirnya akan menang?

Walaupun Christian Bale memerankan Purvis dengan tegas, dingin, dan berdedikasi; sulit untuk dipungkiri bahwa bintang utama dalam film ini memang John Dillinger; sang Johnny Depp sendiri. Bagi kita yang tinggal di luar Amerika, nama Dillinger mungkin asing. Ini beda dengan para penonton Amerika. Bagi mereka, Dillinger adalah campuran sosok perampok eksentrik (maka disebut Public Enemies) ala Robin Hood modern. Sebabnya, saat itu bank Amerika mendapat dikecam habis-habisan karena dianggap gagal mengelola uang masyarakat Amerika. Antipati pada bank membuat Dillinger dianggap sebagai pahlawan yang berani menentang sistem. Dengan begitu banyaknya pendapat sejarah (dan cerita) soal Dillinger, saya salut bahwa Mann memutuskan untuk tidak berat sebelah dalam menyorot dirinya. Dillinger di film ini bukan penjahat yang kejam, bukan sosok Robin Hood yang membagi-bagi uang kepada masyarakat. Ia hanya manusia biasa yang memiliki hobi aneh tapi juga percaya diri dan cinta dengan hobinya itu. Oh, dan ia juga manusia biasa yang bisa jatuh cinta.

Satu hal lagi yang saya kagumi dalam film ini adalah totalitas mereka membangun setting tahun 30an. Detailnya mengagumkan! Perhatikan dari gaya busana, mobil, senjata, latar bangunan dan gedung theater sampai lagu yang dipakai semua datang dari era tersebut. Sekedar informasi saja: musik dalam film ini digubah oleh Elliot Goldenthal, sosok yang sama yang bertanggung jawab untuk musik dalam Heat. Bryan Burrough, pengarang buku non-fiksi yang merupakan dasar setting film ini pun turut memuji Public Enemies dan mengatakan bahwa film ini sudah sebisa mungkin berusaha mengikuti sejarah yang ada.

Buat kalian penggemar Johnny Depp atau Christian Bale, film Public Enemies tidak boleh kalian lewatkan. Tonton film ini untuk mencari tahu jawaban kenapa John Dillinger – walau hanya berkiprah selama kurang lebih setahun – merupakan sosok legendaris penuh kontroversi yang sukses memaksa FBI mengubah sistem hukum mereka.

Score: 7.7

Movie Details
Director: Michael Mann
Cast: Johnny Depp, Christian Bale, Marion Cotillard
Running Time: 130 Minutes

Comments (10)

Tags: , , , , ,

Harry Potter and the Half-Blood Prince

Posted on 29 July 2009 by Si Tukang Review

Harry Potter and the Half-Blood Prince Poster

Harry Potter and the Half-Blood Prince Poster

(Review ini ditulis dengan anggapan pembaca review sudah pernah membaca novel Harry Potter, jadi akan ada SPOILER)

Dua tahun. Penantian terpanjang para penggemar Harry Potter usai sudah ketika film keenam dalam salah satu franchise tersukses sepanjang sejarah ini dirilis. Selama ini film Harry Potter selalu ditunjang dengan bukunya. Hampir di setiap tahun di mana film Harry Potter dirilis, novelnya juga dirilis. Tentu saja ini membangun hype untuk setiap filmnya. Film terakhir yang mendapat keuntungan ini adalah Order of the Phoenix yang dirilis bertepatan dengan diterbitkannya Deathly Hallows. Pertanyaan di benak tiap orang kini satu: “Dengan berakhirnya seri novelnya, juga dengan hadirnya saingan baru macam Twilight, apakah pesona Harry Potter sudah habis?”. Pada saat saya menulis review ini, semua orang tentu sudah tahu jawabannya. Sang bocah penyihir sekali lagi bertahta di puncak Box Office, dan mungkin akan menjadi film terlaris seluruh dunia tahun ini.

Akhir film kelima meninggalkan luka batin yang dalam bagi Harry. Tidak saja ia kehilangan Sirius, ia juga sempat terpengaruh oleh Voldemort sebelum ditolong oleh Dumbledore. Hilang semangat Harry ini tidak luput dari perhatian Dumbledore. Guna mengangkat semangat Harry, ia mengajak muridnya untuk merekrut seorang guru baru di Hogwarts: Professor Horace Slughorn. Dumbledore percaya bahwa satu-satunya kunci untuk bisa mengalahkan Voldemort terletak pada memori Slughorn. Sayangnya, Slughorn tidak mau buka mulut – bahkan mengubah memorinya sendiri supaya orang tidak tahu kenyataannya. Dumbledore ingin Harry bisa ‘mendekati’ Slughorn, menjadi murid nomer satunya dan merayu Slughorn buka mulut. Tugas ini sulit mengingat Harry bukan murid jempolan dalam bidang Ramuan. Pertolongan datang tiba-tiba dari sebuah buku Ramuan milik seorang murid misterius yang menjuluki dirinya “Half-Blood Prince”. Mengikuti petunjuk di buku tersebut, Harry langsung menjadi yang terbaik – mengungguli bahkan Herminone sekalipun! Toh masalah Harry tidak hanya itu saja. Adrenalin remajanya kembali bergolak. Usai putus dengan Cho tahun lalu, Harry dan Ginny (adik Ron) semakin dekat. Selain mereka berdua, Hermione dan Ron juga mulai merasakan percik-percik asmara antara keduanya. Nampaknya tahun keenam Harry tidak hanya akan diisi oleh petualangan dan aksi – tetapi juga drama dan cinta!

David Yates saya anggap sukses dalam memadukan unsur drama dan misteri dalam film ini. Misteri mengenai masa lalu Voldemort dan bagaimana Harry berusaha mengorek kebenaran dari Professor Slughorn dilakukan secara pelan tapi pasti. Di sela-sela penyelidikan Harry, Yates juga bisa menyisipkan unsur drama. Saya senang bagaimana Ginny berperan lebih aktif dalam film ini seakan menjadi anggota keempat dari trio utama. Salah satu koneksi yang unik dari film ini dengan para prekuelnya adalah Ginny adalah sosok yang sempat dipengaruhi buku harian Voldemort. Wajar kalau sekarang ia merasa cemas Harry mengikuti petunjuk-petunjuk dari sebuah buku yang tidak jelas asal-usulnya. Yates juga saya nilai mampu menghidupkan adegan-adegan yang menunjukkan kuatnya persahabatan trio Harry – Ron – Hermione, (SPOILER ALERT) seperti di saat Hermione patah hati dan Harry duduk di sana untuk menemani dan mendengarkan isak tangisnya. Tentu saja adegan-adegan sederhana seperti ini memiliki efek emosi yang besar karena Radcliffe, Watson, dan Grint benar-benar sudah total dalam peran mereka. Saya rasa image ketiganya sudah terlalu lekat dengan peran mereka di Harry Potter sehingga sampai kapanpun saya selalu bakal mengasosiasikan ketiganya dengan sosok penyihir mereka.

Sayangnya walaupun saya ingin menyukai film ini ada kesalahan besar yang dilakukan Yates sehingga menghancurkan semua jerih payahnya. Klimaks dari film ini benar-benar datar dan anti-klimaks! Saya kecewa sekali melihat perang di Hogwarts di akhir film dihilangkan. Menurut Yates, ia takut ini akan berulang dan membuat penonton bosan (karena di buku terakhir juga ada perang di Hogwarts). Saya rasa ini pendapat yang sangat – sangat keliru. Lihat Lord of the Rings, tidakkah film tersebut juga tentang perang fantasi medieval? Apakah membuat orang bosan? Saya sendiri masih kecewa dengan bagaimana Yates menangani perang para penyihir di akhir Order of the Phoenix dan berharap ia akan menebusnya di film ini, apa daya Yates malah ‘merampok’ dan menghilangkan total adegan penting tersebut. Saya mungkin masih bisa memaafkan Yates kalau ia menggunakan waktu itu untuk berkabung bagi Dumbledore, tetapi lagi-lagi Yates tidak melakukannya – ia bahkan melompati adegan pemakaman kepala sekolah Hogwarts itu! Dua titik vital yang gagal digarap Yates dalam Order of the Phoenix adalah perang para penyihir dan kematian Sirius Black; lagi-lagi ia gagal total dalam Half-Blood Prince. Semoga ia bisa memperbaiki kesalahan ini sebelum selesai menyutradarai Deathly Hallows.

Score: 6.5

Movie Details
Director: David Yates
Cast: Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Michael Gambon
Running Time: 153 Minutes

Comments (22)

Tags: , , , , , ,

The Top 15 Games That Makes You Wish 2009 Comes Faster – Retrospeksi

Posted on 28 July 2009 by Si Tukang Review

Di akhir tahun 2008, saya menulis sebuah artikel tentang ‘The Top 15 Games That Makes You Wish 2009 Comes Faster’. Sekarang sudah lebih dari setengah tahun berlalu, dan saya ingin melihat ulang list tersebut. Apakah hal-hal yang saya tulis benar-benar membuat saya mengenang tahun 2009 dengan bahagia? Let’s check it out!

15. War in the Future (Terminator: Salvation)
Walaupun hypenya tergolong dahsyat, film keempat dalam franchise Terminator ini bisa dibilang flop di pasaran. Pendapatannya hanya 120 Juta USD, secara signifikan lebih rendah ketimbang dua prekuel sebelumnya. Secara kualitas, saya sendiri menilai kalau Salvation sedikit lebih baik daripada T3, tetapi masih jauh di bawah kedua film pertama franchise ini. Seakan menabur garam di atas luka, film serial The Sarah Connor Chronicles juga dihentikan di season keduanya karena rating yang terus anjlok. Apakah sudah saatnya franchise Terminator diterminate?
Verdict: Below Expectation

14. The Appearance of Legion (Smallville)
Sukses besar! Geoff Johns membuktikan kalau dirinya bukan hanya penulis komik yang piawai, tetapi juga seorang penulis skenario film yang handal! Legion bukan sekedar episode terbaik dalam Smallville season ini, tetapi juga membantu kebanyakan orang yang semula asing mengenal kumpulan superhero masa depan DC ini. Kalau kalian beranggapan menonton sejam Legion di Smallville tidak cukup, langsung saja cari tie-in Final Crisis: Legion of Three Worlds, juga dikarang oleh Geoff Johns.
Verdict: Above Expectation

13. Konoha VS Pain (Naruto)
Pertempuran antara Naruto dan Pain benar-benar dahsyat dan memukau. Jurus-jurus jutsu yang diperagakan dua pihak benar-benar luar biasa. Sudah lama saya tidak membaca pertarungan sedahsyat ini di Naruto. Dan itu semua ditutup dengan konklusi yang… jujur saja… sedikit mengecewakan. Bagaimana Naruto memutuskan untuk “tidak membenci dan mendendam” langsung mengubah keyakinan Pain terasa terlalu cepat dan gampang. Bukankah ini sosok yang bisa membunuh mantan gurunya tanpa merasa bersalah? Still, it’s a solid Naruto story arc.
Verdict: As Expected

12. Blizzard Big Year (Diablo III and Starcraft II)
Diablo III dan Starcraft II belum dirilis – dan mungkin tidak jadi dirilis tahun ini. Boo! Boo! Boo!
Verdict: No verdict

11. The Day Evil Finally Won Has Arrived (Final Crisis)
Dari semula saya selalu merasa bahwa karya Grant Morrison itu hit dan miss di mataku. Terkadang saya bisa sangat enjoy dengan gaya penuturannya, terkadang saya sama sekali tidak mengerti kalau dia sudah menggunakan dialog super aneh dari karakter-karakter DC yang sudah lama terlupakan. Ini membuat Final Crisis menjadi karya yang sulit kunilai. Sebagian diriku mencintainya karena format penceritaannya yang berbeda dengan event komik biasa, sebagian lagi membencinya juga karena format penceritaannya yang terlalu njelimet untuk kumengerti.
Verdict: Slightly Below Expectation

10. The Grandest Battle (One Piece)
Ini adalah sebuah pembuktian kenapa One Piece adalah satu-satunya raja Shounen Manga di Jepang sana. Oda-sensei merupakan satu-satunya mangaka yang mampu mengombinasikan unsur misteri, komedi, aksi, hingga drama dalam satu saga panjang yang luar biasa ini. Siapa yang menebak kalau Ace adalah anak dari Gold D. Roger misalnya? Siapa yang tidak terharu melihat Bon Clay sekali lagi mengorbankan dirinya demi keselamatan Luffy dan kawan-kawan? Siapa yang menyangka One Piece tetap bisa menjaga momentumnya walau tanpa karakter-karakter Bajak Laut Topi Jerami yang sudah kita kenal selama ini?
Verdict: Above Expectation

09. Akhirnya tahu dari mana Wolverine dapat kuku panjangnya itu (Wolverine)
Tak disangka, saya sebenarnya lebih menikmati Wolverine ketimbang film trilogi X-Men sebelumnya. Mungkin karena fokus yang hanya pada karakter Wolverine membuat saya lebih bisa bersimpati dan berempati kepadanya. Film ini tidak sempurna, mengingat mutant selain Wolverine hanya jadi sampingan (but then again; that’s why it’s called Wolverine right?), juga cerita antara Sabretooth dan Wolverine diubah (tapi malah menjadikan hubungan mereka lebih erat). Overall, it’s a solid summer blockbuster!
Verdict: As Expected

08. When Cobra Comes… Who’d You Call? (GI Joe)
Sayangnya, film ini belum dirilis ketika saya menulis artikel ini. Jangan khawatir, saya akan menulis review lengkapnya begitu film ini turun.
Verdict: No verdict

07. HADOUKEN! (Street Fighter IV)
Segala yang lama menjadi baru lagi dalam game ini. Begitu game ini keluar, semua orang seakan teringat akan demam Street Fighter lagi. Game keempat ini mengingatkan kita semua kenapa kita pernah menghabiskan masa kecil kita selama berjam-jam di arcade untuk berlatih mengeluarkan semua jurus jagoan kita… termasuk mengeluarkan Shoryuken di saat yang tepat untuk mengcounter Psycho Drive terkutuknya M. Bison itu. Mark my words: Street Fighter IV akan menjadi modern classic dari tahun 2009 ini!
Verdict: Above Expectation

06. A Neverending Journey (Final Fantasy XIII)
Dengan begitu banyaknya berita heboh mengenai Final Fantasy XIII dan segala versinya, sayangnya belum satupun dirilis – bahkan dengar-dengar game ini diundur lagi perilisannya.
Verdict: No verdict

05. What is Gantz? (Gantz)
Gantz menjadi salah satu manga yang mengecewakan tahun ini. Setelah kembalinya Kurono Kei, entah kenapa jalan ceritanya menjadi semakin amburadul. Saya tahu kalau Gantz selama ini selalu berada di ambang fantasi dan sci-fi, tetapi akhir-akhir ini jalan ceritanya makin ge-je dan membingungkan. Janji untuk mengungkap apakah Gantz juga terasa sangat bias dan kabur. Apabila tidak ada perbaikan signifikan di chapter-chapter berikutnya, nampaknya saya terpaksa meninggalkan Gantz.
Verdict: Below Expectation

04. Blasting Zombie’s Head (Resident Evil 5)
Begitu tingginya ekspektasi akan game ini karena Resident Evil 4 adalah satu-satunya kejatuhan game ini. Dengan tambahan bermain sebagai dua pemain, permainan yang sedikit lebih panjang, serta grafis next-gen yang membuat mata membelalak, Resident Evil 5 tidak melakukan perubahan apapun dari gameplay Resident Evil 4 yang dinilai banyak orang revolusioner. Ini adalah sebuah game ‘besar’ dan ‘oke’ tetapi ke depannya ia akan menjadi salah satu titel biasa yang terlupakan di tengah serbuan banyak game Resident Evil di masa depan (percayalah, bakalan banyak game Resident Evil yang dirilis lagi)
Verdict: Slightly Below Expectation

03. Lost Season 5 (Lost)
Hampir serupa dengan Resident Evil 5, season 5 Lost ini menderita karena dibandingkan dengan season sebelumnya yang hampir sempurna. Buat yang lupa, season keempat Lostlah yang membawa serial ini kembali dibicarakan orang setelah pada season ketiga menjadi sasaran kritik karena pacingnya yang terlalu lambat. Kelemahan season 5 terletak pada plot time travel yang melempar beberapa Islanders pada jaman lalu. Saya tahu Lost memang penuh dengan misteri dan sci-fi, tetapi memakai time travel secara berlebihan membuat saya jadi memikirkan mengenai konsep paradoks (padahal tanpa itu saja sudah banyak sekali kontroversi menyangkut Lost!)
Verdict: Slightly Below Expectation

02. Beware… For the Dead Shall Rise Again (Blackest Night)
Mari kita lihat siapa saja yang sudah dipersiapkan oleh Geoff Johns untuk menjadi Black Lantern. Ada Superman Earth Two. Ada Aquaman. Ada Elongated Man dan Sue Dibny. Ada Martian Manhunter. Kemudian di volume pertamanya Hawkman dan Hawkgirl sudah menjadi korban. Kemudian di Green Lantern #44, Hal Jordan dan Barry Allen sudah harus berduel dengan Jonn. Apa saya perlu mengatakan lebih banyak lagi? Saya rasa tidak. Blackest Night is – without a doubt – the best comic event of this year.
Verdict: Above Expectation

01. Transformers 2 and Watchmen
Oh Tuhan. Adalah dosa laknat menyatukan keduanya dalam satu kalimat. Saya bahkan tidak percaya saya telah melakukannya.

Watchmen adalah salah satu film superhero yang berani mendobrak tradisi. Bersama dengan Iron Man, Superman (yang pertama), dan Batman karya Christopher Nolan, ia akan selalu tergabung dalam film superhero favoritku sepanjang masa. Tidak banyak orang yang bisa mengerti ceritanya sehingga berakhir dengan menjelek-jelekkan Watchmen. Shame on those people. Untuk mereka yang membaca komiknya dan mengetahui karya Alan Moore, Watchmen might be the best superhero movie of all time just behind The Dark Knight. Definitely… ABOVE EXPECTATION

Transformers 2: Revenge of the Fallen. Gw tertipu oleh trailernya. Trailernya super keren. Dan prekuelnya juga lumayan dahsyat. Tapi film keduanya ini… adalah kumpulan dari: adegan ledak-ledakan, adegan drama yang tidak kalah picisan dengan sinetron Indonesia, adegan ledak-ledakan lagi, adegan drama yang menyedihkan, adegan ledak-ledakan (lagi), adegan komedi yang gak lucu sama sekali, dan tebak ditutup dengan apa? Yap. Adegan LEDAK-LEDAKAN LAGI.

Selain menaruh Transformers 2 sebagai hal yang paling kuantisipasi di tahun 2009, blunder terbesarku adalah tidak menaruh Star Trek dalam deretan list 15 besar di atas. Keterlaluan! Sungguh keterlaluan! Apabila keadaan di balik sekarang, saya akan menghapus Transformers 2 dari list di atas dan menggantinya dengan Star Trek. Remake dari Star Trek adalah comeback gemilang dari JJ Abrams dan juga film Star Trek yang telah lama didamba-dambakan para fans. Jangan sampai tidak menontonnya – atau kamu akan kelewatan apa yang mungkin saja menjadi film terbaik tahun ini.

Comments (10)

Tags: , , , ,

Seven Pounds

Posted on 28 July 2009 by Si Tukang Review

Seven Pounds Poster

Seven Pounds Poster

Ketika Seven Pounds dinyatakan sebagai reuni sutradara Gabriele Muccino dan Will Smith, film ini langsung menjadi film yang saya antisipasi. Duet keduanya dulu menghasilkan The Pursuit of Happyness (Pursuit), bagi saya masih merupakan salah satu drama terbaik yang pernah saya tonton. Dalam film ini, saya mengharapkan Muccino masih bisa menyorot dan menghidupkan nuansa yang sama: sendu tapi penuh pengharapan.

Pada awalnya, kamu tidak mengerti sosok Ben Thomas. Apa yang sebenarnya ia lakukan? Kenapa tingkah lakunya begitu aneh dan mencurigakan? Di awal film, ia sudah membentak, memaki, dan menghina seorang penerima telepon buta yang tidak tahu apa-apa. Anehnya, Ben seakan terpaksa melakukannya – dan ia merasa tersiksa melakukan hal tersebut. Selanjutnya kamu akan mulai melihat keanehan demi keanehan yang dilakukan Ben. Ia mencari data satu demi satu orang – lantas berkeliling dan menawarkan kebaikan kepada mereka. Kenapa? Apa motifnya melakukan hal tersebut? Apakah ia hendak melakukan sesuatu diam-diam kepada mereka?

Seven Pounds adalah sebuah film yang terselubung dengan misteri. Saya ingat bahwa saya sempat menonton trailer film ini di Youtube beberapa waktu lalu. Saya tidak mendapatkan petunjuk apapun mengenai ke mana film ini akan dibawa selain bagaimana seorang Will Smith akan mengubah hidup tujuh orang dalam film ini. Itulah yang menjadikan film ini menjadi menarik. Saya terkesan melihat bagaimana Ben kemudian menjalin hubungan dengan Emily, seorang pasien yang terkena penyakit langka, dan bagaimana hubungan keduanya bermula dari orang asing, teman, sahabat, dan kemudian saling cinta.

Motif di balik kenapa Ben berbuat demikian pun diungkap sedikit demi sedikit oleh Muccino. Dari waktu ke waktu, penonton akan diberi kilas balik dan petunjuk mengenai kenapa Ben bertindak seperti yang ia lakukan. Masalahnya dengan Seven Pounds sekali lagi terletak pada pacingnya. Kalau ada satu kelemahan dalam film Pursuit, bagi saya itu adalah waktu putarnya yang sedikit terlalu panjang. Akan tetapi, film tersebut memiliki jalinan naskah yang kuat dan arah yang jelas sehingga saya tetap tertarik menontonnya. Seven Pounds adalah kasus yang berbeda; melihat Ben melakukan tindakan-tindakan aneh selama beberapa menit sampai 30 menit awal mungkin menarik, tetapi lewat dari waktu satu jam membuat saya seakan hendak berkata “Okay! I get it! He’s a strange guy! Now can you tell me why he’s THAT strange?”. Oh, dan film ini bahkan tujuh menit lebih panjang dari Pursuit.

Untung saja Will Smith lagi-lagi memberikan performa yang mumpuni di sini. Setelah sebelumnya saya kecewa dengan penampilannya di Hancock, Smith seakan membayar lunas kekecewaan saya itu di sini. Ia menampilkan peran emosi yang berbeda-beda dalam diri Ben. Di satu sisi, ia hadir sebagai agen IRS (pajak Amerika) yang tegas dan penuh disiplin. Tetapi di lain sisi, ia juga seorang yang lembut dan penuh perhatian. Tapi di sisi terakhir dan yang paling menohok adalah dirinya yang seakan penuh penyesalan. Kita terus melihat Ben seakan menanggung beban yang begitu besar – dan meminta seakan untuk dimaafkan. Tetapi untuk apa? Kompleksnya karakter Ben ini rasa-rasanya hanya Smith seorang yang bisa menghidupkannya. Satu-satunya karakter pendukung di sini adalah Rosario Dawson sebagai Emily. Ia memberikan performa yang baik sebagai Emily yang takut meninggal, tertarik pada Ben, tetapi juga khawatir dan segan akan misteri yang menyelingkupinya.

Lepas dari semua pujian di atas, pada akhirnya walau Seven Pounds memberi sebuah twist di endingnya, twist tersebut datangnya terlalu terlambat. Endingnya membantu saya melihat film ini lagi dari sisi yang berbeda (dan mungkin akan membuat saya menontonnya lagi nanti kalau ada waktu), tetapi tonjokan emosional yang kudapat saat nonton Pursuit tidak kurasakan saat menonton film ini. Bukan film yang buruk, tetapi mengecewakan bagiku.

Score: 6.1

Movie Details
Director: Gabriele Muccino
Cast: Will Smith, Rosario Dawson
Running Time: 123 Minutes

Comments (3)

Tags: , , , ,

Run Fatboy Run

Posted on 27 July 2009 by Si Tukang Review

Run Fatboy Run Poster
Run Fatboy Run Poster

Kalau komedian nomer satu di Amerika saat ini adalah Ben Stiller, maka komedian nomer satu di Inggris jelas Simon Pegg. Sejak kesuksesannya menggarap parodi Dead seriesnya George Romero dengan Shaun of the Dead, Simon Pegg mendapat perhatian Hollywood karena gaya humornya yang pintar dan berbeda dengan tipikal Hollywood. Film keduanya; Hot Fuzz sekali lagi mendapat pujian karena cerita yang unik ditambah twist yang tak disangka-sangka menjelang endingnya. Oleh karena itu ketika saya menonton film How to Lose Friends and Alienate People, saya sangat kecewa melihat gaya komedi Pegg berubah total. Saya menyangka bahwa ini dikarenakan tuntutan studio Hollywood yang memaksa Pegg mengubah gaya kreatifnya – karena itu saya mencoba menonton Run Fatboy Run, film Inggris terakhirnya sebelum ia hijrah ke Hollywood.

Dennis Doyle mengalami apa yang dialami oleh hampir semua pria menjelang hari pernikahannya: panik. Ketika ia sadar bahwa pacarnya hamil dan mengajaknya menikah, Dennis mengiyakan begitu saja. Ketika hari H tiba, ia sangat menyesal akan keputusan itu. Ia kemudian melakukan hal yang nekat dan tak disangka-sangka: ia kabur dari istrinya. Libby sang istri jelas murka berat akan kelakuan Dennis. Walaupun semenjak hari itu Dennis berusaha berubah dan meminta maaf akan kelakuannya, Libby tidak pernah memaafkannya. Ia memang masih menemui Dennis, tetapi itu lebih dikarenakan ia tidak ingin Jake – sang anak – terasing dari ayahnya.

Suatu hari, Dennis menemukan fakta bahwa Libby menemukan seorang pria sempurna dalam diri Whit. Whit cerdas, percaya diri, sayang kepada Libby dan Jake, juga mampu secara finansial. Dia berbeda 180 derajat dari Dennis yang masih bekerja sebagai satpam dan uang sewa rumahnya selalu nunggak. Walau Dennis cemburu setengah mati, Libby tetap melanjutkan hubungannya dengan Whit. Masih karena terbakar api cemburu itu, Dennis membuktikan bahwa dirinya bisa berubah dengan cara mengikuti lomba maraton yang diikuti oleh Whit. Tapi buat Dennis yang suka merokok, perutnya kegendutan, dan badannya tidak fit, apakah ia bisa menyelesaikan lomba maraton yang dikenal penuh tantangan bahkan untuk para veteran?

Sekali lagi saya harus kecewa akan film ini. Walau Run Fatboy Run tidak seburuk How to Lose Friends, saya tetap merasa ada yang hilang dari film ini bila dibandingkan dengan dua film Pegg sebelumnya. Ada yang mengatakan bahwa Pegg kehilangan daya magisnya karena tidak lagi bermain dengan mitranya Nick Frost. Mungkin saja statement tersebut benar. Ketika melihat Pegg beradu akting dengan Dylan Moran (berperan sebagai Gordon – sahabatnya) saya selalu teringat dengan duet Pegg-Frost, walau perlu dicatat bahwa Moran juga sudah berusaha tampil total. Toh di antara semua aktrisnya yang sukses mencuri perhatianku adalah Harish Patel dengan logat India yang kental dan lucu.

Dalam satu wawancara yang saya baca, Pegg menyatakan bahwa ia ingin membagi film ini menjadi tiga segmen: komedi, hubungan drama keluarga, dan film olahraga. Hasilnya? Sebagai film komedi, film ini gagal karena terlalu banyak mengedepankan humor fisik (Pegg bahkan berakting menggaruk – maaf – bagian kemaluannya dengan manekin toko!), sebagai film olahraga pun tidak seberapa berhasil; ingat dengan adegan lari di akhir film? Ia berprospek menjadi seperti Rocky tapi potensi itu lagi-lagi tidak pernah tergali sempurna. Satu-satunya yang berhasil ditonjolkan oleh Pegg hanya bagian drama di mana saya bisa melihat sosok Dennis yang berusaha berubah menjadi ayah dan suami yang lebih bertanggung jawab guna memenangkan keluarganya kembali.

Film ini juga menjadi debut bagi David Schwimmer sebagai sutradara. Ternyata sosok yang biasa dikenal sebagai Ross Geller dalam Friends ini piawai juga dalam menyutradarai film. Sayang memang bahwa skenario orisinil dari Pegg sendiri terlalu lemah sehingga film ini terasa kurang secara kualitas. Toh, ini bisa menjadi awal bagi karir Schwimmer selaku sutradara.

Score: 5.6

Movie Details
Director: David Schwimmer
Cast: Thandie Newton, Simon Pegg, Hank Azaria
Running Time: 93 Minutes

Comments (0)

Tags: , , ,

He’s Just Not That Into You

Posted on 26 July 2009 by Si Tukang Review

He's Just Not That Into You Poster

He's Just Not That Into You Poster

Satu hal yang menarik dari film ini adalah walaupun dia diangkat dari buku, berbeda dengan The Devil Wears Prada atau Confessions of a Shopaholic yang disadur dari novel sukses, film ini justru diangkat dari buku self-help dengan judul yang sama. Yang lebih menarik lagi, buku tips hubungan dengan judul yang sama ini mendapatkan namanya dari dialog di salah satu episode serial TV Sex and the City.

Melihat sederet bintang tenar yang tergabung dalam film ini, mudah menebak bahwa film ini akan mengambil format penceritaan beberapa jalan cerita bersamaan; format yang sama dengan yang dipakai oleh Love Actually. Secara garis besar, film ini terbagi dalam tiga kisah cinta.

Pertama, Beth dan Neil adalah pasangan yang sudah tinggal bersama (bahasa kasarnya: kumpul kebo) selama tujuh tahun. Sebagai wanita, Beth khawatir kenapa Neil tidak melamarnya. Neil sendiri beralasan tidak percaya pada konsep pernikahan dan merasa bahwa asal mereka bisa tinggal bersama dan saling mencintai, itu sudah cukup. Tapi apakah itu juga cukup bagi Beth?

Kedua, Janine dan Ben. Pasangan yang baru menikah ini tengah mengalami krisis cinta. Ben merasa kalau Janine terlalu terburu-buru memaksanya menikah dan sekarang ia kini melakukan hubungan perselingkuhan dengan seorang gadis bernama Anna. Rahasia-rahasia ini membuat hubungan Janine dan Ben makin merenggang. Siapakah yang nantinya akan dipilih Ben? Tanpa diketahui oleh Ben, Anna juga tengah menjalin hubungan tanpa status dengan seorang cowo lain bernama Conor. Conor mencintai Anna – tetapi Anna hanya menganggapnya sebagai teman baik.

Terakhir adalah Gigi dan Alex. Gigi adalah gadis yang tidak pernah jatuh cinta. Ia berulang-kali ditolak, berulang-kali dipermalukan oleh para pria, tetapi setiap kali juga ia berhasil bangkit dan kembali berjuang mencari cinta yang baru. Alex – seorang cowo yang kebetulan ditemuinya – merasa kasihan kepada Gigi dan berusaha memberinya tips-tips mengenai perasaan pria saat berhubungan dengan wanita. Tanpa sadar, Gigi yang pertama menganggap Alex sebagai teman kini mulai jatuh hati padanya. Tapi apakah Alex juga merasakan hal yang sama?

Sebagai sebuah film komedi romantis, He’s Not That Into You tergolong panjang. Total waktu putarnya hampir 130 menit! Tapi karena waktu tayang yang panjang ini, filmnya juga terasa lega dalam menyorot tiap-tiap karakternya. Sutradara Ken Kwapis tidak melulu menyorot bergantian karakter-karakter dalam film ini, tetapi memberi semua skenario waktu yang cukup untuk berkembang. Walau pembangunan tensi terasa agak pelan di pertengahan awal, hasilnya terasa saat paruh kedua; mengingat penonton kini memiliki ikatan emosional dengan karakter-karakter di layar dan bisa bersimpati dengan konflik yang mereka alami.

Saya juga salut bahwa tema cinta yang diangkat cukup universal dan bisa direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari (mungkin karena ia diangkat dari buku self-help?). Tema-tema seperti perselingkuhan, bohong dalam pernikahan, sampai masalah mertua semua disebutkan dalam film ini. Untungnya saja penggunaan warna-warna yang cerah dan beberapa karakter ‘ceria’ membuat film ini masih bisa menyeimbangkan unsur komedi dan dramanya. Walaupun saya pribadi lebih suka Love Actually, saya harus mengakui kalau He’s Not That Into You lebih real dalam membeberkan fakta-fakta hubungan percintaan.

Menurut saya hanya ada satu kelemahan dalam film ini, yakni bagaimana mereka berusaha menautkan karakter Anna (yang dimainkan oleh Scarlett Johansson) ke dalam dua cerita. Selain membuatnya selingkuhan Ben, ia juga diposisikan sebagai sosok yang mempermainkan hati Conor. Praktis di antara semua karakter ‘normal’ dalam film ini, Anna jatuh dalam posisi si ‘penjahat’. Yah setidaknya Johansson memang punya muka yang sedikit – maaf – bitchy sehingga pas untuk peran wanita penggoda.

Baik kamu masih pria atau wanita, single, pedekate, baru putus, pacaran, atau menikah… saya sarankan menonton film ini. He’s Not That Into You mungkin akan membuka persepsi baru bagaimana kamu memandang pasanganmu. Hm… saya jadi penasaran, mengingat film ini lumayan sukses apakah Hollywood akan mulai mengadaptasi buku-buku self-help untuk dijadikan film?

Score: 7.5

Movie Details
Director: Ken Kwapis
Cast: Ginnifer Goodwin, Jennifer Aniston, Jennifer Connelly, Justin Long, Ben Affleck, Drew Barrymore
Running Time: 129 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , , ,

Ultimate Spider-man

Posted on 26 July 2009 by Si Tukang Review

Ultimate Spider-man Cover

Ultimate Spider-man Cover

Ultimate Spider-man adalah komik yang berjasa membuatku seorang penggemar komik sampai sekarang ini.

Oke, bagi kalian yang rajin membaca-baca reviewku mungkin heran lantas bertanya: “Bukankah Superman: Red Son adalah komik pertama yang kubaca dan kugemari?”. Memang benar kalau komik tersebut adalah komik Amerika modern pertamaku – tetapi Red Son hanya sebuah mini-seri. Saya rasa merupakan rahasia umum kalau kebanyakan mini-seri memiliki cerita yang berdiri sendiri sehingga kualitasnya lebih terjaga. Nyatanya, setelah usai membaca Red Son, saya masih belum tertarik untuk membaca komik Superman dan Batman yang nomernya sudah mencapai ratusan. Saya masih terperangkap dalam model pikiran lama kebanyakan orang: sejarah yang puluhan tahun berarti membingungkan dan tidak ramah terhadap pembaca baru.

Suatu ketika, saya iseng-iseng membaca Ultimate Spider-man, semata-mata karena ingat bahwa dulu komik ini pernah diterbitkan di Indonesia (tetapi baru berjalan beberapa edisi kemudian ‘menghilang’ karena rendahnya penjualan). Baru membaca sampai selesai edisi pertamanya, saya sudah ketagihan dengan komik ini dan terus mengikutinya hingga sekarang. Bulan lalu, berikut dengan keputusan Marvel mereformasi dunia Ultimate, Ultimate Spider-man pun diakhiri dan akan diterbitkan ulang dengan titel yang baru dan volume yang kembali pada nomer 1.

Sebelum kalian kebingungan apa itu Ultimate Spider-man dan apa bedanya dengan Spider-man yang biasa kita kenal, ada baiknya kita menilik sejarah komik Marvel di awal era milenium.

Pada saat itu industri komik baru berbenah dari krisis yang sempat menghancurkan industri perkomikan di Amerika. Saat itu, Brian Michael Bendis sebagai seorang penulis baru tengah memikirkan untuk memberi cerita dunia alternatif untuk Spider-man. Dia beranggapan Spider-man yang lama tidak lagi relevan dan tengah dibenci fans karena cerita Clone Wars yang ribet. Dari sana, Bendis mengajukan proposal tentang kisah sepak terjang Spider-man muda saat SMU. Marvel menyukai ide Bendis dan dari sana lahirlah Ultimate Spider-man. Ultimate Spider-man langsung mendapatkan perhatian banyak pembaca karena merupakan serial baru di dunia sendiri yang bebas dari segala sejarah kompleks dunia Marvel lama. Dunia itu kemudian disebut sebagai Ultimate Universe yang membidani lahirnya cerminan-cerminan Marvel di sana: Ultimate X-Men, Ultimate Fantastic Four, dan The Ultimates (The Avengers versi dunia Ultimate).

Apa yang membuat Ultimate Spider-man disukai oleh pembaca? Jawabannya sederhana: kualitas yang konstan dari awal hingga akhir. Komik Amerika memang berbeda dengan manga Jepang; setiap dua hingga tiga tahun sekali mereka berganti tim kreatif. Bisa ditebak bahwa dengan pergantian tim kreatif tersebut titelnya pun dibawa ke arah yang berbeda. Ini membuat kualitas sebuah komik tidak konstan. Ultimate Spider-man terbebas dari masalah itu. Sedari awal hingga akhir, Brian Michael Bendis merupakan satu-satunya orang yang membidani kelahiran tiap volumenya. Ini memberi titel tersebut sebuah jalan cerita yang jelas. Setiap tahun Bendis akan memberi kita bayangan ke mana ia akan membawa cerita Ultimate Spider-man, dan ia selalu memenuhi harapan kita dengan jalan penceritaannya yang segar dan kreatif. Karena titel ini jugalah Bendis kemudian dikenal sebagai salah satu penulis jempolan Marvel. Di Ultimate Spider-man juga, Bendis nantinya akan dikenal sebagai penulis yang mengedepankan dialog-dialog yang tajam dengan humor yang cerdas. Ini membuat Bendis menjadi penulis yang tepat untuk Spider-man yang memang dikenal tidak hanya atletis dengan badannya tetapi juga cepat dan kocak dalam omongannya.

Dua sosok lain yang berjasa penting menghidupkan dunia ini selain Bendis adalah Mark Bagley dan Stuart Immonen sebagai artisnya. Ini lagi-lagi menunjukkan konsistensi komik ini. Mark Bagley bekerja sama dengan Bendis selama kurang lebih 10 tahun dan menggambar 111 edisi Ultimate Spider-man (belum termasuk edisi spesialnya). Dalam dunia komik yang pergantian artis biasa terjadi sekitar setengah tahun hingga setahun sekali, kerjasama keduanya sangat luar biasa – bahkan tercatat sebagai yang terpanjang dalam sejarah – melewati rekor Stan Lee dan Jack Kirby dalam Fantastic Four. Mark Bagley bukan artis terbaik dunia komik, tetapi ia dikenal sebagai artis yang tepat waktu dan konstan dalam karyanya. Inilah alasan kenapa Ultimate Spider-man tidak pernah absen atau terlambat terbit tiap bulannya. Ketika Bagley pindah ke DC setelah edisi 111, kekonstanan ini jugalah yang membuatnya diserahi menjadi ilustrator utama serial mingguan Trinity. Ketika Bagley pergi dan Immonen menggantikannya, saya sempat khawatir bahwa akan terjadi perbedaan kualitas. Kekhawatiran saya berlebihan. Walau perlu beradaptasi dalam satu dua edisi, Immonen mengambil tongkat estafet dari Bagley dan menghidupkan komik ini dengan gayanya sendiri dan memadukannya dengan gaya Bagley yang sudah kadung dicintai penggemar Ultimate Spider-man.

Hampir satu dekade kemudian, dunia Ultimate yang pada awalnya dipuji sebagai dunia yang segar dan bebas sejarah memusingkan mulai menjadi sasaran kritik karena penurunan kualitas tiap titelnya. Ultimate X-Men dan Ultimate Fantastic Four dikritik karena dianggap tidak membawa sesuatu yang baru. The Ultimates amburadul begitu dipegang oleh Jeph Loeb. Toh setiap kritikus tetap seiya sekata ketika mereview komik ini: Ultimate Spider-man dipandang sebagai satu-satunya komik yang menopang dunia Ultimate seorang diri; satu-satunya komik yang berkualitas. Tetapi sayangnya itu tidak cukup. Joe Quesada sebagai editor Marvel memutuskan untuk merombak seluruh dunia Ultimate (melalui serial Ultimatum – akan saya review begitu edisi kelima sekaligus terakhirnya terbit). Quesada berkata bahwa akan ada titel-titel yang dihentikan penerbitannya dan ada beberapa yang mengalami restrukturisasi ulang. Toh dalam benak setiap pembaca tidak ada keraguan bahwa Ultimate Spider-man pasti akan kembali terbit.

Bagi kalian yang baru dalam dunia komik, Ultimate Spider-man adalah komik yang saya rekomendasikan untukmu. Saya seorang newbie ketika pertama kali membaca komik ini dan sama sekali tidak kesulitan untuk mengikuti cerita di dalamnya. Selamat berpetualang bersama Peter Parker muda dan dunia remaja yang berayun di sekelilingnya!

Score: 9.0

Graphic Novel Details
Writer: Brian Michael Bendis
Penciller: Mark Bagley, Stuart Immonen
Publisher: Marvel Comics

Comments (0)

Tags: , ,

The Pink Panther 2

Posted on 24 July 2009 by Si Tukang Review

The Pink Panther 2 Poster

The Pink Panther 2 Poster

Seusai saya menonton film ini, yang pertama saya tanyakan adalah: “Bagaimana mungkin artis seberbakat Andy Garcia dan Alfred Molina merendahkan diri mereka untuk bermain dalam film setidak-bermutu ini?”. Sebelum saya mengatakan apapun lebih lanjut, saya akan membacakan keputusan saya tentang film ini: The Pink Panther 2 adalah kandidat film terburuk tahun ini bersaing dengan Dragonball: Evolution dan Street Fighter: The Legend of Chun-Li.

Setelah film pertamanya sukses (walaupun secara kualitas sudah sangat buruk) Steve Martin kembali sebagai Inspektur tolol Clouseau untuk menginvestigasi hilangnya permata The Pink Panther. Tapi kali ini Clouseau tidak bekerja sendirian! Seorang pencuri terkenal bernama The Tornado sudah berkeliling ke berbagai negara mencuri artifak terkenal negara-negara tersebut. Kali ini Clouseau bekerja sama dengan detektif dari Jepang, Inggris, dan Italia untuk memecahkan misteri ini. Seperti yang bisa diduga, Clouseau masih saja setolol dirinya dulu dari film pertama.

Yang membuat saya tersinggung dalam film ini adalah humornya. Saya bisa menerima berbagai jenis humor selain humor yang berbau SARA. Herannya, The Pink Panther 2 berulang kali mengabuse humor bertipe ini. Salah satu contohnya adalah Clouseau yang seenak perutnya memanggil detektif dari Jepang sebagai “manusia kecil dari timur”. Itu sangat – sangat tidak lucu dan menyinggung perasaan. Contoh lain adalah ketika Clouseau dengan seenaknya memakai pakaian Paus, menduduki topi Paus, dan melompat-lompat ala Paus di balkon Vatikan. Saya tahu ini film komedi, tetapi tetap ada garis batas yang tidak boleh dilanggar dalam komedi. Bagiku, humor semacam ini tidak membuatku merasa lucu – tetapi merasa gerah.

Dan karena kita tidak simpatik dengan Clouseau, sulit untuk mendukungnya walau ia berposisikan sebagai underdog sepanjang film. Inilah yang membuat The Pink Panther 2 kian kehilangan pesonanya (atau bisa jadi satu-satunya daya tariknya). Bandingkan dengan serial Chuck misalnya. Chuck memang bloon dan tolol, dia juga tidak bisa bela diri, tetapi dalam setiap episode ia selalu berusaha melakukan apa yang ia bisa – dan terkadang ia bisa membantu teman-temannya dengan cara uniknya sendiri. Ini membuat kita selama menonton Chuck selalu mendukung si underdog. Perasaan tersebut tidak muncul selama saya menonton film ini. Yang ada justru: kapan Clouseau mendapat ganjaran untuk ulah-ulahnya? Walaupun akhir film seperti biasa selalu menunjukkan keberpihakan pada sang tokoh utama toh saya (dan kurasa kebanyakan penonton) sudah keburu antipati dengan ulahnya.

Tidak ada yang istimewa dari permainan para artis dalam film ini. Selain Steve Martin yang diberi kesempatan berakting semaksimal mungkin (untuk membuat kita jengkel), karakter lain praktis hanya dijadikan bahan ledekan atau karakter tolol. Sakit kepalaku melihat artis kaliber macam Jean Reno, Andy Garcia, sampai Alfred Molina disuruh berlarian ke sana-sini, tertawa bagai badut bodoh dan terpeleset jatuh ala penjahat di film Home Alone. Aduh duh duh… Kini saya mengerti kenapa Beyonce menolak bermain lagi di film ini setelah membaca skenarionya.

Jauhi film ini. Humor yang kasar, cerita yang tolol, akting yang lemah membuat film ini gagal total ketika dirilis di Box Office Amerika Februari lalu – dan saya sungguh-sungguh berharap tidak ada film ketiga yang dirilis untuk menggenapi trilogi The Pink Crap ini.

Score: 2.0

Movie Details
Director: Harald Zwart
Cast: Steve Martin, Jean Reno, Alfred Molina, Aishwarya Rai, Andy Garcia
Running Time: 92 Minutes

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here