Y: The Last Man (Volume Five: Widow’s Pass & Tongues of Flame)

Dalam story arc terakhir, Vaughan meninggalkan citra Y yang biasanya penuh dengan adegan aksi untuk menggali lebih dalam sisi moral Yorick. Di akhir Safewords, karakter Yorick berubah secara drastis. Saya tidak mengatakan kalau Yorick kini menjadi seorang yang super serius. Yorick tetap Yorick yang dulu. Ia suka ngocol, mengucapkan one-liner penuh candaan supaya suasana di sekelilingnya tidak terlalu serius, dan menghadapi dunia di sekelilingnya dengan tawa.

Tapi di balik Yorick yang lama, tersimpan jugalah Yorick yang baru. Bisa dibilang inilah langkah awal yang diambil Yorick untuk menjadi seorang pria sejati.

Inilah yang berusaha untuk diekspos oleh Vaughan dalam story arc selanjutnya. Di Widow’s Pass, Yorick dan teman-temannya menemui kesulitan karena jalan raya (highway) yang seharusnya mereka lalui terblokir. Karena perbedaan pendapat antara agen 355 dan Dr Mann, grup tiga orang Yorick malah terpecah-belah.

Setelah sukses melalui highway, Yorick menyelinap sebentar ketika kedua rekannya tengah tertidur untuk pergi ke sebuah gereja. Tujuannya hendak membuat pengakuan dosa malahan menjadi bumerang ketika ia bertemu dengan seorang gadis cantik di sana. Yang lebih ironis, gadis itu juga bernama Beth; persis dengan nama pacar yang tengah dituju oleh Yorick. Dari judul Tongue of Flame saja, saya yakin kalian sudah tahu apa yang bakalan terjadi kemudian antara keduanya bukan?

Widow’s Pass sendiri tidak terlalu menarik di mata saya. Jujur saja, ide cerita Vaughan terlalu kering di sini. Tema gadis-gadis psikopat sudah terulang dua kali melalui Daughters of Amazon dan tentara Israel. Rasanya tidak perlu tema yang sama lagi-lagi diangkat. Kesannya Vaughan hanya membuang tiga volume Y tanpa mengembangkan karakternya lebih lanjut. Memang sih ada beberapa adegan menarik seperti bagaimana Yorick ‘baru’ kini bertindak atau bagaimana Agent 355 pertama kalinya menunjukkan kemampuannya seorang diri melawan banyak musuh, tetapi tidak ada apapun yang orisinil maupun menarik – kecuali dari tiga halaman terakhir arc ini (dan itupun tidak menyangkut petualangan ketiganya).

Tongue of Flame yang seharusnya menjadi filler semata justru jauh lebih menarik. Hubungan antara Yorick dan Beth Dua langsung ngalir begitu saja – dan keduanya tampak langsung klop dari awal pertemuan mereka. Walau setengah diriku sedikit tidak setuju dengan hubungan yang mereka lakukan, apa iya bisa menyalahkan Yorick? Ingat kalau dia adalah satu-satunya cowo di dunia, dan sudah dua tahun berlalu semenjak bencana yang menghapus umat manusia. Sampai berapa lama lagi ia harus ‘menunggu‘? Dan jangan keburu mendiskreditkan cerita dalam Tongue of Flame, karena ia akan memiliki implikasi yang besar di masa depan cerita ini.

Secara keseluruhan volume kelima mengalami penurunan kualitas dibandingkan keempat volume sebelumnya. Vaughan gagal mengangkat topik yang orisinil seperti yang sudah ia lakukan sebelum-sebelumnya. Mari kita berharap kalau performanya kembali meningkat pada volume berikutnya.

Score: 7.7

Graphic Novel Details
Writer: Brian K. Vaughan
Penciller: Pia Guerra
Publisher: DC Comics (under Vertigo Imprints)
Volume: 21 – 25

Love It? Share It!
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Google Buzz
  • Plurk
  • Technorati
  • Tumblr

Tags: , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply