My Super Ex-Girlfriend Poster
Superhero genre bisa dibilang sebagai ladang emas dari pendapatan Box Office. Banyak sekali superhero menjadikan temanya bervarisi. Salah satu variasi cerdas itu adalah My Super Ex-Girlfriend. Mungkin karena saya dipuaskan dengan Sky High yang tahun 2006 lalu berupa film superhero yang dicampur dengan genre remaja dengan suksesnya, saya pun memiliki ekspektasi tinggi dengan My Super Ex-Girlfriend yang bertipe superhero dengan campuran genre komedi romantis di dalamnya.
Temuilah G-Girl. Dia adalah superheroine yang menjaga kota New York dari segala mara bahaya yang mengancam. Tentu saja ia juga memiliki musuh seorang super villain bernama Professor Bedlam. Sekarang, temui juga seorang biasa-biasa saja bernama Matt Saunders. Ia sudah lama naksir berat dengan rekan kerjanya Hannah Lewis. Sayangnya, sang rekan kerja malah sudah punya pasangan dan tidak bisa membalas cintanya. Akhirnya ia cuma menghabiskan malam-malam jomblonya bersama sang sobat. Tidak lama setelah itu, Matt bertemu dengan seorang gadis biasa bernama Jenny Johnson. Jenny Johnson terbukti menjadi seorang cewek yang pemalu tetapi cukup agresif (baca: sinting). Jenny Johnson ini tidak lain adalah sang G-Girl! Ketika Matt mempelajari bahwa sang superheroine ternyata sedikit sinting, ia terpaksa memutuskannya. Tentu saja G-Girl marah besar. Ia menghancurkan segala barang milik Matt, mulai atap rumahnya, mobilnya, hingga terus menerus menganggu Matt dalam memiliki hubungan romantis dengan para gadis lain.
Premisenya menjanjikan. Sangat menjanjikan malah. Itulah yang membuat saya menyayangkan kenapa film ini sekali lagi dieksekusi dengan begitu over oleh Ivan Reitman. Mungkin sang sutradara ingin menekankan betapa lucunya komedi dalam film ini, tetapi tanpa sengaja ia justru mengorbankan karakter dalam film ini. Rasanya semua karakter dalam film ini terlalu satu dimensi. G-Girl misalnya digambarkan sedikit sinting. Matt sendiri tergambar sebagai pribadi pria yang culun. Vaughn sang sahabat malahan sangat-sangat menyebalkan dibanding lucu, dan Hannah tampil sebagai seorang gadis cantik yang tidak berotak. Stereotip. Profesor Bedlam memang diceritakan mengenai sedikit masa lampaunya, tetapi itu malahan mengumbar bagaimana plot cerita secara keseluruhan.
Akting para pemain pun tidak bisa mengangkat film ini semenjak karakter yang mereka perankan sudah terlalu lemah. Thurman misalnya jauh dari penampilannya sebagai The Bride yang penuh karakter, lagipula penampilannya yang tua kelihatannya membuat julukan G-Girl kok kurang pantas disemat olehnya. Luke Wilson pun tidak bisa tampil benar-benar lucu. Anna Faris hadir bisa dibilang hanya untuk penyedap mata. Eddie Izard malahan sangat-sangat menyebalkan (sekali lagi saya terpaksa menekankan, karena saya tidak pernah menonton comical relief dalam film yang lebih menyebalkan tingkahnya ketimbang dia). Lalu ceritanya sendiri juga terkesan terlalu komedi. Sulit membayangkan benar-benar ada superheroine semacam G-Girl yang tampak malah lebih jahat ketimbang Profesor Bedlam sendiri. Kemudian pamungkasnya walau secara keseluruhan bisa ditebak, untungnya masih menyisakan sedikit kejutan (walau tidak sanggup lagi menolong cerita film ini secara keseluruhan).
Akhirnya, My Super Ex-Girlfriend menjadi tontonan yang tanggung, dibilang sebagai dark comedy yang menertawakan superhero (ala Bad Santa) tidak bisa. Sementara untuk disebut sebagai komedi-romantis, rasanya film ini terlalu berbau vulgar. Yang jelas, jangan mentang-mentang ada tema superhero di dalamnya, anda mengajak anak anda menonton film ini bersama anda!
Score: 4.5
Movie Details
Director: Ivan Reitman
Cast: Uma Thurman, Luke Wilson, Anna Faris
Running Time: 95 Minutes















