Sampai di story arc ketiganya, saya bertanya kepada diri saya sendiri. Apa yang menjadikan Y tidak kehilangan daya tariknya? Apa yang menjadikan Y kian dalam dan kian menarik? Jawabannya mungkin hadir dalam konsistensi penulis dan penggambarnya. Penulisan cerita serta dialog tajam dari Vaughan (“If you ever tell your mother about this, I’ll kill you myself” membuat saya tertawa terbahak-bahak) berhasil dihidupkan adegan demi adegannya oleh Pia Guerra.
Perlu diketahui dalam industri komik Amerika bahwa tim kreatif sebuah komik tidak selalu sama. Ambil contoh Spider-man. Sejak diciptakan oleh Stan Lee puluhan tahun lampau, tidak terhitung berapa banyaknya penulis dan artis yang sudah menghelmi komik ini. Walhasil, terkadang komik seakan kehilangan arahnya. Contoh paling jelas terjadi saat alur cerita One More Day. Semua sejarah Spider-man selama enam tahun terakhir mendadak saja direboot ulang karena dianggap tidak lagi pas dengan pembaca jaman sekarang. Hal yang sama tidak akan terjadi pada Y karena ia sudah diplot sepanjang 60 edisi, bahkan Vaughan sudah menuliskan endingnya ketika edisi pertama diterbitkan.
Nah, story arc ketiga yang berjudul One Small Step ini membuka tabir baru. Yorick memang manusia terakhir di bumi, tetapi ia bukan manusia terakhir di antariksa. Di luar angkasa, masih tersisa dua orang astronot Amerika, dan seorang kosmonot Rusia. Berita menggembirakannya adalah dua di antara mereka adalah pria! Dalam perjalanan mereka, Yorick, Agent 355, dan Dr Mann tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis Russia bernama Natalya Zamyatin. Ternyata Natalya – sebagaimana halnya Agent 355 – adalah seorang agen rahasia dari negeri Russia. Ia dikirim untuk mengambil kembali sang kosmonot dari negerinya.
Merasa beban beratnya sebagai manusia terakhir di bumi hilang, Yorick dan kedua rekannya memutuskan untuk menemani Natalya menjemput ketiga penjelajah antariksa itu dan menuju ke posisi pendaratannya. Satu hal yang tidak diduga keempatnya adalah ibu Yorick menyangka bahwa anaknya diculik dan menghubungi para tentara Israel untuk mengambil kembali anaknya. Para tentara Israel kini menjadi pasukan tertangguh di dunia karena para wanitanya sudah biasa dikirim ke medan perang, berbeda dengan para tentara wanita Amerika yang jarang maju ke medan perang sendiri. Yang lebih tidak terduga lagi adalah Alter – pemimpin tentara Israel ini tidak hanya memburu Yorrick untuk dikembalikan kepada ibunya – tetapi juga untuk membiakkan dan mengembalikan kejayaan bangsa Israel.
Walau berfokus pada dua cerita utama di atas, Vaughan tidak lupa menyisipi berbagai elemen untuk menjadikan ceritanya kian hidup. Beberapa contoh sederhananya seperti beberapa gadis mencoba mencari untung dengan merubah diri sebagai cowo. Atau kondisi negara Russia dan Israel selepas mereka kehilangan para cowo di negeri mereka. Memang pembaca tidak dibawa melihat adegan-adegan itu tetapi dialog-dialog yang terjadi antar para karakter membantu kita lebih memahami apa yang terjadi di dunia di luar Amerika.
Sekali lagi, Y: The Last Man membuktikan dirinya sebagai graphic novel yang berkualitas. Saya sudah katakan ini, dan saya akan katakan sekali lagi: jangan lewatkan serial ini.
Score: 9.5
Comic Details
Writer: Brian K. Vaughan
Penciller: Pia Guerra
Publisher: DC Comics (under Vertigo Imprints)
Volume: 11 – 15
















