Crash Poster
(Berhubung film ini sudah beredar lebih dari tiga tahun yang lalu, ada beberapa spoiler yang tak saya tutupi ketika mereviewnya)
Director: Paul Haggis
Cast: Sandra Bullock, Don Cheadle, Matt Dillon, Michael Pena
Running Time: 113 Minutes
Siapa yang tahu Crash sebelum Oscar tahun lalu dimulai? Sangat sedikit saya rasa. Semua orang sibuk mengagung-agungkan kehebatan Ang Lee mengambil lansekap cantik dan betapa beraninya Brokeback Mountain mendobrak batasan dengan memperkenalkan kaum koboi (notabene menunjukkan kejantanan) gay. Betapa terbengong-bengongnya semua orang (termasuk saya) ketika bukan Brokeback Mountain yang memenangkan Academy Award untuk Best Picture melainkan Crash. Crash? Apa tuh film? Kelihatannya saya saja tidak pernah nonton dan dengar. Apa iya sebagus itu sampai bisa merontokkan Brokeback Mountain? Saya mulai tertarik akan film ini dan berusaha mencari tahu tentang film yang konon berceritakan mengenai bentrokan antar ras di kota Los Angeles.
Crash bercerita mengenai beberapa kelompok orang di Los Angeles yang terkena satu masalah dengan lainnya. Ada orang kulit putih, kulit hitam, Korea / Cina alias orang Asia, orang Latin Meksiko, hingga orang Persia Arab yang mewakili Timur Tengah. Semua golongan ini memiliki masalah mereka sendiri dan ketika masalah-masalah mereka berbenturan, tak bisa disangkal kalau tema rasial kemudian diangkat dan dipergunjingkan. Setiap ras berbentrokan dengan ras lainnya – dan ketika emosi tak lagi bisa ditahan, hilanglah sudah perasaan saling menghargai antar ras. Setiap karakter di sini memberikan performa maksimal mereka untuk menghidupkan jalan cerita. Mungkin beberapa yang perlu diberi kredit khusus adalah empat karakter yang saya sebutkan di atas. Mereka berempat masing-masing memiliki kekuatan untuk menggerakkan film ini dengan permainan mereka (keempat karakter ini masing-masing memiliki adegan masing-masing yang sangat kuat dan menurut saya bisa menjadi nyawa dari film ini). Saya sungguh terkesan dengan bagaimana Paul Haggis mampu meramu semuanya menjadi satu alur cerita yang penuh.
Paul Haggis sama sekali tidak menahan dirinya dalam membuat film ini. Semua tema rasial tanpa ditutup-tutupi dilemparkan ke dalam film ini. Emosi penonton jadi serasa diaduk-aduk dari awal sampai akhir ketika semua karakter ternyata hanyalah manusia yang bisa kesal, dan juga memiliki kepentingan mereka masing-masing. Banyak kata-kata yang mungkin akan sangat mengena di hati ketika dikatakan. Ambillah contoh ketika Sandra Bullock memeluk pelayannya sambil mengatakan bahwa sang pelayan mungkin adalah satu-satunya sahabat yang ia punya. Atau bagaimana ketika pistol sang pria Persia itu menyalak tepat di hadapan Daniel dan anak gadisnya. Puncaknya mungkin ketika seorang harus meregang nyawa untuk sebuah kesalahpahaman yang begitu menyedihkan. Adegan-adegan ini digambarkan dengan simpel dan sederhana oleh Haggis, tetapi malahan sangat mengena. Saya ingat film ini dahulu pernah diputar di Indonesia – dan saya tidak seberapa peduli. Sekarang menyadari isinya yang cukup tabu seperti ini – saya jadi heran dan tidak menyangka kalau dulu film ini bisa lolos dari lembaga sensor Indonesia.
Film ini mengajarkan begitu banyak hal kepada saya. Bahwa setiap orang memang memiliki jiwa rasialis di dalam hatinya, hal tersebut rasanya tak terhindarkan. Mungkin tidak hanya diskriminasi soal ras semata, tetapi juga agama, dan hal lainnya. Toh, terlepas dari semuanya itu, jauh dalam lubuk hatinya – setiap orang juga tetap memiliki kemampuan untuk berbuat baik. Film ini mengajarkan kepadaku bahwa untuk bisa hidup berdampingan dengan orang lain, kita perlu saling mengenal dan juga saling ber’senggol’an. Terakhir, kita pun harus memiliki tenggang rasa yang tinggi kepada sesama. Klise mungkin – tetapi jelas disampaikan dengan lebih mengena oleh Crash ketimbang buku pelajaran PPKn saya semasa sekolah dulu. Crash adalah sebuah film yang membuka mata saya dan masuk ke dalam salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Paul Haggis kelihatannya bisa menjadi satu nama yang patut kuperhitungkan setelah ini. Terima kasih, karena memberi saya kenikmatan menonton film setelah sekian lama saya melupakannya.
Score: 9.0


















“Crash adalah sebuah film yang membuka mata saya dan masuk ke dalam salah satu film terbaik yang pernah saya tonton”
CRASH pantas mendapatkan penghargaan lebih dari apa yang sudah didapatkan sejauh ini. Ditonton berulang-ulang pun sepertinya tak akan membosankan. Yang membuat emosi serasa diaduk-aduk adegan saat istri sang sutradara dilecehkan secara seksual oleh polisi yang rasis. Ah… Kemanalah aku menaruh DVD film ini ya…